Tidak Ada Bianglala di Cikini

Saya berjalan dari Kantor Pos Cikini sampai Taman Ismail Marzuki. Pendar lampu listrik berbaur dengan cahaya – cahaya bulan. Di bagian yang tak berlampu, cahaya bulan melapisi malam, menjadikannya kekuningan. Cahaya yang terpantul dari kaca – kaca kedai mengesankan kesunyian. Saya melangkahkan kaki pada tiap cahaya yang jatuh ke jalanan. Saat itu saya merasa hidup … Continue reading Tidak Ada Bianglala di Cikini

Masihkah Kita di Jalan Yang Sama?

Mendengarkan kembali lagu – lagu lawas membuat saya memanggil ulang memori – memori pada momen – momen terdahulu. Saya kerap kali melakukan asosiasi – asosiasi tiap mendengarkan sebuah lagu, semisal ketika mendengar Pance Pondaag, Meriam Bellina, Dian Piesesha, dan beberapa musisi sejawat lainnya saya teringat perjalanan mudik ke kampung halaman dengan kijang doyok yang suka … Continue reading Masihkah Kita di Jalan Yang Sama?

#1

Aku akan mulai menuliskan sesuatu sebagai bentuk apologi atau sekadar menghidupkan imaji atas peristiwa - peristiwa yang menurutku sentimentil. Entah akan berapa lama aku sanggup menuliskannya. kalimatnya mungkin tidak terlalu rapi. yang tersusun pun tidak bisa disanggah oleh orang lain, sekalipun kalimat tanya. Sebab semua kebetulan hanya milik saya seorang. Bagaimana caranya menghapus sesuatu yang … Continue reading #1