Kembali Belajar

59 tahun lalu, mungkin tahun yang paling menegangkan sekaligus melegakan bagi Burhanudin Harahap karena telah berhasil mengemban tugasnya melaksanakan Pemilu pertama yang telah digodok sejak Indonesia Merdeka.

Berawal dari Maklumat dari Wakil Presiden Mohammad Hatta untuk pembentukan partai politik serta isu pemilu untuk memilih anggota DPR dan MPR. Namun, masih awalnya pemerintahan Indonesia kala itu, menjadi sesuatu yang harus dipikirkan lagi untuk melaksanakan Pemilu.  Masuk ke masa Demokrasi Liberal, pemilu menjadi tugas parlemen untuk dilaksanakan. Pembahasan UU Pemilu dilakukan kembali yang saat itu Indonesia dalam bentuk Negara Serikat. Pembahasan mengenai Pemilu jatuh bangun karena keadaan politik, keamanaan, dan pemerintahan yang cepat ganti. Dilanjutkan lagi setelah pemerintahan Sukiman. Pembahasan mengenai Pemilu tidak selesai pada saat kabinet Sukiman. Akhirnya, pada masa kabinet Wilopo, lahirlah UU no 7 Tahun 1953 tentang Pemilu. UU inilah yang menjadi payung hukum pemilu pertama 1955.

Pada pelaksanaan pemilu pertama, Indonesia dibagi menjadi 16 daerah pemilihan yang meliputi 208 daerah kabupaten, 2.139 kecamatan, dan 43.429 desa. Dengan perbandingan setiap 300.000 penduduk diwakili seorang wakil. Pemilu pertama ini diikuti oleh banyak partai politik karena pada saat itu NKRI menganut kabinet multi partai sehingga DPR hasil pemilu terbagi ke dalam beberapa fraksi.

Hari ini, tahun bergilirnya perhelatan pesta demokrasi kembali digelar. Apakah ke arah yang lebih baik?

Kalau saya berani bilang, sampai detik ini pemilu diselenggarakan saya rasa gitu-gitu aja setelah orde baru runtuh atau ketika masa reformasi tiba. Beberapa hal yang mendasari pernyataan saya salah satunya adanya angka golput yang tidak sedikit. Tentunya, persoalan memilih atau tidak memilih itu hak kita. Kembali lagi, pasti ada suatu hal yang buat seseorang golput. Apa? Ketidakpercayaannya rakyat terhadap calon yang telah mereka pilih sebelumnya.

Ada hal penting yang bisa kita pelajari dari Pemilu I. Pemilu I dinilai paling demokratis. Menurut saya, alasannya adalah orang-orang yang mereka pilih mempunyai rasa kepemilikan dan rasa tanggung jawab terhadap negeri ini agar bergerak ke arah yang lebih baik. Saat itu, mungkin rasa begah akan kondisi negeri seperti kerbau yang dicocok hidungnya. Pemilihnya pun akan mengikuti, kala itu pemilih di beberapa daerah Jawa Barat harus digilir dan memilih dengan keadaan hati tidak tenang karena ada pemberontakkan dari DI/TII. Meski dalam keadaan genting, mereka tetap menggunakan hak suaranya untuk memilih.

Bagaimana dengan sekarang? Kegentingan kita manuver menjadi lebih kompleks. kita akan genting setelah kita pilih caleg, dia akan seperti apa? Akan seberapa “ngaruh” dia untuk kita? Beda masa, beda masalah. Masalah tak akan pernah hilang, kemungkinan yang terjadi masalah berubah menjadi lebih kompleks. rasa kepemilikan dan tanggung jawab, dipupuk dari orang yang mencalonkan dirinya sebagai anggota legislative. Apabila mereka(caleg) telah memulai dan membuktikan bahwa Ia ingin berniat membuat Indonesia ke arah yang lebih baik, mungkin predikat Pemilu paling demokratis akan berpindah tangan pada pemilu berikutnya. Terakhir, mengutip pernyataan Goenawan Mohamad melalui akun twitternya, “Demokrasi adalah ketika kita sadar: sendirian di bilik suara, kekuasaan itu ada di tangan kita.”

Advertisements

9 thoughts on “Kembali Belajar

  1. semoga ke depannya, Indonesia bisa lebih baik.

    dari kutipan tadi… bisa jadi di dalam bilik suara, banyak orang yang telah salah menggunakan kekuasaannya karena salah pilih partai dan caleg 😀

leave your thought

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s