Berlagak di Jakarta

“nih, ye, bang” Bang Sanip, ojek saya membuka obrolan “ntu para calon gubernur, kalo balik kampanye sore-sore lewat perempatan Pasar Minggu, sampe rumah pasti langsung ngerenung buat jadi gubernur”

Saya sambut dengan sedikit tawa, “kenapa, bang?”

beh, njelimet, bang. Perempatan itu ye dari jaman aye belon ngojek, udeh macet” lanjutnya.

Pengendara motor di kiri kanan kami memandang ke arah kami, setelah tawa kami membuncah. Bang Sanip biasa mangkal di Stasiun Pasar Minggu. Tinggal dan besar di lingkungan Betawi membuat logatnya terdengar kental kedaerahan. Sebelumnya, ia adalah pedagang buah di pasar. Pada tahun 2000-an mulai mencoba berbagai jenis pekerjaan dan terhenti pada profesinya sekarang, tukang ojek pangkalan. Tahun ini, sudah menginjak tahun ke enam ia berprofesi sebagai ojek.

“yang namanye pelanggan, mas” ia kembali mengajak saya ngobrol. Namun, suaranya tidak begitu jelas karena kami diperjalanan, “kalau nawar kadang suka kebangetan. Waktu saya jual buah di sana tuh” ia menunjuk payung-payung besar yang berada di depan pusat perbelanjaan. “buah saya jual 20.000 ditawar jadi 5.000. dalem hati saya, ‘muke gile nih orang’” tiap Bang Sanip cerita, saya banyak balas dengan tertawa.

“eh, kemarin nih bang, ada pelanggan saya udah mau naik, ojek online-nya dateng. Gedeg bener saya”

Continue reading “Berlagak di Jakarta”

Melihat Sulak, Sukab, dan Sapardi di Cikini

Sambil menaiki tangga stasiun Cikini, saya tersadar kalau mulai jarang mengisi blog. Awalnya saya menjadwalkan paling tidak sekali dalam seminggu bisa mengeluarkan tulisan. Entah mengapa tak satupun yang ada di kepala pantas untuk dibaca orang lain. saya gagal mengurasi bahan saya sendiri.

Dalam menulis, seperti yang disebutkan A.S. Laksana, tidak perlu takut. Apalagi kalau kita menyiapkan tiga kata kunci yang bisa dikembangkan menjadi paragraf. Teruslah menulis, lanjutnya dalam buku Creative Writing. Sulak lantas menyontohkan tiga kata kunci: buku, kucing, dan nasib. Dari tiga kata kunci tersebut, ia menuliskan tiga paragraf berbeda dengan perspektif masing-masing. Sial, kenapa bisa semudah itu dia buat?

Continue reading “Melihat Sulak, Sukab, dan Sapardi di Cikini”

Setelah Seminggu Tanpa Earphone

Ada beberapa kawan yang mengirim pesan ke saya lantas mengajak pelesir ke suatu daerah yang jauh dari ibu kota. Biasanya pantai, gunung, atau sesuatu yang berkaitan dengan alam. Alasan-alasannya hampir sama, suntuk dengan pekerjaan atau rutinitas yang membosankan. Saya memahami kawan-kawan saya yang mengeluh dan menginginkan liburan. Tetapi, ada sedikit celah yang membuat saya sedikit risau.

Bahwa eskapisme hampir selalu dianggap seperti berpindah dari satu titik ke titik yang lain. Kurang lebih gambarannya seperti dua titik yang dibatasi pagar melintang, jika awalnya kita suntuk di titik kiri maka melangkah ke kanan adalah solusi. Padahal, kita harus kembali ke titik awal. Seperti sebuah perpindahan dari satu tempat ke tempat lain karena tempat awal sudah tidak bisa lagi ditemukan hiburan. Atau kalau saya boleh menyingkatnya, kegagalan kita menemukan relasi dari rutinitas.

Kondisi itu seperti yang sering saya temui ketika ke pameran seni. Karya seni lukis dengan gradasi warna yang apik dan karya seni instalasi yang unik menjadi daya tarik. Di saat yang bersamaan, kita mencoba mencari makna dibalik dari karya seni tersebut. jujur saja, ketika dihadapakan dengan sebuah karya, saya lebih sering disibukkan dengan menanyakan maksud dibalik karya tersebut ketimbang betul-betul mengagumi.

Continue reading “Setelah Seminggu Tanpa Earphone”

Obituari yang Kita Tulis Sendiri

Ingatan saya mengarah pada hari kedua MOS ketika saya masuk SMP. Pada hari kedua itulah, saya pertama kalinya mendapat giliran maju ke depan kelas. Tentu bukan hanya perkenalan yang saya lakukan, tapi juga melakukan kemauan senior yang kala itu meminta saya untuk membuatnya tertawa dengan cara tertawa. Fajar, kawan sebangku saya, tanpa aba-aba sudah menjalankan perintah. Ia tertawa kencang seolah melihat hal yang lucu sekali. Ketiba-tibaan itu berhasil membuat kakak kelas ikut tertawa, juga saya, walau sedikit memaksa.

Fajar duduk. Saya di depan kelas sendiri. dua-tiga kali tertawa malah disambut muka muram para senior. Strategi kembali mereka atur. Pada intinya, saya harus melakukan sesuatu yang membuat senyum kakak kelas merekah baru boleh saya kembali duduk. Saya diminta menghadap pintu kelas. Saya ingat, satu pintu tertutup, satu pintu terbuka. Saya diminta menghadap pintu yang tertutup.

“kamu nyatakan cinta ke pintu itu, sampai dia jawab, kamu boleh duduk” perintah senior yang berbadan kecil bersuara lantang.

Pipi saya kebas mendengarnya. saya ingin pura-pura stroke lantas dibawa masuk ke ruang UKS. Saya tahu, sampai pintu kayu itu berubah jadi jelly, ia tidak akan sempat menjawab cinta saya.

“aku.. cinta.. kamu..” mulai saya gugup “kamu mau jadi pacar aku?”

Kalian sudah bisa menduga, ungkapan cinta saya dijawab oleh kawanan kelas yang baru saya kenal kurang dari 24 jam. Waktu itu, hanya helm full face yang saya inginkan. Tak ada yang lain. saya mendengar kembali suara tawa Fajar yang sedemikian kencang dan konkret.

Peristiwa itu yang saya ingat ketika Andini, teman SMP saya yang lain, mengirimkan pesan bahwa Fajar meninggal dunia. Saya membaca pesan persis ketika bangun tidur, badan saya tetiba limbung, jari tangan saya gemetar membalas pesan, lemas seolah isi badan saya tercerabut dari dalam, kosong.

Saya benci menerima kabar kematian. Kabar kematian selayaknya mendapati kursi yang ingin kita duduki tiba-tiba menghilang begitu saja. Kita jatuh, sakit, mencari, meraba, meratap, enggan bangkit, sampai ada orang yang membantu kita bangun memberi kursi lain. setidaknya itu yang saya rasakan kehilangan orang-orang terdekat. Tangisan tak jua mengembalikan. Ia hanya menjadi pelampiasan dari apa yang tidak dapat kita utarakan.

Kematian di sisi lain menyiratkan pesan ketakutan. Awalnya, kita menanyakan perihal kematian seseorang, lantas terlintas bayangan bagaimana kematian kita kelak. Ia bisa saja menghampiri ketika sedang bersepeda, mendengarkan radio, bermain sepak bola, memanjat pohon, bahkan buang hajat.

Saya mengingat mbah saya. mbah paling tua di antara tetangga-tetangganya. Teman sepantarannya sudah lebih dahulu mendahuluinya. Mbah pusing tiap mendengar kabar orang meninggal. setiap ada berita orang meninggal, pakde saya mengalihkan perhatian mbah dari sumber suara. Satu waktu ia pernah mendengar kabar tetangganya meninggal, mbah rungsing bukan kepalang. Bayang-bayang kematian merasuki pikirannya, doa-doa ia rapalkan, orang-orang disekelilingnya langsung ambil bagian menenangkan.

Saya jadi mafhum mengapa dalam buku Bukan Pasar Malam, Pram menuliskan “Seorang. Seorang. Seorang. Dan seorang lagi lahir. Seorang lagi. Seorang lagi. Mengapa orang ini tak ramai-ramai lahir dan ramai-ramai mati?” ya, kenapa tidak begitu? tidak akan ada kabar kematian yang membuat kliyengan, tidak ada yang menakuti, tidak ada yang akan membuat limbung, sebab kita mati bersama. kita akan tetap bersama walau sama-sama mati.

Saya tidak ingin menjadi bijak. Tapi, hidup nyatanya tidak pernah adil. ia menguji kita dengan kepergian tapi tak memberi obat penawar atas kekosongan tersebut. Sering kali, kita diajari cara merawat dan menjaga agar selalu baik, dalam hal lain, kita jarang diajari cara merelakan dan mengikhlaskan. Ia hanya memberi waktu, kadang singkat kadang panjang, yang membuat kita diam-diam lupa, diam-diam tak sadar bahwa kita pernah nyeri akan kehilangan.

Pada hal lain, kita menyadari bahwa kita hanya bermain-main di pasar malam, menaiki satu per satu wahana, membeli arum manis, melihat kembang api, dan menikmati peristiwa-peristiwa lain sebagai kisah pada bab dari buku yang kita susun sendiri, yang kelak kita namai, obituari.