Di Barisan Belakang

Beberapa waktu lalu, ibu mengirim pesan ke saya, mengajak saya pulang bareng naik kereta. Hal yang amat jarang dilakukannya. Biasanya ia menggunakan bis dinas yang mengantarnya berangkat dan pulang kerja. Di dalam kereta ia cerita bahwa baru saja selesai kumpul dengan teman-teman sekolahnya dulu.  “tadi ibu ndak mau ikut. Tapi, dipaksa. Kata temannya ‘mumpung aku lagi di Jakarta’” tungkasnya pada saya. “mana teman satu lagi datangnya malam lagi. Jadi harus nunggu deh” sambungnya lagi. Sepanjang perjalanan saya cekikikan mendengar ibu cerita tentang reuni kecilnya itu.

Ibu saya tipikal pekerja tenggo. Jika ada pekerjaan yang belum dituntaskan, ia memilih pulang dan melanjutkannya di rumah, kecuali jika ada hal-hal mendesak yang membuatnya bertahan di kantor lebih lama. Ia hampir tidak pernah sama sekali kumpul dengan kerabat kerjanya setelah pulang kerja, apalagi singgah di tempat tertentu untuk ngopi-ngopi lucu sambil duduk cantik. Beban-beban ala kelas menengah seputar stres karena pekerjaan, tidak pernah ia tuangkan ke dalam aktivitas lain. Yang ia pegang selama ini, anak-anaknya menunggu di rumah. Sesekali ia bawa makanan rapat dari kantornya untuk anak-anaknya, termasuk saya. Tapi, mendengar ibu bercerita tentang reuni kecilnya, saya syok sebab beliau keluar dari rutinitasnya.

Continue reading “Di Barisan Belakang”

Yang Berbincang di Whatsapp Grup

Ada dua grup whatsapp yang belakangan kejar-kejaran menduduki posisi teratas di ponsel saya, pertama dari keluarga ibu saya, kedua dari keluarga bapak saya. Nama tiap grup keluarga tersebut diambil dari nama kakek saya. Isinya sekitar 10-20 orang. Masing-masing berisikan anak, menantu, dan cucu dari kakek-nenek saya. Dalam sehari ada puluhan pesan dari grup keluarga tersebut—kadang ratusan kalau mereka sedang khilaf—yang tidak saya buka. Macam-macam yang dibicarakan, info banjir, berita hoax, hingga lelucon khas grup keluarga yang lebih bikin kesal ketimbang lucu. Haibatnya, dari puluhan orang tersebut, hanya 1-4 orang yang sebetulnya aktif mengirim pesan ataupun gambar.

Continue reading “Yang Berbincang di Whatsapp Grup”

Ode Untuk Seorang Teman

Kalimatmu tidak teratur, tergagap di sela-sela pembicaraan, terkadang ada jeda cukup lama untuk mengambil nafas seolah hal yang terjadi teramat memukul hidupmu. Boleh jadi begitu sebab kau tak pernah terbesit sedikit pun membayangkannya, sekalipun sedang buang air. “itu hil yang mustahal” sesalmu kemudian. Tapi sayang kita bicara di dunia yang lebih sering bikin kepala kita pusing. Apakah kau pernah terbayang Banda Neira atau Payung Teduh bubar ketika albumnya baru saja keluar? Mungkin tak sempat. Tapi tetap terjadi.

Continue reading “Ode Untuk Seorang Teman”

Di Antara Pengunjung Pameran

Di Antara Pengunjung Pameran

Pria itu mengepalkan kedua tangannya, kemudian mengambil ancang-ancang memukul. Di depannya, menggantung karung tinju yang digantung di rangka baja. Beberapa detik kemudian, pukulannya mendarat di bungkusan hitam tersebut. Tidak ada satu menit, dipeluknya karung tinju tersebut sambil tertawa kelelahan. Rekannya di samping menyahut, “ini pameran atau tempat latihan Chris John?” saya tertawa kecil sambil melipir ke instalasi seni lainnya.

Kejadian itu saya temui di ruang performans, Aliansyah Chaniago, salah satu seniman yang berpameran di helatan seni dua tahunan, Jakarta Biennale 2017, di Gudang Sarinah. Sekitar 50-an seniman memamerkan karyanya dalam menginterpretasi “Jiwa” yang diangkat sebagai tema pameran ini. Bersama tiga orang rekan, saya mengitari ruang pameran selama satu jam lebih untuk melihat satu per satu karya yang dipamerkan.

Sepanjang melihat karya, teman-teman saya lebih sering bertanya ke saya tentang makna dari sebuah karya. Sementara, saya sendiri lebih banyak bingung ketimbang paham. Pasalnya, setiap mengunjungi pameran, saya juga tidak berupaya untuk mencari maknanya. Di pameran, ada yang bikin menarik, yaitu mengamati pola pengunjung pameran.

Continue reading “Di Antara Pengunjung Pameran”