Mempertanyakan Diskursus Pembangunan Manusia dan Hak Asasi Manusia Di Tengah Pesta Demokrasi 2018-2019

Mempertanyakan Diskursus Pembangunan Manusia dan Hak Asasi Manusia Di Tengah Pesta Demokrasi 2018-2019

Indonesia terhitung telah dua kali menyelenggarakan pilkada serentak, yakni tahun 2015 dan tahun 2017. Tahun 2018 merupakan tahun ketiga penyelenggaraan pilkada serentak. Pilkada serentak merupakan titik penting dalam kontinum demokratisasi. Pada penyelanggaraannya tahun ini mungkin akan sedikit meriah karena berdekatan dengan pemilihan umum dan pemilihan presiden. Momen tersebut menjadi medium esensial dalam memberikan suara bagi kehendak rakyat yang merupakan dasar dari otoritas pemerintah. Terlebih lagi, kepala daerah akan menjadi perpanjangan tangan dari pemerintah pusat untuk melaksanakan kewajibannya.

Momentum Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) 2018 sudah seharusnya tidak hanya ditempatkan sebagai periode politik elektoral yang hanya berujung pada politik kekuasaan.  Pilkada yang akan berlangsung di 171 daerah—di antaranya 17 Provinsi untuk pemilihan Gubernur dan Wakil Gubernur, 39 Kota untuk pemilihan Walikota dan Wakil Walikota, dan 115 Kabupaten untuk Bupati dan Wakil Bupati— akan menentukan pelayanan publik dari cakupan nasional hingga daerah guna menciptakan kesejahteraan, mendukung proses demokrasi di tingkat lokal, dan perlindungan terhadap hak asasi manusia.

Namun, tahapan pesta demokrasi yang kini sedang berlangsung, belakangan diwarnai oleh perdebatan elit nasional yang sama sekali tidak menunjukkan geliatnya untuk mencapai tujuan kesejahteraan, demokratisasi, terlebih lagi perlindungan terhadap hak asasi manusia. Publik belakangan dipertontonkan dengan drama sablonan kaos oblong, sepatu, jaket, dan hal yang membuat kita seolah sedang membangun pabrik garmen ketimbang menyusun strategi untuk memperbaiki republik. Sialnya, perdebatan elit politik nasional itu dilanggengkan melalui pihak koalisi dan oposisi dan media menjadi corong yang tersebut.

Continue reading “Mempertanyakan Diskursus Pembangunan Manusia dan Hak Asasi Manusia Di Tengah Pesta Demokrasi 2018-2019”

Yang Tertinggal di Kedai

Selamat malam, E

Semoga kau baik-baik saja pasca minggu berat, akhir bulan, pekerjaan menumpuk, serta hal tidak penting yang—ternyata—dapat menghilangkan kewarasanmu selama beberapa hari. Semoga gelembung di bawah matamu kian meredup hari ke hari. Semoga tidak ada yang sadar pula bahwa kau membawa seribu (atau mungkin sejuta?) harap yang kau taruh pada gelembung tersebut, hingga akhirnya pecah begitu saja tanpa sisa. tapi, kutahu, bibirmu yang mampu merekah lebar bagai lahan sawit di Kalimantan itu dapat membuat orang turut berbahagia atas kehadiranmu.

Continue reading “Yang Tertinggal di Kedai”

Nella Kharisma dan Sejarah Kekerasan Kolektif

Nella Kharisma dan Sejarah Kekerasan Kolektif

Nella Kharisma, setidaknya, tumbuh di tengah situasi dangdut yang tengah berkecamuk. Ia adalah oposisi biner yang muncul tatkala perdebatan Ayu Ting-Ting dan Via Vallen yang pada akhir tahun 2017 sedang panas akibat MUA (Make Up Artist) Ayu Ting-Ting menuduh Via Vallen sebagai gundik. Perdebatan dilanjutkan oleh serdadu kedua penyanyi tersebut di kolom komentar Instagram. Sementara, Nella Kharisma ibarat poacher dalam sepakbola yang membuka ruang untuk dirinya sendiri, penuh kecepatan, pergerakan tanpa bola, dan memiliki kemampuan menggiring yang bagus membawanya menjadi penyanyi yang paling banyak ditelusuri di mesin pencarian, Google.

Melalui lagu bertemakan sihir tradisional, Jaran Goyang, Nella Kharisma meneluh pengguna internet untuk melongok video klipnya di kanal Youtube yang pada Februari 2018 telah ditonton 140 juta kali. Dengan memadukan genre dangdut, reggae, dan hip hop, ia menghapus stigma dangdut candoleng-doleng yang sering dikaitkan dengan pornoaksi karena menunjukkan lekuk tubuh tak senonoh dan goyangan beragam rupa. Jaran Goyang menyentuh sisi kehidupan sehari-hari masyarakat. Meski bukan single pertama Nella dalam debutnya di ranah dangdut, lagu tersebut menjadi sentilan bagi kaum pria—yang sebetulnya—gagal meraih hati wanita.

Continue reading “Nella Kharisma dan Sejarah Kekerasan Kolektif”

Di Barisan Belakang

Beberapa waktu lalu, ibu mengirim pesan ke saya, mengajak saya pulang bareng naik kereta. Hal yang amat jarang dilakukannya. Biasanya ia menggunakan bis dinas yang mengantarnya berangkat dan pulang kerja. Di dalam kereta ia cerita bahwa baru saja selesai kumpul dengan teman-teman sekolahnya dulu.  “tadi ibu ndak mau ikut. Tapi, dipaksa. Kata temannya ‘mumpung aku lagi di Jakarta’” tungkasnya pada saya. “mana teman satu lagi datangnya malam lagi. Jadi harus nunggu deh” sambungnya lagi. Sepanjang perjalanan saya cekikikan mendengar ibu cerita tentang reuni kecilnya itu.

Ibu saya tipikal pekerja tenggo. Jika ada pekerjaan yang belum dituntaskan, ia memilih pulang dan melanjutkannya di rumah, kecuali jika ada hal-hal mendesak yang membuatnya bertahan di kantor lebih lama. Ia hampir tidak pernah sama sekali kumpul dengan kerabat kerjanya setelah pulang kerja, apalagi singgah di tempat tertentu untuk ngopi-ngopi lucu sambil duduk cantik. Beban-beban ala kelas menengah seputar stres karena pekerjaan, tidak pernah ia tuangkan ke dalam aktivitas lain. Yang ia pegang selama ini, anak-anaknya menunggu di rumah. Sesekali ia bawa makanan rapat dari kantornya untuk anak-anaknya, termasuk saya. Tapi, mendengar ibu bercerita tentang reuni kecilnya, saya syok sebab beliau keluar dari rutinitasnya.

Continue reading “Di Barisan Belakang”