Yuk Keep Smile

caisarinsert

Acara hiburan saat sahur ini masih berlangsung sampai saat ini karena diyakini menghibur masyarakat. Namun, apakah semuanya nyaman dengan tontonan ini? Bagaimana acara ini bisa bertahan sampai sekarang? Berikut saya mengadakan polling kecil-kecilan untuk melihat tingkat kesenangan masyarakat berdasarkan pembaca yang datang ke blog saya.

 

Bertahannya YKS sampai saat ini adalah bukti bahwa acara itu banyak yang nonton. Terlepas dari siapa yang nonton, dari kelas apa, dan apapun yang telah saya bahas di postingan sebelumnya, televisi. Pokok bahasan saya pada postingan itu ialah bagaimana acara di televisi mengikuti selera kelas rendah(sebut saja pekerja kelas bawah; pembantu, teknisi, dsb) dalam menghidangkan acara pada jam primetime. Menganggap acara YKS atau sejenisnya adalah alat untuk menghibur hati kelas menengah atau kelas bawah dengan tolok ukur ekonomi ternyata salah besar.

Menjadi PR untuk saya menulis dari sudut lain tentang acara-acara televisi. Masyarakat yang kenal pendidikan atau dunia modern beranggapan bahwa acara televisi yang bagus tentunya yang edukatif, dan mendorong penonton untuk percaya terhadap sains, layaknya National Geographic, History Channel. Anggapan mengubah setting acara televisi menjadi 80% documenter seperti yang disediakan oleh Tv kabel saya rasa agak sulit.

Saya sempat melakukan beberapa penelitian kecil-kecilan terhadap acara di YKS, sempat saya twit­-kan beberapa waktu lalu.

1. Salah satu point plus yks itu adanya SPG yang cantik dan mau joget, bikin org penasaran utk nonton utk ngeliat mereka #YKS

2. SPG dibuat “down-to-earth” dgn diminta ikut joget. Sama rasa sama rata #YKS


3. Dengan itu, trafiknya naik konsisten kalau semua orang penasaran ingin lihat mereka. (Tidak semua melihat scr bersamaan) #YKS


4. Dgn masukin kru2nya ke dlm segmen, kl di ekonomi gimana cost nya tetep tanpa nambah modal tapi tetep ada yg ngiklan. #YKS


5. Analoginya, bakwan dibuat lebih kecil tapi harganya tetep dan masih ada yg beli. Karena semua suka bakwan. #YKS


6. Yang suka bakwan tentunya bukan masyarakat kelas bawah aja, tapi bakwanlah makanan ringan yg cocok di masyarakat umum #YKS


7. Tentunya, YKS tidak cocok dibilang acara utk ekonomi rendah. Tetapi, acara spt ini yang disukai banyak orang #YKS

8. Konteks banyak orang tidak terhenti di lingkup twitter ataupun media social lainnya. #YKS

 

twitter-spg-acara-yks-yuk-keep-smile-trans-tv

coba, siapa yang tidak tertarik acara tersebut diisi wanita-wanita cantik yang mau diajak joget

Budaya di masyarakat Indonesia yang senang bercanda menjadi pelatuk untuk jenis acara yang dihadirkan. Lalu apakah kita bisa menyelipkan hal edukatif dalam acara yang penuh canda tawa? Sangat bisa. Ini bagaimana tim kreatif dari acara tersebut mengemas hal-hal edukatif dalam sebuah acara. Perlu diingat, hal yang edukatif memiliki banyak cabang, artinya edukatif yang dapat membuat seorang berubah, selain edukatif, sebuah acara juga dapat mengemas tiap segmen untuk memunculkan rasa empati seseorang. Tetapi, semua itu tidak baik apabila diberi porsi berlebihan, hasilnya masyarakat akan acuh tak acuh karena seringnya acara yang menjual rasa simpati dan empati.

Kembali ke bahasan awal, Menganggap acara yang [dianggap] murahan/abal/alay oleh stasiun TV disebabkan masyarakat kelas bawah tentunya salah besar. Seperti yang sudah saya tulis di atas, budaya bercanda atau yang dianggap murahan memang sudah ada dalam keseharian masyarakat. Posisinya, media menjadi fasilitas untuk menghibur publik.

Dengan kata lain, selera masyarakat apalagi kelas ekonomi bawah menjadi bahan untuk setiap acara di televisi. Pihak televise lah yang membuat selera masyarakat dengan segala cara dan keunikan yang tiap kali dianggap aneh, alay, ataupun rendah dikalangan masyarakat tertentu.

Yuk Keep Smile J

Advertisements

8 thoughts on “Yuk Keep Smile

  1. Kalo menurut gue sih, YKS itu menghibur banget…. cuman ada tapinya.
    1. Durasi terlalu lama
    Coba YKS dikemas singkat, padat, dan jelas. Singkat disini menurut gue cukuplah 1 sampe 1,5 jam. Padat dan jelas lebih mengarah ke tema per episodenya, padat akan informasi dan jelas dalam fokus tema tiap episode.
    2. Guyonan tidak kreatif
    Coba deh referensi dari OVJ aja, mereka ngelawak tiap hari dan selalu mengalami perkembangan. Mungkin artis di YKS terlalu banyak ambil job yang sejenis jadinya guyonannya hampir sama ketika pindah stasiun TV.
    3. Tayang tidak usah tiap hari
    Menurut gue sih YKS akan lebih dinantikan dan lebih bagus jika tayang tidak usah tiap hari. Paling maksimal senin-jumat atau weekend aja atau sehari dalam seminggu.

    Jujur gue sih nonton YKS tapi gak tiap hari. Tergantung temanya juga lagi yang gue suka apa enggak. Soalnya kalo nonton tiap hari, bosan juga sih.

  2. YKS ngetop soalnya buat nonton ini orang ngga perlu banyak mikir. Tontonan yang easy watching lah istilahnya. Saya sih ngga terlalu suka, tapi sah2 aja stasiun TV bikin acara macam ginian. Cuman prihatin aja gara2 mempertahankan acara ginian, prime time jadi ngga pernah ada acara yang berbobot.

  3. Dulu waktu masih “Yuk Kita Sahur” sih lumayan terhibur, sekarang saya sudah bosan, malas lihatnya dan juga sebal karena durasinya yang begitu lama.

    Tapi mau gimana lagi, banyak orang-orang di luar sana yang begitu tergila-gila acara ini.

leave your thought

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s