Dieng Culture Festival

Ketika mahasiswa sedang sibuk dengan tugas-tugasnya menjelang ujian akhir semester, pasti di saat itulah ada titik jenuh di mana ingin ada sebuah penyegaran setelah melewatinya. Begitulah yang terjadi pada saya :mrgreen: tugas-tugas merajalela, deadline memanggil, dan kebutuhan pribadi terus menggerutu ingin diperhatikan, rasa ingin “menyatu” dengan alam pun muncul. Alhasil, mencoba masuk ke forum Backpacker mencari wisata alam untuk mengisi liburan atau lebih tepatnya membalas dendam akan semester yang telah dilewati. Kebetulan sekali, saya menemukan trip yang cukup mewakili hasrat saya, yaitu wisata budaya sekaligus bertemu dengan alam bebas.

Ajakan sharing cost backpacker yang saya pilih daripada memilih paket tour/travel, lumayan sekalian menambah teman. Kemudian, saya mencari teman yang cocok untuk sama2 menikmati rangkaian acara yang diberikan. Kenapa harus pilih teman? Kalau saya sendiri sih nyari orang yang bisa diajak ribet dan yang penting gak riwil 😛 karena kalau udah ribet dan riwil, yakin bakal ngganggu perjalanan banget 😛  Acaranya tepat sekali setelah jadwal ujian akhir semester berakhir, 28-30 Juni.

Yes, Dieng Culture Festival menjadi tujuan awal liburan saya. Dieng Culture Festival adalah kegiatan tahunan yang diselenggarakan oleh Pokdarwis(Kelompok Sadar Wisata) Desa Dieng Kulon, Kecamatan Batur, Kabupaten Banjarnegara yang didukung langsung oleh Dinas Pariwisata Pemda Banjarnegara, Jawa Tengah, serta beberapa institusi swasta yang peduli dengan pengembangan kebudayaan dan pariwisata.

DCF ini digagas sebagai bentuk kegiatan pelestarian budaya dan tradisi yang masih bertahan di Dataran Tinggi Dieng, dengan tradisi utamanya yaitu ruwatan(upacara ritual) memotong rambut anak yang berambut gimbal di Dieng.  DCF tahun ini merupakan DCF yang ke empat. Berikut saya jabarkan rangkaian acaranya.

28 Juni 2013

  1. Pembukaan DCF, pelepasan Napak Tilas Budaya Oleh Pemangku Adat & Kunjungan Stan Pameran.
  2. Gelar Seni Tradisional.
  3. Festival lampion.

29 Juni 2013

  1. Minum Purwaceng Bareng.
  2. Pelepasan Balon Balon Tradisinal.
  3. Pagelaran Seni Tari Tradisional.
  4. Pagelaran Wayang Kulit.
  5. Pesta Kembang Api.

30 Juni 2013

1. Kirab Cukur Rambut Anak Gembel.
2. Jamasan Rambut Anak Gembel.
3. Prosesi Pencukuran Rambut Anak Gembel.
4. Sambutan-sambutan.
5. Penutupan Prosesi.
6. Nominasi Fest Film Dieng.
7. Gelaran Jazz diatas Awan.

Saya mengikuti rangkaian acara baru dari pagelaran wayang kulit. Kemacetan di perjalanan membuat kami kehilangan rangkaian pembukaan acaranya. Tapi, itu semua terbayar keesokan harinya dengan trekking bukit sikunir. Tepat jam 4 pagi berangkat ke bukit sikunir untuk menunggu hadirnya Golden Sunrise, matahari terbit yang sering diincar bule-bule untuk diabadikan.

photo

Setelah pulang dari trekking sikunir, saya langsung menghadiri ritual pencukuran rambut gembel yang telah ramai dikunjungi wisatawan.

photo (2)

Disebut gembel, karena jenis rambut yang menyerupai gelandangan yang tidak pernah mencuci rambut. Bukan karena faktor keturunan, tetapi itu hanya bisa tumbuh alami pada anak-anak di Dataran Tinggi Dieng. Secara medis, penyebab gembel masih belum diketahui secara jelas, namun yang pasti biasanya rambut gembel akan muncul dengan disertai anas demam yang tinggi, disertai mengigau pada waktu tidur. Gejala ini tidak bisa diobati sampai akhirnya akan normal dengan sendirinya dan rambut sang anak akan menjadi kusut dan menyatu.

Sehari sebelum diadakan ritual ruwatan, terlebih dahulu dilakukan prosesi napak tilas yang dipimpin oleh Sesepuh Pemangku Adat serta beberapa tokoh menuju candi-candi. Prosesi pencukuran rambut gembel dilanjutkan dengan kirab(arak-arakan) – jamasan(memandikan) – pencukuran – ngalap berkah larungan.

Ritual ini peninggalan leluhur yang hingka kini menjadi tradisi turun-temurun yang ada di Dataran Tinggi Dieng. Menurut cerita, Gembel sudah ada sejak jaman Kyai Kolodete dan Nini Roro Ronce, beliau adalah leluhur Dataran Tinggi Dieng. Gembel dianggap sebagai bala atau malapetaka. Oleh karena itu, gembel harus dicukur melalui upacara ruwat. Upacara ini biasanya dilakukan setelah si anak mengajukan permintaan langsung kepada orang tuanya. Tapi anehnya, bila tradisi ruwatan tidak dilaksanakan atas permintaan gembelnya sendiri maka sekalipun sudah dicukur, rambut gembel akan tumbuh kembali.

Kemeriahan pada saat proses pencukuran rambut gimbal.

photo (1)

Sore harinya, saya menuju coffee corner yang ada di dekat museum kailasa. Di coffee corner ini, saya bertemu dengan coffee story teller, Om Pepeng (@escoret). Beliau memberikan coffee clinic yang makin membuat saya tertarik untuk jauh mempelajari detil-detil kopi. Nikmat, berada di bukit sambil menikmati kopi khas asli Indonesia, saya dan teman-teman saya disuguhi kopi Kalosi dari Toraja dan Kopi dari Dataran Dieng. Top markotop!

photo (3)

Pada malam harinya, merupakan penutupan acara dari Dieng Culture Festival IV ini adalah Jazz Atas Awan. Konser musik jazz yang diisi oleh beberapa musisi lokal(Dieng) dan nonlokal ini tak kalah hebat dengan Java Jazz Festival. Dengan suhu mencapi 8 derajat celcius, kita dimanjakan  dengan alunan jazz yang progressive-mendayu.

 

Waw! Begitu acara ini selesai saya terkagum-kagum, di dataran tinggi, di tengah Pulau Jawa, jauh dari hiruk pikuk kota, ada suguhan acara yang menakjubkan seperti ini. Indonesia memiliki banyak budaya yang masih hidup! Kita sebagai warga Indonesia harus membantu menyebarkan setiap budaya-budaya yang ada di negeri ini agar tak mati oleh zaman!

Acara ini sungguh sukses! salute untuk panitia Dieng Culture Festival!

3 thoughts on “Dieng Culture Festival

anotasi

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s