Solusi Kemacetan, Macet di Tengah Jalan

@TMCPoldaMetro

Lamanya lampu merah, padatnya pengguna jalan, ruas jalan yang berbanding terbalik dengan volume kendaraan, pelanggaran-pelanggaran lalu lintas menjadi cendera mata khusus apabila menikmati Jakarta. Sejak Gubernur Bang Ali, kemacetan sudah menjadi momok bagi Jakarta. Ali Sadikin yang terkenal keras kerap dibuat jengkel oleh kemacetan  Dalam memoar karangan Ramadhan KH, Bang Ali mengatakan “Lalu lintas di Jakarta brengsek. Sayalah yang paling tidak puas terhadap keadaan itu”. Pada waktu Ali Sadikin memimpin, penyebab macet di Jakarta ialah becak, oplet, dan kendaraan kecil lainnya. Kemudian, pada saat era Sutiyoso segala yang membuat macet pada zaman Bang Ali memimpin dibatasi dan dilarang di zona-zona tertentu. Kemacetan merupakan satu dari banyaknya masalah social. Sebuah daerah tak luput dari masalah social, entah berkurang entah masalah tersebut berkembang ke arah yang lebih kompleks.

Seiring dengan berjalannya waktu, ketika era Bang Yos berakhir, masuklah era Fauzi Bowo memimpin Jakarta tentunya dengan masalah yang “diwarisi” sebelumnya, Banjir dan Macet. Semakin maju zaman, semakin berkembang pula masalah yang akan muncul. Mudahnya masuk industry mobil dari luar menyebabkan volume kendaraan di Jakarta semakin meningkat. Meneruskan transportasi umum Busway sejak zaman Bang Yos, ternyata tidak cukup untuk mengatasi kemacetan di Jakarta. entah masyarakat yang acuh tak acuh terhadap keadaan, atau pemerintah kita belum menemukan solusi yang tepat untuk mengentaskan masalah ini.

Saat Ali Sadikin memimpin, ia menyesali tidak menyetujui proyek subway. Kini di masa kepemimpinan Jokowi dikabarkan akan adanya deep tunnel yang menghubungkan MT Haryono sampai Pluit, ini juga menjadi solusi penangkal banjir. Namun, apakah akan efektif?

Berbagai cara di masa kepemimpinan Jokowi dilakukan demi memangkas kemacetan, namun factor-faktor penyebab kemacetan juga sepertinya berlomba untuk terus mempertahankan keadaannya. Ketika dibangun jembatan layang non tol, masih kurang cukup untuk menjadi penguras macet. Malah menjadi sarang pelanggaran lalu lintas oleh pengendara.

BZp2V5fCAAAiVT2

Maksimalisasi transportasi umum seperti busway, commuter line dirasa kurang cukup untuk mengangkut pekerja yang berasal dari suburban sekitar Jakarta, seperti Depok, Tangerang, Bekasi, Bogor. Pekerja dari luar Jakarta pun lebih banyak daripada asal Jakarta.

Lalu, sampai kapankah drama kemacetan ini hilang? Atau minimal berkurang. Apakah setiap hari harus diberlakukan idul fitri di mana kota-kota besar menjadi lengang?

kita pun berperan menjadi solusi dalam mengurangi macet ini, paling tidak membuat sedikit solusi ini tidak berhenti di tempat.

Advertisements

leave your thought

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s