Memang Jodoh

memang jodoh - Marah Rusli
memang jodoh – Marah Rusli

Setelah baca buku ini, saya baru tahu dahulu orang memegang teguh tradisinya amat keras sekali. Sekalipun ada sesuatu yang tidak enak di hati pun masih harus mementingkan adat dan tradisinya. Memang Jodoh – Marah Rusli bukan buku yang bercerita tentang percintaan semata, melainkan bagaimana budaya suatu suku bekerja. Buku ini merupakan semiautobiografi dari Marah Rusli. Buku terakhir yang dibuat oleh Marah Rusli setelah Siti Nurbaya.

buku ini merupakan hadiah dari 50 tahun pernikahan antara Marah Rusli dan Rd. Ratna Kencana. Naskah novel ini tersimpan rapi selama beberapa tahun karena Marah Rusli baru mengizinkan novel ini terbit ketika orang-orang yang ada dalam novel ini meninggal dunia.

Tidak lepas dari kisah cinta seperti di cerita Siti Nurbaya, buku Memang Jodoh masih cukup kental berisi tentang budaya Minang. Marah Hamli, tokoh utama pada buku ini adalah anak yang rajin dan pandai, sehingga mendapatkan prestasi yang membanggakan saat di sekolahnya. Atas permintaan ayahnya, Sutan Bendahara, Ia dibolehkan untuk melanjutkan sekolahnya di negeri Belanda. Namun, ketika Hamli izin kepada ibunya, Siti Anjani, mengenai kelanjutan sekolahnya di negeri Belanda, ia tidak direstui. Ibunya merasa takut ditinggal ke negeri jauh oleh anak satu-satunya itu. Atas permintaan Ibunya tersebut, Hamli akhirnya kuliah di Institut Pertanian Bogor dan tinggal bersama neneknya Siti Katijah.

Sebelum berangkat Hamli menyadari bahwa dirinya menderita sakit ‘pilu’ yang menyebabkan dia selalu merasa galau dan rindu akan sesuatu yang tidak dimengertinya.

Tadinya Hamli berharap dengan merantau di Bogor maka penyakit pilunya akan sembuh. Namun ternyata Hamli tidak juga kunjung sembuh hingga akhirnya ia bertemu dengan Din Wati, gadis Priangan berdarah biru yang menawan hatinya dan menyembuhkan penyakit pilunya. Hamli sadar bahwa cintanya terhadap Din Wati akan mendapat tantangan dari keluarganya karena hal itu melanggar adat Padang yang tidak mengizinkan pernikahan beda suku.

Berita pernikahan Hamli dengan Din Wati tersebar tatkala Burhan, saudara jauh Hamli yang dari Surabaya datang ke Bogor, kemudian sempat suka terhadap Din Wati. Namun, ia sadar Hamli dan Din Wati sudah sedemikian dekatnya sehingga tak mungkin ia memilikinya. Setelah itu Burhan kembali ke Padang dan memberitakan berita tersebut di depan ibunya Hamli, Siti Anjani. Melebarlah berita mengenai Hamli menikah dengan beda suku yang sangat dilarang oleh adat Padang. Sampailah berita itu ke keluarga besar Hamli di Padang. Berbagai cara keluarganya berusaha merobohkan tiang jodoh antara Hamli dan Din Wati. Mulai dari Din Wati dihasut untuk meninggalkan Hamli, sampai percobaan ilmu hitam untuk membuat Din Wati gila.

Akhir kata ada banyak hal yang dapat kita petik dari novel ini, Pembelajaran mengenai tradisi Padang pada masa lalu yang bisa saya dapat dari novel ini. Juga beberapa pepatah-pepatah yang tertuliskan pada bagian buku ini cukup banyak sehingga bisa dipelajari.

Advertisements

5 thoughts on “Memang Jodoh

leave your thought

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s