Membincang Munir di Warung

sumber: tempo.co
sumber: tempo.co

Warung itu berdiri tepat di atas selokan. Dengan beberapa bilah papan yang menghubungkan tepian jalan dan tembok rumah, warung itu berdiri seperti jembatan. Bisa dikatakan, keberadaan warung tersebut sebagai simbol Kampung Duku. Pasalnya, pendatang yang ingin datang ke Kampung Duku, warga otomatis menjawab “setelah portal ada warung, nah itu Kampung Duku”.

Bang Anto, penjaga warung, merangkap sebagai penunjuk arah bagi pendatang yang mencari salah satu rumah warga. “kalau ke rumah pak RW lurus aja, cat rumahnya biru, banyak burung dah” katanya sambil menunjuk ke utara. Pelanggan utama warung Bang Anto adalah ojek-ojek konvensional yang mangkal. Kopi dan rokok sudah menjadi menu pasti bagi para ojek.

Pelanggan lainnya dari orang-orang yang sedang menunggu angkot lewat dan beberapa warga yang enggan pergi ke minimarket. “Biar gak banyak, yang penting dapet pemasukan” yakinnya dalam hati.

Continue reading “Membincang Munir di Warung”

Hal Yang Kita Bicarakan Sebelum Gelap Tiba

Bak penyair yang sedang membaca puisinya, kau menengadahkan tangan ke atas “tak ada yang lebih tabah dari hujan bulan Juni…….” sambil menarik nafas ke bait berikutnya, kau menengok ke arahku.

dengan sigap kujawab “ada”

“diam. Aku belum selesai” keluhmu

“kamu melihat ke arahku tadi”

“itu gimmick, bodoh”

Tanganmu menyelinap dari atas ke bawah “..dirahasiakannya rintik rindunya….” setiap tarikan nafas terlihat kau berpikir gaya apa yang turut mewakili syair itu “kepada pohon berbunga itu.” jarimu mekar menutup bait pertama.

Continue reading “Hal Yang Kita Bicarakan Sebelum Gelap Tiba”

Tentang Hal-Hal yang Mungkin Kita Lakukan Sambil Bermalas-malasan

Kelak, kau tak perlu mencari dalih untuk menonton drama korea dengan tenang. Kau bisa lakukan itu satu hari satu malam disertai tangis dan rasa gemas membayangkan dirimu dalam skenario. Aku tidak akan ikut menonton. aku hanya bersandar di sofa sambil membaca koran yang paling dekat dengan tempatku, merespon berita yang kubaca meskipun koran sebulan lalu. lantas menyadarkanmu yang tertidur saat filmnya berlangsung. Kita akan menghabiskan satu hari itu dalam bermalas-malasan dan melakukan segala hal yang kita suka.

Kelak, aku akan menjadi alasan mengapa pukul 11 malam kau juga belum memejamkan mata. Mungkin melelahkan. Malah seringkali kau akan lebih dulu tertidur lalu terkaget-kaget ketika pintu pagar berbunyi. Kau dapati seonggok tubuh dengan kemeja lusuh, muka kucal, dan rambut berantakan dengan kepala sedikit limbung akibat pekerjaan pun kemacetan. Tapi kamu tahu, aku yang akan menyulitkanmu bangun pagi. Aku yang melingkarkan lengan sehingga membuatmu sulit gerak. Lantas kau memilih kembali tidur ketimbang membangunkanku.

Continue reading “Tentang Hal-Hal yang Mungkin Kita Lakukan Sambil Bermalas-malasan”

Mengalun di Alun-Alun

Sewaktu kuliah di Purwokerto, saya hampir sering menghabiskan waktu akhir pekan di alun-alun. Alasannya sederhana, saya senang mengunjungi ruang publik dan melihat ragam tingkah laku pengunjung di sana. Anak-anak bermain, orang tua memantau, sekelompok anak muda mengobrol, polisi mengatur lalu lintas, dan kegiatan lain yang terjadi di seputaran alun-alun memunculkan nuansa kesahajaan masyarakat yang tak ditawarkan ibukota.

Lain hal ketika berada di pusat perbelanjaan modern yang tergambar kita mesti pilah-pilah sesuatu yang membuat kita bahagia. Salah-salah, berujung pada penyesalan. Belum lagi, soal pakaian yang dikenakan kadang terkesan harus necis dan menawan. Kebahagiaan seolah hal yang didapat dari hitam di atas putih.

Continue reading “Mengalun di Alun-Alun”