Hal Yang Kita Bicarakan Sebelum Gelap Tiba

Bak penyair yang sedang membaca puisinya, kau menengadahkan tangan ke atas “tak ada yang lebih tabah dari hujan bulan Juni…….” sambil menarik nafas ke bait berikutnya, kau menengok ke arahku.

dengan sigap kujawab “ada”

“diam. Aku belum selesai” keluhmu

“kamu melihat ke arahku tadi”

“itu gimmick, bodoh”

Tanganmu menyelinap dari atas ke bawah “..dirahasiakannya rintik rindunya….” setiap tarikan nafas terlihat kau berpikir gaya apa yang turut mewakili syair itu “kepada pohon berbunga itu.” jarimu mekar menutup bait pertama.

Continue reading “Hal Yang Kita Bicarakan Sebelum Gelap Tiba”

Tentang Hal-Hal yang Mungkin Kita Lakukan Sambil Bermalas-malasan

Kelak, kau tak perlu mencari dalih untuk menonton drama korea dengan tenang. Kau bisa lakukan itu satu hari satu malam disertai tangis dan rasa gemas membayangkan dirimu dalam skenario. Aku tidak akan ikut menonton. aku hanya bersandar di sofa sambil membaca koran yang paling dekat dengan tempatku, merespon berita yang kubaca meskipun koran sebulan lalu. lantas menyadarkanmu yang tertidur saat filmnya berlangsung. Kita akan menghabiskan satu hari itu dalam bermalas-malasan dan melakukan segala hal yang kita suka.

Kelak, aku akan menjadi alasan mengapa pukul 11 malam kau juga belum memejamkan mata. Mungkin melelahkan. Malah seringkali kau akan lebih dulu tertidur lalu terkaget-kaget ketika pintu pagar berbunyi. Kau dapati seonggok tubuh dengan kemeja lusuh, muka kucal, dan rambut berantakan dengan kepala sedikit limbung akibat pekerjaan pun kemacetan. Tapi kamu tahu, aku yang akan menyulitkanmu bangun pagi. Aku yang melingkarkan lengan sehingga membuatmu sulit gerak. Lantas kau memilih kembali tidur ketimbang membangunkanku.

Continue reading “Tentang Hal-Hal yang Mungkin Kita Lakukan Sambil Bermalas-malasan”

Mengalun di Alun-Alun

Sewaktu kuliah di Purwokerto, saya hampir sering menghabiskan waktu akhir pekan di alun-alun. Alasannya sederhana, saya senang mengunjungi ruang publik dan melihat ragam tingkah laku pengunjung di sana. Anak-anak bermain, orang tua memantau, sekelompok anak muda mengobrol, polisi mengatur lalu lintas, dan kegiatan lain yang terjadi di seputaran alun-alun memunculkan nuansa kesahajaan masyarakat yang tak ditawarkan ibukota.

Lain hal ketika berada di pusat perbelanjaan modern yang tergambar kita mesti pilah-pilah sesuatu yang membuat kita bahagia. Salah-salah, berujung pada penyesalan. Belum lagi, soal pakaian yang dikenakan kadang terkesan harus necis dan menawan. Kebahagiaan seolah hal yang didapat dari hitam di atas putih.

Continue reading “Mengalun di Alun-Alun”

Karena Humor Kita Lupa

Tiap tiba di daerah baru, saya biasa mendatangi warung. Sambil membeli cemilan, saya juga berbincang untuk mendapat gambaran sedikit tentang tempat yang akan saya singgahi. Kebetulan Warung Pak Jun saat itu saya singgahi sambil menunggu teman saya datang. Namanya saya ketahui dari seseorang yang memanggil namanya untuk memesan minuman.

Warungnya berdiri tepat di belokan pertigaan. Khas ala warung kelontong, tidak besar tapi berisi banyak barang. Mulai dari dagangan hingga Tv. Pak Jun menjaga warung bergantian dengan istrinya. Untuk pukul 10 pagi sampai 5 sore, bagian istrinya menjaga warung. Sedang, sisanya sampai warungnya tutup Pak Jun yang ambil bagian.

Karena tahu saya lama menunggu di warungnya, ia mengajak saya ngobrol. Di sela-sela mengobrol, saya bertanya, “itu televisinya gak ditonton, pak?”

“ditonton kalau acaranya bagus. Kalau engga, ya buat ngeramein aja” tungkasnya sambil mencari remot. “biasanya saya nonton lawak, tapi sekarang udah ga ada yang bagus, asal ada suara aja”

Pak Jun mengangkat topi yang dikenakannya. Sambil menggaruk bagian belakang kepalanya, ia berujar “acara lawak sekarang ngebosenin, ya” lantas ia menyalakan rokok yang sedari tadi dijepitnya “sama gayanya, artisnya itu-itu saja” keluhnya.

Saya juga menyadari program komedi televisi sudah tak lagi seberagam dulu. saluran Tv satu dengan Tv lainnya hanya beda bahasan tapi tetap seragam model lawakannya. Kalau tidak soal wanita, kadang soal hubungan intim, disertai penonton bayaran yang punya cadangan pita suara.

Malam itu, saya kembali teringat bagaimana saya menikmati program komedi di televisi. Saya dikenalkan humor secara tidak sengaja oleh bapak.

Saat masih SD, bapak selalu minta saya untuk tidur di bawah pukul sembilan malam. Alasan yang selalu dipakainya “supaya besok belajarnya segar”.

Kalaupun saya belum tidur sampai larut malam, tidak masalah, asal posisi saya di tempat tidur. Karena itu, saya seringkali ketinggalan cerita kalau-kalau teman saya di sekolah menceritakan film yang mereka tonton. Biasanya, film yang tayang di atas pukul sembilan adalah film laga dan misteri.

Satu waktu saya pernah duduk di depan Tv sambil memohon untuk tidur telat. Bapak mengizinkannya dengan kendali remot ada di tangannya. Alhasil bukan film laga atau misteri yang saya dapat, malah humor dan berita. Ditambah, ada satu kebiasaan bapak dalam menonton Tv, yaitu iklan ganti. Ya, kalau program komedi sedang iklan, ia pindah ke berita. Begitupun sebaliknya.

Saya menonton Srimulat kala itu. dengan latar keluarga besar dan lakon tertentu, saya melihat Tarsan menjadi bapak, Nunung kadang menjadi ibu bergantian dengan Djuju Juariah, dan Tessy menjadi asisten rumah tangga yang jadi sasaran empuk punchline Mamik dan Basuki.

Jelas saya tidak tertawa sedikitpun. Sepanjang acara saya hanya menunggu bapak tertidur, sehingga saya bisa leluasa memegang remot. Tapi sampai acara habis mata kami belum juga terpejam. Esoknya saya masih menggunakan cara yang sama. Kala itu kami menonton Toples (Topan dan Lesus). Hasil akhirnya sama.

Kebiasaan itu terus berulang sampai saya akhirnya menikmati program komedi. Sajian humor dalam program komedi adalah ringan. Kita diajak tertawa melihat lakon yang dimainkan tanpa melibatkan emosi yang dalam.

“kalau malam nontonnya ini aja. Yang bikin ketawa” katanya

Saya mengangguk pasrah

***

Ucapan Pak Jun membuat saya ikut juga berpikir tentang keadaan program komedi belakangan. Ia tak lain selayaknya penjual sayur yang berdampingan. Keduanya berbeda dalam ukuran warung, tapi sama dagangannya. Yang terlihat sekarang, humor menjadi tujuan akhir, bukan sebagai medium.

Dalam sebuah wawancara Tarsan pernah mengatakan “Humor bukan sekadar cengangas-cengenges, tok. humor mesti serius. Harus manusiawi”. Sejalan dengan Tarsan saya percaya bahwa humor harus serius dalam hal medium penyampai pesan. Ia menjadi alternatif, ketika jalur “biasa” dirasa tidak mampu menyampaikannya.

Seperti adegan Mamik dalam Srimulat. ia berjalan masuk ke dalam lakon, tiba di tengah panggung ia kenakan kaca mata hitam, lantas bilang, “loh, kok hitam?”

Mungkin sekarang terdengar kering, tapi saya melihatnya saat itu sebagai sebuah refleksi bahwa apa yang kita pakai (dapat; pengalaman) menentukan apa yang kita lihat. Mungkin kita tak lantas memaknainya sebagai sebuah pesan, tapi menancap dulu di dasar kepala yang ke depan bisa menjadi lelucon atau metafor.

Perihal humor, Sigmun Freud pernah menuliskannya sebelum berkutat dengan psikoanalisis dalam Jokes and Their Relation to the Unconscious (1960). Humor, baginya, sesuatu yang mampu mendobrak sebuah susunan tertentu. Ia adalah retorika yang dapat diterima oleh banyak orang sebab sifatnya yang meregangkan keadaan.

Freud menegaskan kalau humor memiliki elemen pembebasan dalam menghadapi kenyataan yang merugikan. Ia juga mengingatkan dampak yang disebabkan oleh humor itu sendiri. bahwa humor juga bertendensi menciptakan tawa yang mengaburkan esensi.

Seperti yang beberapa orang bilang, “kalau kita sudah berhasil menertawakan masalah, kita melewatinya.” Belum tentu masalah itu selesai, tapi kita kadung lupa karena tawa kita lebih besar. Pak Jun menyadari itu. program komedi sekarang menurutnya

Bapak pun sadar, anaknya bisa bebas melalui humor. tidak dengan film laga atau misteri. Kami satu frekuensi menertawakan adegan Gogon menggaruk alas sepatu atau Tukul yang sengaja menjatuhkan dirinya. Tapi bapak lupa kalau humor juga yang membuat saya menonton Tv dan tidur larut malam.