Mengalun di Alun-Alun

Sewaktu kuliah di Purwokerto, saya hampir sering menghabiskan waktu akhir pekan di alun-alun. Alasannya sederhana, saya senang mengunjungi ruang publik dan melihat ragam tingkah laku pengunjung di sana. Anak-anak bermain, orang tua memantau, sekelompok anak muda mengobrol, polisi mengatur lalu lintas, dan kegiatan lain yang terjadi di seputaran alun-alun memunculkan nuansa kesahajaan masyarakat yang tak ditawarkan ibukota.

Lain hal ketika berada di pusat perbelanjaan modern yang tergambar kita mesti pilah-pilah sesuatu yang membuat kita bahagia. Salah-salah, berujung pada penyesalan. Belum lagi, soal pakaian yang dikenakan kadang terkesan harus necis dan menawan. Kebahagiaan seolah hal yang didapat dari hitam di atas putih.

Continue reading “Mengalun di Alun-Alun”

Karena Humor Kita Lupa

Tiap tiba di daerah baru, saya biasa mendatangi warung. Sambil membeli cemilan, saya juga berbincang untuk mendapat gambaran sedikit tentang tempat yang akan saya singgahi. Kebetulan Warung Pak Jun saat itu saya singgahi sambil menunggu teman saya datang. Namanya saya ketahui dari seseorang yang memanggil namanya untuk memesan minuman.

Warungnya berdiri tepat di belokan pertigaan. Khas ala warung kelontong, tidak besar tapi berisi banyak barang. Mulai dari dagangan hingga Tv. Pak Jun menjaga warung bergantian dengan istrinya. Untuk pukul 10 pagi sampai 5 sore, bagian istrinya menjaga warung. Sedang, sisanya sampai warungnya tutup Pak Jun yang ambil bagian.

Karena tahu saya lama menunggu di warungnya, ia mengajak saya ngobrol. Di sela-sela mengobrol, saya bertanya, “itu televisinya gak ditonton, pak?”

“ditonton kalau acaranya bagus. Kalau engga, ya buat ngeramein aja” tungkasnya sambil mencari remot. “biasanya saya nonton lawak, tapi sekarang udah ga ada yang bagus, asal ada suara aja”

Pak Jun mengangkat topi yang dikenakannya. Sambil menggaruk bagian belakang kepalanya, ia berujar “acara lawak sekarang ngebosenin, ya” lantas ia menyalakan rokok yang sedari tadi dijepitnya “sama gayanya, artisnya itu-itu saja” keluhnya.

Saya juga menyadari program komedi televisi sudah tak lagi seberagam dulu. saluran Tv satu dengan Tv lainnya hanya beda bahasan tapi tetap seragam model lawakannya. Kalau tidak soal wanita, kadang soal hubungan intim, disertai penonton bayaran yang punya cadangan pita suara.

Malam itu, saya kembali teringat bagaimana saya menikmati program komedi di televisi. Saya dikenalkan humor secara tidak sengaja oleh bapak.

Saat masih SD, bapak selalu minta saya untuk tidur di bawah pukul sembilan malam. Alasan yang selalu dipakainya “supaya besok belajarnya segar”.

Kalaupun saya belum tidur sampai larut malam, tidak masalah, asal posisi saya di tempat tidur. Karena itu, saya seringkali ketinggalan cerita kalau-kalau teman saya di sekolah menceritakan film yang mereka tonton. Biasanya, film yang tayang di atas pukul sembilan adalah film laga dan misteri.

Satu waktu saya pernah duduk di depan Tv sambil memohon untuk tidur telat. Bapak mengizinkannya dengan kendali remot ada di tangannya. Alhasil bukan film laga atau misteri yang saya dapat, malah humor dan berita. Ditambah, ada satu kebiasaan bapak dalam menonton Tv, yaitu iklan ganti. Ya, kalau program komedi sedang iklan, ia pindah ke berita. Begitupun sebaliknya.

Saya menonton Srimulat kala itu. dengan latar keluarga besar dan lakon tertentu, saya melihat Tarsan menjadi bapak, Nunung kadang menjadi ibu bergantian dengan Djuju Juariah, dan Tessy menjadi asisten rumah tangga yang jadi sasaran empuk punchline Mamik dan Basuki.

Jelas saya tidak tertawa sedikitpun. Sepanjang acara saya hanya menunggu bapak tertidur, sehingga saya bisa leluasa memegang remot. Tapi sampai acara habis mata kami belum juga terpejam. Esoknya saya masih menggunakan cara yang sama. Kala itu kami menonton Toples (Topan dan Lesus). Hasil akhirnya sama.

Kebiasaan itu terus berulang sampai saya akhirnya menikmati program komedi. Sajian humor dalam program komedi adalah ringan. Kita diajak tertawa melihat lakon yang dimainkan tanpa melibatkan emosi yang dalam.

“kalau malam nontonnya ini aja. Yang bikin ketawa” katanya

Saya mengangguk pasrah

***

Ucapan Pak Jun membuat saya ikut juga berpikir tentang keadaan program komedi belakangan. Ia tak lain selayaknya penjual sayur yang berdampingan. Keduanya berbeda dalam ukuran warung, tapi sama dagangannya. Yang terlihat sekarang, humor menjadi tujuan akhir, bukan sebagai medium.

Dalam sebuah wawancara Tarsan pernah mengatakan “Humor bukan sekadar cengangas-cengenges, tok. humor mesti serius. Harus manusiawi”. Sejalan dengan Tarsan saya percaya bahwa humor harus serius dalam hal medium penyampai pesan. Ia menjadi alternatif, ketika jalur “biasa” dirasa tidak mampu menyampaikannya.

Seperti adegan Mamik dalam Srimulat. ia berjalan masuk ke dalam lakon, tiba di tengah panggung ia kenakan kaca mata hitam, lantas bilang, “loh, kok hitam?”

Mungkin sekarang terdengar kering, tapi saya melihatnya saat itu sebagai sebuah refleksi bahwa apa yang kita pakai (dapat; pengalaman) menentukan apa yang kita lihat. Mungkin kita tak lantas memaknainya sebagai sebuah pesan, tapi menancap dulu di dasar kepala yang ke depan bisa menjadi lelucon atau metafor.

Perihal humor, Sigmun Freud pernah menuliskannya sebelum berkutat dengan psikoanalisis dalam Jokes and Their Relation to the Unconscious (1960). Humor, baginya, sesuatu yang mampu mendobrak sebuah susunan tertentu. Ia adalah retorika yang dapat diterima oleh banyak orang sebab sifatnya yang meregangkan keadaan.

Freud menegaskan kalau humor memiliki elemen pembebasan dalam menghadapi kenyataan yang merugikan. Ia juga mengingatkan dampak yang disebabkan oleh humor itu sendiri. bahwa humor juga bertendensi menciptakan tawa yang mengaburkan esensi.

Seperti yang beberapa orang bilang, “kalau kita sudah berhasil menertawakan masalah, kita melewatinya.” Belum tentu masalah itu selesai, tapi kita kadung lupa karena tawa kita lebih besar. Pak Jun menyadari itu. program komedi sekarang menurutnya

Bapak pun sadar, anaknya bisa bebas melalui humor. tidak dengan film laga atau misteri. Kami satu frekuensi menertawakan adegan Gogon menggaruk alas sepatu atau Tukul yang sengaja menjatuhkan dirinya. Tapi bapak lupa kalau humor juga yang membuat saya menonton Tv dan tidur larut malam.

 

Kopi Perjuangan dari Minang

Ada dua hal yang selalu saya lakukan setiap saya naik motor. Pertama, mendengarkan musik dengan memasang headset jika sedang sendirian, dan yang kedua berbicara dengan orang yang saya bonceng. Hal kedua juga sering saya lakukan jika saya yang dibonceng. Saya percaya bahwa interaksi yang dibangun di jalanan hampir sering jujur dan cenderung apa adanya.

Kali ini, saya dibonceng rekan kerja saya, Farhan. Orang asli Minang yang cukup jenaka dan memutuskan mengais rejeki di Jakarta. “Saya bekerja untuk kemanusiaan, bang,” katanya sebagai alasan mengapa ia kerja di Jakarta. Sore ini karena arah yang saya tuju searah dengannya, ia mengajak saya pulang bersama dengan motornya.

Saban sore hari, Jakarta selalu mengadakan festival kendaraan. Sudut-sudut jalan hampir penuh dengan mobil dan motor, termasuk trotoar. Klakson berbunyi seperti anak-anak sedang melakukan yel-yel. Sialnya, kami ada di antara antrian kendaraan tersebut. Demi mengurangi penat menghadapi macet saya mulai mengajak Farhan berbincang di atas motor. Obrolan pertama saya buka dengan kecintaan saya pada Kopi Solok dari Sumatera Barat.

“Kapan-kapan kalau ke sini bawa Kopi Solok lah bang,” pinta saya ke Farhan. Ia balas dengan anggukan.

“Oh iya bang. Ada yang lebih mantap dari Kopi Solok bang. Kopi Kawa namanya bang,” suaranya tiba-tiba mengeras.

Pengendara dari kiri dan kanan tetiba menengok karena mendengar suaranya. “Kopi Kawa itu minuman khasnya orang-orang Minang, bang.”

Sepanjang jalan ia mulai bercerita lebih jauh tentang Kopi Kawa. Semakin tak jarang pengendara di samping kami menengok karena kerasnya suara Farhan bercerita, apalagi kami berbicara dalam keadaan macet.

“Kopi Kawa ini tanda orang Minang itu pandai memanfaatkan sesuatu bang” tuturnya tegas.

Sebelumnya ia bercerita, kalau kopi Kawa berawal dari masa penjajahan Belanda ketika orang-orang Minang dilarang menikmati biji kopi. Padahal mereka dipaksa menanamnya. Karena penasaran rasa kopi tapi tak bisa minum kopi, mereka cari akal. Maka daun kopi diseduh. “Kayak buat teh aja bang,” kata Farhan.

Tak terasa, kami sudah setengah perjalanan. Tiba-tiba, Farhan mengajak saya ke kedai kopi. “Ayo bang. Kita ke kedai kopi Kawa. Kopi yang kuceritakan tadi. Pasti abang gak nyesel,” ujarnya meyakinkan saya. Sebagai penumpang, saya pasrah menerima ajakannya walau waktu sudah hampir malam. Terlebih, jalanan masih seperti antrian masuk mal.

Saya mengangguk.

Continue reading “Kopi Perjuangan dari Minang”

Dari Bis Kota atau Kereta

Untuk sampai ke kantor, setidaknya saya menggunakan tiga transportasi berbeda, motor, kereta, dan bis. Tiga moda tersebut saya gunakan berurutan. Motor yang saya bawa dari rumah dititipkan di stasiun, sambung kereta, dan ditutup bis atau kadang bajaj.

Ada dua alasan mengapa saya lebih memilih menggunakan transportasi masal. Pertama, ada rasa senasib sepenanggungan. Kedua, saya belajar memaknai keterbatasan yang ada.

Saya belum pernah memang mengendarai motor ke kantor. Membayangkannya saja sudah cukup membuat perut mual dan kepala limbung. Terlebih lagi, hari-hari kerja membuat pengendara motor seperti kumpulan orang-orang bangun telat yang selalu terburu-buru sampai ke tempat kerja. Di jalan, seperti kata Seno, hanya ada kemacetan dan ketakutan-ketakutan terlambat ke kantor. Begitupun saat pulang kerja, jalanan bagai sirkuit dan rumah adalah garis akhir.

Continue reading “Dari Bis Kota atau Kereta”