Tahi, Lele, dan Sekrup Kecil Ibukota

Pada awalnya, blog ini menjadi medium saya untuk merefleksikan apa yang saya rasakan dan pikirkan. Saya melihat konsistensi itu ketika saya kuliah. Paling tidak, target 3-4 tulisan per bulannya masih bisa terkejar. Sekali terpikir, saya buat drafnya di buku catatan atau ponsel, sampai di kamar kos langsung saya tuliskan. Ya, saya melakukannya seolah itu penting dan patut dibaca orang banyak. Meskipun pada kenyataannya saya tak memikirkan hal itu. Dibaca syukur, tidak juga bukan masalah. Selayaknya tahi, beban pikiran tak baik lama-lama dipendam. Barangkali ada lele-lele kecil di luar sana yang terbahagiakan dari apa yang saya buang.

Saat memasuki fase bekerja, saya pelan-pelan seperti meninggalkannya. Ada banyak variabel yang membuat saya sulit menuliskan sesuatu meskipun banyak yang saya pikirkan, seperti kerjaan yang banyak, hasrat memenuhi kebutuhan pribadi yang tinggi, kemalasan yang menghantui, bahkan saya merasa lelah menulis. Bukan soal ada yang baca atau tidak, melainkan saya seperti gagal memaknai apa yang saya lakoni hari-hari ini. saya tak elaknya bis transjakarta atau commuterline yang setiap hari berputar-putar di jalur yang sama. Membawa penumpang, membunyikan klakson, mengisi bahan bakar, dan diistirahatkan ketika malam. Persis seperti yang saya jalani. Membawa tas, berteriak, makan, buang hajat, tidur. Tidak ada ruang untuk kontemplasi. Mungkin ada, tapi tidak prioritas. Saya merasa mulai tidak peduli, padahal saya butuh. Bukan untuk bahan tulisan semata, tapi mencari tahu sudah sejauh mana saya mengenali diri saya.

Kontemplasi menjadi ruang penting buat saya di tengah polarisasi isu-isu politik dan budaya populer, supaya saya tetap bisa memutuskan sesuatu yang berangkat dari akal pikiran saya tanpa harus bersandar pada apa yang ada di sekitar. Mungkin itu satu-satunya cara buat saya agar tidak terombang-ambing di atas arus determinisme teknologi. Seringkali gagal karena inkonsistensi saya. Belakangan saya mencari apa yang bisa menghibur saya sesaat seolah saya beres tertimpa masalah lalu ujug-ujug mencari kebahagiaan. Ternyata saya mulai menyadari bahwa saya sedang minimisasi. Saya sadar ada beberapa beban pikiran yang sehari-harinya muncul, tapi saya coba tutupi dengan kebahagiaan-kebahagiaan lain yang temporer untuk memastikan saya baik-baik saja.

Belakangan saya merasa gagap, kalang kabut untuk memaknai situasi. Pikiran saya hitam putih. Terlalu banyak waktu luang yang saya gunakan untuk hal tidak penting, terlalu lama saya terlena dengan penyangkalan, terlalu lama saya bergurau, terlalu lama saya mengeluh, terlalu sibuk saya memproyeksikan masa depan, terlalu banyak hal yang saya pertimbangkan tapi tidak menghasilkan sesuatu. Saya khawatir tenggelam dalam alam pikir status quo yang dapat membuat saya seperti batu besar di tengah arus sungai yang lebar. Ada, tapi tidak terlalu penting untuk sekitarnya, hanya menjadi tempat berjemur kepiting dan sandar  sampah rumah tangga.

Pelan-pelan saya coba mencari pola baru atau memodifikasi pola lama untuk membangkitkan nafsu—setidaknya—menulis. saya melihat kembali tulisan-tulisan lama saya, tentang kereta, tentang transjakarta, tentang kendaraan di jalan, dan tentang lain-lain mengenai kehidupan masyarakat urban serta keheranan-keheranan yang saya sebutkan. Ketika saya membacanya ulang, saya melihat saya hidup dalam tulisan saya. Bukan berati tulisan saya bagus, melainkan keganjilan saya dengan tingkah homo jakartanensis saya rasakan sendiri. Merasakan rutinitas yang seperti mesin, melakukan minimisasi dengan mencari kebahagiaan-kebahagiaan temporer, mewajarkan masalah urban, singkat cerita saya resmi menjadi sekrup kecil ibukota yang sesekali peduli dengan isu sosial dan politik, serta tak lupa menertawakan hidup.

Sampai kapan?

Sepertinya akan berakhir pasca tulisan ini dinaikkan. Saya berhasil menuliskan keluhan hidup saya dalam 500-600 kata ketika saya di bis. Ya, paling tidak, saya berhasil sedikit-sedikit membuang tahi dalam pikiran saya. Semoga ada lele yang berbahagia.

Telur Melawan Batu

“dulu, itu pulau kami” ujar Dzulfatiyah, 78 tahun, generasi ketiga masyarakat Gili Sunut. Punggungnya membungkuk, jalannya sudah lamban, dengan segala kekuatannya ia mengantarkan kami ke ujung daratan untuk menunjuk pulau yang pernah didiaminya selama puluhan tahun.

Jarinya mengarah sepuluh derajat ke arah kiri, “bangunan yang masih berdiri itu, masjid” katanya lirih. Diterpa angin yang cukup besar dari laut, kami telah berdiri di ujung daratan, saya bertanya singkat tentang kehidupan dan bangunan yang tersisa di Dusun Sunut, Lombok Timur.

Dusun Sunut memiliki potensi pariwisata yang besar. Lokasinya pun cukup strategis karena dekat dengan beberapa daerah yang sudah terkenal, seperti Pantai Pink dan Pulau Pasir. Pantai pink kerap menjadi bulan-bulanan bagi wisatawan lokal maupun mancanegara untuk dikunjungi sebab warna pasir yang merah muda terlalu rugi jika ditinggalkan. Kemudian, satu pulau yang muncul jika air laut surut, muncul jalur pasir yang menghubungkan Gili Sunut dengan gili di dekatnya dan orang bisa berjalan di atas pasir tersebut, seolah-olah berjalan di laut.

Secara historis, Dusun Sunut berada di sebuah pulau yang dinamakan, Gili Sunut. Sejak tahun 1940-an, warga mulai menghuni Gili Sunut. Saat itu penghuni Gili Sunut tidak lebih dari 10 orang. Mereka bekerja sebagai pembakar kapur[1]. Namun, setelah ada pelarangan pembakaran karang-karang oleh pemerintah karena dapat merusak ekosistem laut, mereka beralih profesi menjadi nelayan.

Semenjak itu, nelayan adalah pekerjaan utama warga Dusun Sunut. Awalnya masyarakat asli yang bekerja sebagai nelayan hanyalah masyarakat suku Bugis/Bajo, disusul masyarakat suku Sasak yang awalnya di darat pindah ke daerah pesisir disebabkan kekurangan lapangan pekerjaan, kemudian beralih menjadi nelayan. Di sela-sela mencari ikan, warga juga berinisiatif memanfaatkan ladang untuk menanam berbagai hasil tani yang pada mulanya adalah cabai, jagung, dan kacang-kacangan.

Continue reading “Telur Melawan Batu”

Setelah Transjakarta

Setelah Transjakarta

Semenjak kembali bekerja pascalebaran, saya menggunakan transjakarta sebagai moda transportasi menuju kantor. Alasannya klise, saya mau merasakan suasana baru. Ternyata ketagihan sampai sekarang. Meski tiba di kantor bisa lebih lama, saya tidak perlu berdesak-desakan dengan penumpang dan mendengar ocehan paguyuban pria tanggung Commuter Line. Hampir semua hal yang saya rasakan di kereta berkebalikan dengan yang saya rasa ketika naik transjakarta. Di kereta, saya bisa mandi keringat, tidak dapat duduk, napas tersengol-sengol. Sementara di Transjakarta, dengkul saya lebih sehat, napas lega, malah bisa masuk angin karena AC-nya cukup dingin.  Namun, ada konsekuensi lain yang harus saya tanggung, saya mesti merasakan degilnya kemacetan ibukota di beberapa ruas jalan.

Barangkali kemacetan menjadi salah satu alasan sebagian teman kuliah bersumpah serapah tidak ke Jakarta untuk bekerja. Kemacetan sudah menjadi karib bagi ibukota, namun momok bagi teman saya—juga saya sendiri. Mungkin ada sekian banyak penelitian tentang Jakarta dan kemacetannya yang malah hanya berakhir di rak buku. Toh, puluhan regulasi dibuat, kendaraan (pribadi) selalu memenuhi isi jalan. Syahdan, hanya momen lebaran yang mampu mengurangi kemacetan.

Waktu macet ini sering saya gunakan untuk mengamati keadaan sekitar—tentu lebih sering saya mengkhayal sesuatu yang tak mungkin terjadi. Seperti kebiasaan saya di kereta, mengamati penumpang dari transportasi publik menjadi bagian dari rutinitas pagi saya. Transjakarta membuat saya lebih leluasa untuk mengamati manusia. kondisi penumpang bis yang lengang dan bersebelahan langsung dengan kendaraan pribadi, membuat saya mudah sekali menganalisis mereka yang “setiap hari” di jalan.

Continue reading “Setelah Transjakarta”

Yang Terlewat Saat Lebaran

Yang Terlewat Saat Lebaran

Saya percaya tiap tulisan selalu merepresentasi persoalan hidup yang dialami sang penulis. Sekalipun itu kisah fiksi. Mungkin tidak semua, paling tidak sebagian. Ada keriuhan-keriuhan kecil yang coba disisipkan penulis dalam tiap tulisannya. Entah perasaan yang degil, entah kebencian mendasar pada sesuatu. Begitu halnya ketika saya membaca kisah Eka Kurniawan pada salah satu cerpennya, Surau.

Meski saya baca sewaktu sedang buang air, rasa-rasanya saya tetap dapat menangkap isi tulisan Eka. Dalam Surau, Eka menceritakan seseorang (entah dirinya, entah orang lain) sedang singgah di sebuah Surau yang jaraknya hanya selemparan tombak dari rumah. ia terjebak hujan. Terpaksa harus berteduh di Surau dengan mantan guru ngajinya yang matanya telah rabun dan sedang mendirikan Asar. Continue reading “Yang Terlewat Saat Lebaran”