Zonasi Penerimaan Siswa Baru

Holaaaa selamat bertemu kembali di blog saya yang akan membahas tentang pendidikan

Belum lama ini, kenaikan kelas telah dilaksanakan yang kelas 1 naik ke kelas 2, kelas 2 ke kelas 3, dst. Kebetulan saya punya adik yang sedang ada di kelas 3 SMP dan ingin beranjak ke 1 SMA. Terus kenapa?  Eits, sabar… intronya dulu, untuk mendapatkan SMA favorite, tiap anak harus bersaing dengan anak yang lain pada Ujian Nasional untuk mendapatkan bangku di sekolah tersebut. Lalu, apabila nilainya kalah saing akan terus tergerus dan turun ke pilihan sekolah yang tingkatannya lebih rendah.

Proses/cara tersebut masih berlaku, tetapi yang berbeda sekarang ialah adanya zonasi penerimaan siswa baru. Apatuh? Nah mari kita telisik pelan-pelan apa itu zonasi penerimaan siswa baru, berikut dampak positif dan negatifnya.

3psb-online-2012

Zonasi penerimaan yang diterapkan itu sendiri di berlakukan untuk tingkat SD dikelompokkan berdasarkan kelurahan, SMP zona kecamatan, dan SMA zona rayon. Untuk komposisi kuota dalam sistem itu sendiri, urai Taufik, memiliki porsi yang berbeda-beda. Untuk tingkat SD sebanyak 5 persen ditujukan untuk siswa luar daerah DKI, 45 persen provinsi, dan 50 persen zona lokal. Sementara untuk tingkat SMP, 5 persen jalur prestasi, 5 persen luar provinsi, 45 persen provinsi, dan 45 persen zona lokal. Saya kasih kasus, orang tua saya ber-KTP Depok, adik saya SMP di Jakarta, untuk masuk ke SMA Jakarta, kini dilihat KTP orang tuanya, tidak seperti dulu yang hanya dilihat di mana ia sekolah (Jakarta/non Jakarta).

Kira-kira seperti itu arti dari zonasi penerimaan siswa baru dan kuota penerimaannya. Di sisi lain, adik saya masuk SMA dengan jalur prestasi di mana prestasi yang ia dapat di SMP dalam kejuaraan taekwondo. Lalu, apa dampak positif dan negatif dari zonasi penerimaan siswa baru ini?

Yuk kita bahas pelan-pelan, pembahasan ini berlandaskan pada opini pribadi dan fakta yang ada di lapangan..

zonasi penerimaan siswa baru ini diperkirakan akan dapat memperkecil angka bangku kosong di tiap sekolah. Kemudian dengan adanya zonasi ini, murid yang pandai di daerahnya “disarankan” untuk bersekolah di daerahnya dan untuk membantu pemerataan pendidikan. Simplenya, putra daerah diminta untuk bersekolah di daerahnya.

Namun, zonasi ini juga agak membuat bingung orang tua murid yang biasanya KTP tidak menjadi syarat untuk masuk sekolah, kini menjadi syarat untuk masuk sekolah di Jakarta. Anehnya, anaknya yang sekolah di Jakarta, kenapa KTP orang tuanya yg non jakarta dilibatkan? Kira-kira seperti itu. Kabar burungnya bahwa ada “pengurangan” nilai apabila ada yang melintas dari Depok ke Jakarta. Kemudian untuk putra daerah yang diminta untuk sekolah di daerahnya masing-masing ini ada masalah juga. Masalahnya di mana? Pertama, pasti yang namanya orang tua, ingin anaknya sekolah di sekolah favorite yang mana guru2nya kompeten, lingkungannya bagus, sarana dan prasarana lengkap yang mampu menunjang bakat dan kemampuan yang dimiliki anak. Apabila, putra daerah yang pintar ini di(sarankan)sekolah di daerahnya yang jauh dari kata favorite, bagaimana?

Ya.. sekiranya hanya itu yang bisa saya jelaskan dalam tulisan saya kali ini.. apabila ada kesalahan maksud dan tulisan, silakan dibetulkan. Karena semua ini berdasarkan opini-opini saya.. tugas kita mengawasi kegiatan pemerintah yang semisal belok maka kita harus luruskan.

Yuk sama-sama bangun Indonesia lebih baik melalui pendidikan : )

anotasi

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s