Bukan Sekadar Memilih

“ah, sudah capek gue liat kampanye serang sana serang sini..”

 “intinya, siapa yang menang/kalah, mereka berdua harus saling bantu kalo niatnya bangun Indonesia”

Jawaban yang dilontarkan teman saya ketika saya bertanya iseng tentang siapakah yang nanti akan dipilih pada pilpres nanti?

Setuju, saya juga capek dengan kampanye yang saling menjelek-jelekkan poros kiri maupun kanan. Entah itu black campaign entah negative campaign, saya rasa dampak terhadap orang awam pun hampir sama, yaitu melahirkan generasi nyinyir.  Walaupun menurut KBBI, arti nyinyir sendiri adalah cerewet, nampaknya sekarang mengalami pleonasme makna menjadi sinis.  Seolah tidak ada baiknya kedua pasangan tersebut.

Kemudian, bukan persoalan saling bantunya. Ini masalah siapa yang akan memimpin negeri ini. Kalau saya tidak salah, di buku Miriam Budiardjo dikatakan bahwa hakikat politik adalah kekuasan. Iya, saling gotong royong membangun Indonesia adalah kewajiban kita sebagai warga Negara. Lebih jauh lagi, ini persoalan siapa yang akan memegang kekuasaan. Ibarat memilih nakhoda kapal, tentu kita akan pilih nakhoda yang mengerti kompas, pengalamannya mengarungi ombak, diterjang badai, dan bagaimana siasatnya menghadapi itu sewmua. Nakhoda tidak bekerja sendirian pastinya, Ia bersama awak-awak kapal yang tugasnya memantau apakah pasokan bahan bakarnya cukup atau tidak, awak-awak kapal yang akan melihat kondisi-kondisi yang lebih substantif daripada Nakhoda kapal, seperti kebocoran di deck.

Sama seperti memilih pemimpin, kita memilih sosok yang mampu ngemong kita(rakyat-rakyatnya) dengan cara yang dia miliki. Kembali ke analogi Nakhoda, seorang pemimpin kapal yang akan mengarungi samudera luas berusaha mengajak awak kapalnya untuk bekerja bersama, tidak seperti seorang bos. Koordinasi antara Nakhoda dan awak kapal sangat dibutuhkan untuk mengarungi lautan. Pemimpin yang baik adalah pemimpin yang mengajak, memberi contoh, dan memanusiakan kerabat-kerabatnya.

Ibu saya pernah bilang, “nek dadi pemimpin kuwi sing iso ngayomi, ngayemi, lan ngayahi”. Pemimpin harus bisa memberi perlindungan, membawa ketenangan, dan melaksanakan tugasnya. Saloka jawa itu menjadi payung kehidupan yang diberikan oleh ke tiga anaknya karena manusia pada dasarnya harus bisa memimpin, minimal untuk dirinya sendiri.

Memilih Pemimpin

Penerapan saloka jawa tersebut dapat diterapkan dalam memilih pada pemilihan presiden nanti. Pemimpin harus ngayomi, memberi perlindungan. Me­-ngayomi ­­­bukan berarti memimpin secara otoriter mengerahkan seluruh kemampuan militer untuk melindungi warga.Sebagaimana seorang bapak dalam keluarga, kewajiban pemimpin harus mampu menunjukkan tanggung jawabnya, mampu melindungi hak-hak warganya, tidak kabur ketika ada masalah.

Ngayemi, pemimpin harus membawa ketenangan. Kalau seorang bapak di rumah, ngomel-ngomel, teriak-teriak menjadi hobinya, siapa yang betah kalau lagi di rumah? Sosok yang mampu membuat ketenangan lahir dari hati yang tulus, tutur Bahasa yang halus, dan kehadirannya disenangi oleh orang banyak. Sosok tersebut muncul ketika seorang pemimpin bukan memosisikannya sebagai atasan/bos, tetapi seperti teman dekat, sehingga tidak ada gap antara pemimpin dengan rakyatnya. Seorang yang mampu ngayemi pasti tidak mempunyai rekam jejak yang buruk, ia tentu orang yang disegani, tidak mencipta terror, ataupun otoriter.

Ngayahi, kembali pada hakikatnya, pemimpin harus bisa melaksanakan tugasnya dengan baik. Pemimpin mampu memberikan solusi atas masalah-masalah yang dihadapi, pemimpin harus memberikan putusan yang tepat, bukan ujug-ujug menagih pekerjaan kepada karyawannya tanpa melakukan kerja nyata.

Seorang presiden saat bekerja dibantu dengan menteri-menterinya. Politik dagang sapi atau tawar menawar kursi pada pembentukan koalisi di kabinet pun sudah terkenal sejak masa demokrasi terpimpin ketika saat itu dipimpin oleh Ali Sastroamidjojo II.  Walaupun telah dimodifikasi sedemikian rupa, tak dipungkiri, sampai kabinet kemarin, bagi-bagi kursi pun masih jadi jalan terakhir untuk mengisi slot kursi-kursi menteri di kabinet. lebih dalam lagi, sistem bagi-bagi kursi ini diisi oleh partai-partai yang mendukung presiden tertentu. Alhasil, orang-orang yang diminta mengisi slot kursi menteri adalah orang-orang yang bukan ahlinya.

Secara perilaku wajar saja memberikan slot kursi kepada orang dari partai yang telah membantu kemenangan, tapi sudah di luar nalar kalau memberinya berdasar asas tidak enak bukan melihat kapabilitas dari orang tersebut yang akan mengisi.

Idealnya, bagi-bagi kursi kabinet kepada partai politik pendukung nampaknya harus segera dihilangkan. Pasalnya, dengan zaman yang semakin kompetitif diperlukan pemerintahan yang tangguh.  Saat ini, Indonesia sudah butuh orang-orang pintar di bidangnya masing-masing untuk memajukan negeri ini, bukan semata mengisi kekosongan kursi.

kita memiliki dua calon presiden yang memiliki latar belakang berbeda, berbeda pula pendukung-pendukungnya. apabila keduanya masih menerapkan sistem bagi kursi, kita harus lihat, siapa yang menjadi pendukungnya sekarang, siapa yang membantu ia berkampanye, tentu orang tersebut secara tidak langsung “meminta” jatah kursi, maka dari itu memilih presiden bukan sekadar memilih perseorangan melainkan memilih tim. tim yang akan bekerja sama membangun negeri ini.

Dorongan untuk adanya pemimpin yang bisa membawa Indonesia kepada tingkat yang lebih tinggi lagi mampu diwujudkan dengan penerapan saloka jawa, ngayomi, ngayemi, ngayahi. Dengan kata lain, untuk membuat sosok yang diharapkan menjadi nyata, bukan sekadar mencelupkan jari ke dalam botol tinta, bukan sekadar memilih saja, bukan persoalan dapat membangun Indonesia dari level mana saja, ini tentang sosok seperti apa pemimpin kita nanti, bagaimana ia menuntun kita mengarungi lautan luas.

14 thoughts on “Bukan Sekadar Memilih

  1. Jadi apakah kita akan sama: golput (lagi)?

    Tapi masih ada beberapa hari untuk lihat-lihat sebelum menentukan milih siapa atau ga milih satu pun. I just wanna set myself free for voting a good leader or nobody. Peace….

  2. menarik, mas. betul sekali memilih pemimpin bukan hanya memilih pemimpinnya saja tapi ada orang2 dibelakang yang mendukungnya, justru itu yang harus kita waspadai.

    salam

  3. Bagi-bagi kursi yang seperti itu menghawatirkan, mas. semoga nanti yang terpilih, siapapun, bisa benar-benar membentuk kabinet yang seperti mas bilang, tangguh. mudah-mudahan juga, Indonesia bisa menjadi lebih baik, dalam berbagai aspek.

  4. ini postingan yang nyambung dengan postingan saya yah? 😀

    yg pasti, negara ini nggak akan maju kalau salah satu kubu ngambek ketika kalah dan nggak mau bantu membangun indonesia untuk lebih baik lagi

    1. nah iya, mas…

      makanya dampaknya gak akan kecil tapi besar, kayak kotak-kotak. seperti yang mas bilang
      “Sebab bisa saja keputusan tersebut tidak berdampak langsung bagi dirinya, namun bisa berdampak bagi orang lain yang dirinya tak pernah tahu atau kenal.”

anotasi

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s