Bertemu Nicky Astria di Taksi

Bertemu Nicky Astria di Taksi

Ketika saya membuka pintu taksi, suara Nicky Astria menggelegar di telinga saya. Pak Agus, sang supir, langsung gelagapan menurunkan volume suara, “maaf, mas. Biar gak ngantuk saya” sambutnya pada saya. Di perjalanan, Pak Agus kembali pelan – pelan mengembalikan volume suara. Saya rasa Nicky Astria akan mengeluh mendengar suaranya di-naik-turun-kan dalam sekejap. Dengan tenaga tersisa, saya menikmati lagu – lagu yang disetel. Kami sempat tidak sengaja menyanyikan reff “Jangan Ada Angkara.” Pak Agus langsung menyerbu saya dengan pertanyaan penuh harap.

“mas, dengar Nicky Astria juga?”

“enggak, pak. Saya hanya tahu beberapa”

Pak Agus kemudian bercerita selayaknya supir taksi pada umumnya yang mencoba akrab pada penumpang. Niat saya mau izin untuk tidur, keburu takluk dengan cerita yang menggebu – gebu darinya. “saya dulu ingin jadi gitaris mendampingi Nicky Astria, mas. Tapi batal.” Pernyataannya bikin mata saya tetiba membelalak. “loh, bapak kenal? Kenapa, pak?” “karena saya nggak punya gitar, mas” sahutnya terkekeh. “gundulmu” saya sesungutan.

***

Obrolan pun semakin tidak keruan, Pak Agus sekonyong – konyong bercerita mengenai kehidupannya tanpa saya minta. Saya ibarat psikolog dadakan yang mengangguk dan mengiyakan tiap ucapannya. Ketika suasana mulai kembali hening, ia tiba – tiba kembali pada Nicky Astria. “saya mikir, mas. Kalau saya senang main gitar, saya belajar tekun, bisa saya dampingi Nicky Astria. Cuma saya takut, pas saya lagi main melodi, saya kepikiran susu buat anak saya” kalau tidak karena saya kelelahan, saya ingin tempiling saja Pak Agus. “yah, mau gimana mas, kadang keinginan – keinginan itu kayak ketutup gitu aja kalau inget kiri kanan (realita). Ternyata mujur saya ada di taksi” lanjutnya meratap disusul kekeh tawanya.

Pak Agus dalam ceritanya berulang kali mencoba menertawakan nasibnya. Ia melihat yang lalu sebagai sebuah elegi masa silam. Mungkin pada masanya, ia hanya bisa meratap, berkeluh kesah, yang seringkali diungkapkan melalui umpatan – umpatan. Tapi, ceritanya dengan saya semalam membuat kisahnya seperti pembabakan adegan sitkom. Keadaan mengubah harapan Pak Agus, kini ia hidup sambil meledek masa silamnya.

Pada titik itu,saya menyadari bahwa semua pasti berubah, tapi memori hanya boleh diam.

Gurauan Pak Agus membuat saya mengingat kembali masa SMA. Tiap diri kita mungkin memiliki ambisi terhadap sesuatu, Pak Agus dengan ambisinya mendampingi Nicky Astria manggung, saya dengan ambisi saya sendiri. Ambisi itu kian lama kian meletup – letup, erat dengan ekspektasi. Ambisi saya saat itu sebetulnya selayaknya anak remaja, kuliah di jurusan dan kampus yang menjadi harapan banyak orang. Segala rapal dan usaha, saya lakoni, logis maupun nirlogis. Ambisi menutup segala kemungkinan – kemungkinan yang ada. Saya menjadi selektif dan keukeuh atas apa yang saya yakini. Kebenaran—saat itu—hanya menjadi milik saya.

Sampai pada masa pengumuman, kegagalan membikin ambisi saya usai. Saya menyadarinya persis ketika Pak Agus khawatir akan teringat susu untuk anaknya ketika ia membayangkan sedang memainkan melodi pada satu lagu Nicky Astria. Ada realita yang tidak saya sadari ketika saya tidak berhasil mengelola ambisi. Ia membuat nafsu menaklukan akal sehat. Nafsu maupun ambisi menjadi ding an sich, melalui “susu” Pak Agus itu saya belajar untuk kemudian mengelola ekspektasi.

***

Pak Agus dengan cerita sekonyong – konyongnya pada saya mengingatkan saya pada kisah Pak Mantri dan Paijo yang dituliskan Kuntowijoyo dalam buku Pasar. Saya ingat betul ketika Pak Mantri pergi ke kantor untuk menarik karcis para pedagang, dalam pikirannya tersumpal hal yang dipikirnya semalaman. Pikirannya muncul karena pergolakan batin Pak Mantri atas kelakuan Zaitun, pegawai bank yang ditaksirnya, tidak sesuai dengan harapannya. Nasib Paijo yang sedang menyapu sampah harus mendengar petuah Pak Mantri tanpa tedeng aling – aling.

“ketahuilah, juru penghibur yang sejati ialah diri kita sendiri. makna hidup itu tidak pada yang sekarang, tetapi pada yang kemudian” Paijo tercengang memegang gagang sapu mendengar petuah Pak Mantri yang tak pernah dibayangkannya. “kalau kita berpikir bahwa yang menyusahkan itu juga membahagiakan, kita akan menyerah. Ada rahasia yang kita tidak ketahui. Kesusahanmu hari ini, bisa jadi kebahagiaanmu di waktu yang akan datang.” Kelegaan untuk Pak Mantri, sementara Paijo semakin tercengang.

Paijo dengan gagang sapunya seperti orang pandir yang kena marah orang tua karena kesalahan bodohnya, tiap petuah Pak Mantri ia hanya cengengesan.

“pikiran yang bening, mengalirkan gagasan yang bening” lanjutnya lagi. Pak Mantri semakin menjadi, “Mengapa engkau gelisah? Karena engkau ingin yang lebih dari yang kau bisa dapatkan. Jangan, Paijo, jangan.”

160:2016, Kuntowijoyo.

Saya melihat Pak Agus adalah Pak Mantri yang lain. Ia hadir dalam bentuk supir taksi yang mengagumi Nicky Astria dan bercerita mengenai masa silamnya ke penumpang. Saya seperti Paijo yang tertegun mendengar kisahnya. Namun, baik saya maupun Paijo, mungkin patut berterima kasih pada Pak Agus dan Pak Mantri. Karena mereka saya paham bahwa hidup hanya perihal mengelola ekspektasi. Lebih dari itu, “susu” Pak Agus mengajarkan saya perihal rasa. Hidup untuk memahami rasa. Rasa yang menaklukan akal, akal yang menaklukan nafsu.

Lantas, makna hidup itu barangkali mulai muncul ketika mendengar Pak Agus menertawakan hidupnya. Berkat “susu” dan Nicky Astria, Pak Agus mengelabui “memori yang diam” yang dulu menjadi sempalan dan kini ia tertawakan. Kebahagiaannya semakin menjadi ketika dibagikan pada saya, pekerja paruh baya yang sebetulnya kelelahan mendengar ceritanya. Dari taksi Pak Agus pula saya harus berterima kasih pada Nicky Astria yang mengingatkan saya kalau “Jangan lagi ada angkara, demi damai jiwaku.”

Tahi, Lele, dan Sekrup Kecil Ibukota

Pada awalnya, blog ini menjadi medium saya untuk merefleksikan apa yang saya rasakan dan pikirkan. Saya melihat konsistensi itu ketika saya kuliah. Paling tidak, target 3-4 tulisan per bulannya masih bisa terkejar. Sekali terpikir, saya buat drafnya di buku catatan atau ponsel, sampai di kamar kos langsung saya tuliskan. Ya, saya melakukannya seolah itu penting dan patut dibaca orang banyak. Meskipun pada kenyataannya saya tak memikirkan hal itu. Dibaca syukur, tidak juga bukan masalah. Selayaknya tahi, beban pikiran tak baik lama-lama dipendam. Barangkali ada lele-lele kecil di luar sana yang terbahagiakan dari apa yang saya buang.

Saat memasuki fase bekerja, saya pelan-pelan seperti meninggalkannya. Ada banyak variabel yang membuat saya sulit menuliskan sesuatu meskipun banyak yang saya pikirkan, seperti kerjaan yang banyak, hasrat memenuhi kebutuhan pribadi yang tinggi, kemalasan yang menghantui, bahkan saya merasa lelah menulis. Bukan soal ada yang baca atau tidak, melainkan saya seperti gagal memaknai apa yang saya lakoni hari-hari ini. saya tak elaknya bis transjakarta atau commuterline yang setiap hari berputar-putar di jalur yang sama. Membawa penumpang, membunyikan klakson, mengisi bahan bakar, dan diistirahatkan ketika malam. Persis seperti yang saya jalani. Membawa tas, berteriak, makan, buang hajat, tidur. Tidak ada ruang untuk kontemplasi. Mungkin ada, tapi tidak prioritas. Saya merasa mulai tidak peduli, padahal saya butuh. Bukan untuk bahan tulisan semata, tapi mencari tahu sudah sejauh mana saya mengenali diri saya.

Kontemplasi menjadi ruang penting buat saya di tengah polarisasi isu-isu politik dan budaya populer, supaya saya tetap bisa memutuskan sesuatu yang berangkat dari akal pikiran saya tanpa harus bersandar pada apa yang ada di sekitar. Mungkin itu satu-satunya cara buat saya agar tidak terombang-ambing di atas arus determinisme teknologi. Seringkali gagal karena inkonsistensi saya. Belakangan saya mencari apa yang bisa menghibur saya sesaat seolah saya beres tertimpa masalah lalu ujug-ujug mencari kebahagiaan. Ternyata saya mulai menyadari bahwa saya sedang minimisasi. Saya sadar ada beberapa beban pikiran yang sehari-harinya muncul, tapi saya coba tutupi dengan kebahagiaan-kebahagiaan lain yang temporer untuk memastikan saya baik-baik saja.

Belakangan saya merasa gagap, kalang kabut untuk memaknai situasi. Pikiran saya hitam putih. Terlalu banyak waktu luang yang saya gunakan untuk hal tidak penting, terlalu lama saya terlena dengan penyangkalan, terlalu lama saya bergurau, terlalu lama saya mengeluh, terlalu sibuk saya memproyeksikan masa depan, terlalu banyak hal yang saya pertimbangkan tapi tidak menghasilkan sesuatu. Saya khawatir tenggelam dalam alam pikir status quo yang dapat membuat saya seperti batu besar di tengah arus sungai yang lebar. Ada, tapi tidak terlalu penting untuk sekitarnya, hanya menjadi tempat berjemur kepiting dan sandar  sampah rumah tangga.

Pelan-pelan saya coba mencari pola baru atau memodifikasi pola lama untuk membangkitkan nafsu—setidaknya—menulis. saya melihat kembali tulisan-tulisan lama saya, tentang kereta, tentang transjakarta, tentang kendaraan di jalan, dan tentang lain-lain mengenai kehidupan masyarakat urban serta keheranan-keheranan yang saya sebutkan. Ketika saya membacanya ulang, saya melihat saya hidup dalam tulisan saya. Bukan berati tulisan saya bagus, melainkan keganjilan saya dengan tingkah homo jakartanensis saya rasakan sendiri. Merasakan rutinitas yang seperti mesin, melakukan minimisasi dengan mencari kebahagiaan-kebahagiaan temporer, mewajarkan masalah urban, singkat cerita saya resmi menjadi sekrup kecil ibukota yang sesekali peduli dengan isu sosial dan politik, serta tak lupa menertawakan hidup.

Sampai kapan?

Sepertinya akan berakhir pasca tulisan ini dinaikkan. Saya berhasil menuliskan keluhan hidup saya dalam 500-600 kata ketika saya di bis. Ya, paling tidak, saya berhasil sedikit-sedikit membuang tahi dalam pikiran saya. Semoga ada lele yang berbahagia.

Telur Melawan Batu

“dulu, itu pulau kami” ujar Dzulfatiyah, 78 tahun, generasi ketiga masyarakat Gili Sunut. Punggungnya membungkuk, jalannya sudah lamban, dengan segala kekuatannya ia mengantarkan kami ke ujung daratan untuk menunjuk pulau yang pernah didiaminya selama puluhan tahun.

Jarinya mengarah sepuluh derajat ke arah kiri, “bangunan yang masih berdiri itu, masjid” katanya lirih. Diterpa angin yang cukup besar dari laut, kami telah berdiri di ujung daratan, saya bertanya singkat tentang kehidupan dan bangunan yang tersisa di Dusun Sunut, Lombok Timur.

Dusun Sunut memiliki potensi pariwisata yang besar. Lokasinya pun cukup strategis karena dekat dengan beberapa daerah yang sudah terkenal, seperti Pantai Pink dan Pulau Pasir. Pantai pink kerap menjadi bulan-bulanan bagi wisatawan lokal maupun mancanegara untuk dikunjungi sebab warna pasir yang merah muda terlalu rugi jika ditinggalkan. Kemudian, satu pulau yang muncul jika air laut surut, muncul jalur pasir yang menghubungkan Gili Sunut dengan gili di dekatnya dan orang bisa berjalan di atas pasir tersebut, seolah-olah berjalan di laut.

Secara historis, Dusun Sunut berada di sebuah pulau yang dinamakan, Gili Sunut. Sejak tahun 1940-an, warga mulai menghuni Gili Sunut. Saat itu penghuni Gili Sunut tidak lebih dari 10 orang. Mereka bekerja sebagai pembakar kapur[1]. Namun, setelah ada pelarangan pembakaran karang-karang oleh pemerintah karena dapat merusak ekosistem laut, mereka beralih profesi menjadi nelayan.

Semenjak itu, nelayan adalah pekerjaan utama warga Dusun Sunut. Awalnya masyarakat asli yang bekerja sebagai nelayan hanyalah masyarakat suku Bugis/Bajo, disusul masyarakat suku Sasak yang awalnya di darat pindah ke daerah pesisir disebabkan kekurangan lapangan pekerjaan, kemudian beralih menjadi nelayan. Di sela-sela mencari ikan, warga juga berinisiatif memanfaatkan ladang untuk menanam berbagai hasil tani yang pada mulanya adalah cabai, jagung, dan kacang-kacangan.

Continue reading “Telur Melawan Batu”

Setelah Transjakarta

Setelah Transjakarta

Semenjak kembali bekerja pascalebaran, saya menggunakan transjakarta sebagai moda transportasi menuju kantor. Alasannya klise, saya mau merasakan suasana baru. Ternyata ketagihan sampai sekarang. Meski tiba di kantor bisa lebih lama, saya tidak perlu berdesak-desakan dengan penumpang dan mendengar ocehan paguyuban pria tanggung Commuter Line. Hampir semua hal yang saya rasakan di kereta berkebalikan dengan yang saya rasa ketika naik transjakarta. Di kereta, saya bisa mandi keringat, tidak dapat duduk, napas tersengol-sengol. Sementara di Transjakarta, dengkul saya lebih sehat, napas lega, malah bisa masuk angin karena AC-nya cukup dingin.  Namun, ada konsekuensi lain yang harus saya tanggung, saya mesti merasakan degilnya kemacetan ibukota di beberapa ruas jalan.

Barangkali kemacetan menjadi salah satu alasan sebagian teman kuliah bersumpah serapah tidak ke Jakarta untuk bekerja. Kemacetan sudah menjadi karib bagi ibukota, namun momok bagi teman saya—juga saya sendiri. Mungkin ada sekian banyak penelitian tentang Jakarta dan kemacetannya yang malah hanya berakhir di rak buku. Toh, puluhan regulasi dibuat, kendaraan (pribadi) selalu memenuhi isi jalan. Syahdan, hanya momen lebaran yang mampu mengurangi kemacetan.

Waktu macet ini sering saya gunakan untuk mengamati keadaan sekitar—tentu lebih sering saya mengkhayal sesuatu yang tak mungkin terjadi. Seperti kebiasaan saya di kereta, mengamati penumpang dari transportasi publik menjadi bagian dari rutinitas pagi saya. Transjakarta membuat saya lebih leluasa untuk mengamati manusia. kondisi penumpang bis yang lengang dan bersebelahan langsung dengan kendaraan pribadi, membuat saya mudah sekali menganalisis mereka yang “setiap hari” di jalan.

Continue reading “Setelah Transjakarta”