Kerukunan Dalam Keberagaman

Di Indonesia, warganya seolah diajari cara bunuh diri yang kontemporer, yaitu dengan menjadi bagian dari agama atau aliran minoritas. Cara ini terbilang baru karena yang membunuh bukan berasal dari pisau yang kita pegang atau tali yang kita gantung, melainkan  kepalan tangan, genggaman golok, dari tangan orang lain. Menarik bukan, bagaimana perbedaan justru menjadi ancaman bagi nyawa kita di negeri ini.

padahal dalam al quran pada surat Al Kafirun sudah jelas dikatakan bahwa (4) Dan aku tidak pernah menjadi penyembah apa yang kamu sembah; (5) Dan kamu tidak pernah (pula) menjadi penyembah Tuhan yang aku sembah; (6) untukmulah agamamu, untukkulah agamaku. setiap orang memiliki keyakinannya masing-masing, itu yang membedakan agama satu dengan yang lain. namun, ada persamaan dalam hal kemanusiaan, semua agama menjunjung tinggi nilai kemanusiaan, artinya setiap orang berhak untuk mendapatkan hak-haknya sebagai manusia di agama atau keyakinan manapun. bahwasanya kita harus menjaga hubungan antara habluminallah dan habluminannas. 

Penyerangan warga syiah di Sampang, Madura merupakan catatan kotor negeri ini dalam menerapkan prinsip demokrasi dan semboyan Bhinneka Tunggal Ika. Ini ironis, mereka lebih memilih membantai orang-orang yang justru melakukan ibadah daripada meluruskan jalan muda-mudi yang melenceng dari aturan agama. Entah apa yang ada dalam pikirannya, mungkin ia merasa menjadi utusan Tuhan yang diberi tugas menghakimi dan mengadili suatu kaum di negeri ini. Peristiwa ini yang menyebabkan munculnya statement bahwa kerukunan beragama hanyalah mitos semata.

Kemelut pikiran dalam fanatisme atau ashobiyah menjadi penghambat manusia untuk berpikir secara holistic karena hanya menerima pandangan dari kalangan internal mereka saja dan tidak menerima masukan dari luar golongan mereka(fanatis agama –red). Bahkan, untuk mendengarkan masukan secara ikhlas saja terkadang terlihat sulit karena telah tertanam dalam pikiran mereka bahwa golongannya yang paling benar.

Berkaca pada apa yang terjadi saat ini, umat islam yang jumlahnya banyak di negeri ini seperti insecure dengan adanya kelompok minoritas yang jumlahnya bisa dihitung dengan jari. Ini menandakan bahwa satu kelompok kecil dengan kualitas yang baik dapat “mengalahkan” kelompok besar yang jumlahnya banyak.

karena akibat perjalanan sejarahnya sendiri tidak sanggup lagi membedakan nilai-nilai yang disangkanya Islami, mana yang transdental dan mana yang temporal. Karena membela islam menjadi sama dengan membela tradisi ini, timbul kesan bahwa kekuatan islam adalah kekuatan tradisi yang bersifat reaksioner. Hal inilah yang membuat sebagian orang tidak sanggup merespon secara wajar terhadap perkembangan pemikiran yang ada sekarang ini.

Seluruh umat beragama di Indonesia bebas melakukan aktivitas keagamaan di mana UUD menjamin dan melindungi. Melarang seseorang beragama terlebih lagi melukainya merupakan pelanggaran berat UUD dan bisa berdampak sistemik seperti yang terjadi di Afghanistan, Irak, Syiria, atau Mesir.

oleh karenanya, pembaruan pemikiran di kalangan umat islam sangat urgen dilakukan melalui penanaman nilai-nilai toleransi. melalui keterbukaan tidak perlu khawatir lagi akan perubahan yang terjadi pada tata nilai duniawi manusia. keterbukaan berupa kesediaan menerima dan mengambil nilai-nilai dari mana saja, asalkan mengandung kebenaran. Sejalan dengan kebebasan berpikir, kita harus bersedia mendengarkan perkembangan ide-ide kemanusiaan dengan spectrum seluas mungkin, kemudian memilih mana yang menurut objektif mengandung kebenaran.

Menerima perbedaan pendapat adalah salah satu cara untuk menanamkan nilai-nilai toleransi, ini kecil tapi berdampak besar. bagai menanam benih sebuah pohon, hasil buahnya bisa berupa pemahaman mengenai nilai toleransi beragama. Imam Syafii pernah berkata “Pendapatku benar, tapi memiliki kemungkinan untuk salah. Sedangkan pendapat orang lain salah, tapi memiliki kemungkinan untuk benar.” Perkataan Imam Syafii di atas akan mudah dilakukan kalau pikiran kita didasarkan pada prasangka baik dan sikap saling menghargai.

bhinneka_tunggal_ika_by_sempaxwarrior-d5bhrbc
indonesia memiliki beragam suku/budaya/bahasa

Walaupun perbedaan akan menimbulkan persaingan juga, tetapi persaingan tidak semata-mata dilakukan melalui klaim pembenaran satu kelompok, melainkan melalui bukti nyata yang diperlihatkan oleh kebaikan dari tiap-tiap keyakinan. Dengan kata lain, berlomba-lomba melakukan kebaikan pada tatanan sosial hubungan antarmanusia. Dengan ini akan terjalin kerja sama antara umat beragama. Jadi, untuk apalagi kita senantiasa menghakimi mereka yang pendapatnya berseberangan?

Ahmad Wahib dalam catatan hariannya mengatakan hal lain yang harus diperhatikan untuk menerapkan nilai quran dan hadist ialah kondisi sosial. Sudah kodratnya apabila penerapan Al Quran bila diimbangi dengan kesadaran akan kondisi sosial maka akan jauh dari konflik. Dalam suatu tulisannya, Wahib juga menginterpretasikan islam  sebagai proses menuju penyempurnaan. Bukan sekadar membenarkan nilai-nilai yang dipahami oleh satu kaum. Tak elak, tanpa memahami kondisi sosial, penerapan nilai quran sendiri menjadi hal yang sekadar memaksakan.

Kemajemukan yang ada di Indonesia, baiknya menjadi standar perdamaian bahwa hidup yang damai adalah mampu mengkolaborasikan perbedaan-perbedaan yang ada menjadi indah bukan mengaspalnya menjadi satu warna. Kemajemukan semestinya menjadi pelangi bagi kehidupan bermasyarakat, kemajemukan semestinya menjadi pelajaran untuk hidup damai dalam perbedaan.

Ah, tidak. ini bukan mengenai keyakinan untuk membenarkan semua agama. Ini hanya ajakan khusus untuk menghargai keberagaman, ini hanya landasan kecil dalam menerapkan prinsip Bhinneka Tunggal Ika. Semboyan itu bukan hanya menjadi pelengkap untuk mengisi kayu yang dicengkram oleh cakar garuda semata, semboyan itu menjadi alasan kita bahwa keberagaman itu seharusnya membuat kita satu.

Masyarakat indonesia sangat heterogen baik secara vertical maupun horizontal dan memiliki susunan dengan ciri pluralitas sangat tinggi. Oleh karena itu, kita membutuhkan pemimpin demokratis yang mengerti akan pluralism, ideologi, dan perlindungan hak asasi manusia tentu yang berlandaskan konstitusi negeri ini, UUD 1945.

Setelah kita meyakini keadilan sosial sebagai nilai dan cita-cita, maka tinggallah kita memikirkan bagaimana melaksanakannya. Pemerintahan yang dipercaya oleh rakyat ini adalah orang-orang yang wajib di garda depan dalam mengemudikan Republik ini. Adalah kewajaran jikalau kita berharap pada sosok Kepala Negara yang adil. Kepala Negara harus sering mengingatkan tentang makna keadilan dan kerukunan. Sebuah urusan penting memilih seorang pemimpin karena menyangkut urusan orang banyak, jadi diperlukan pertimbangan-pertimbangan yang ekstra untuk memilih bukan sekadar satu garis keimanan saja, Sehingga mampu menciptakan kerukunan dan kedamaian dalam keberagaman antar umat beragama.

 

Advertisements

22 thoughts on “Kerukunan Dalam Keberagaman

  1. seharusnya seh, negara punya peranan penting untuk membersihkan aliran-aliran yang tidak diakui dan malah cenderung mengotori agam yang memang jelas diakui negara.

    1. asal konteksnya sesuai dengan al quran dan tidak berlaku seenaknya (penyerangan, pembunuhan). Nanti malah jadi terbalik, orang yang justru beragama karena responnya(tindakannya) malah merusak agamanya sendiri

      1. ya bisa jadi. sebab tingkat atau level keagamaan orang-orang beda-beda… dan responnya juga beda-beda. orang-orang yang melihat respon itu pun nangkapnya bisa beda-beda lagi

          1. Betul itu. Minoritas maupun mayoritas harus saling mengerti. Tidak ada yang dispesialkan oleh manusia, semua sama di mata Allah

  2. gua masih belum yakin sih bakal terwujud kerukunan dalam keragaman di indonesia. masih terlalu banyak orang yang menganggap dirinya benar. memandang orang lain dengan kacamatanya sendiri. tapi, semoga deh suatu saat.

    1. mengubah hal yang sudah mengakar sama seperti menebang pohon, kalo akarnya gak dicabut, masih akan tetap tumbuh.. pelan2 emang.. minimal ada perubahan… semoga saja

  3. kayaknya ga usah jauh jauh di madura, di jakarta juga ada yang biasa disebut ormas islam yang tindakannya kadang bikin saudaranya sendiri malu. islam sebagai proses penyempurnaan itu menurut saya tepat, karena mau itu pemeluk islam aliran a atau aliran b, semuanya sama-sama ingin menjalankan kebaikan dan menjadi sempurna sebagai pemeluk suatu agama, bukan salah satunya “menggurui” apa yang ia angap benar dan menggangap dirinya sudah menjadi yang paling benar.

  4. Belum bisa van. Pendidikan belum merata (atau sengaja dibuat tidak merata) karena (asumsi) pemerintah merasa stabilitas mereka terancam bila rakyatnya berpendidikan. Pada saat pemerintah mengeluarkan keputusan yang kurang populer dan berpotensi terjadinya penolakan secara besar, mereka cukup melempar isu-isu berbau SARA (bukan cuma agama) untuk meredam hal ini.

  5. Dari sekian bacaan dan juga fenomena yg gue liat, gue Cuma bisa simpulin ini. Gue pake bahasan agama aja ya, sama2 ceramah hahaha, Sebenernya ini udah di nubuwatin (diramalkan) oleh Rasulullah SAW ttg perpecahan agama, islam bakal kebagi jadi 73 golongan, dan hanya satu yang bakal masuk surga yakni Al Jamaah, byk banget haditsnya soal ini ttg tanda tanda akhir zaman, lo googling aja, contohnya hadits Abu Daud “Rasulullah SAW bangkit dan memberikan khutbah, dalam khutbahnya beliau berkata, ‘Millah ini akan terbagi ke dalam 73 golongan, seluruhnya akan masuk neraka, (hanya) satu yang masuk surga, mereka itu Al-Jamaa’ah, Al-Jamaa’ah. Dan dari kalangan umatku akan ada golongan yang mengikuti hawa nafsunya, seperti anjing mengikuti tuannya, sampai hawa nafsunya itu tidak menyisakan anggota tubuh, daging, urat nadi (pembuluh darah) maupun tulang kecuali semua mengikuti hawa nafsunya.” HR. Sunan Abu Daud. Jadi ya pastilah dengan banyaknya sekte, paham, fiqih dan imam yang berbeda – beda dalam internal agama sendiri, satu sama lain saling mengunggulkan yang dianutnya. Tapi ya gue risih sama orang yang ngekafirin sesama saudaranya sendiri, padahal kalo lo tau, yang ngekafirin orang lain maka dirinya sendiri yang kafir. Juga, Semakin jauh jarak waktu kita dari diturunkannya seorang Nabi, maka akhlak manusia juga pasti merosot, jadi beruntunglah yang hidup dijaman Rasul. Nah berakhirlah kek sekarang, manusia itu ngandelin yang namanya ulama/ustadz. Gue menyayangkan soal hal ini, mau diTv, mau ditwitter atau media apapun, byk banget yang dikatain atau mengatai dirinya ulama suka menyesat – nyesatkan keyakinan orang lain, ustadz sunni pasti bilang laknatullah sm yang syiah, yang syiah juga mungkin demikian. Padahal gue pernah baca kalo ulama itu dlm Quran artinya asal dari kata ilm artinya yang berilmu, tapi ilmu itu sekarang jadi disalahgunain sampe mencap keyakinan lain salah, Padahal kemungkinan kita jadi manusia ada digolongan yang bener Cuma 1 : 73, mungkin bagi orang – orang awam yang gatau, mereka menelan bulat2 apa yang dikatain orang yang dianggapnya paham agama. Kita tau sendiri, kalo pake ilmu kognitif, pikiran kita mengaruhin tindakan kita. Kalo asupan sama pikiran kita kotor, ya pasti tindakannya juga ga jauh dari kotor. Dampak dari tindakan – tindakan kotor itu sesuai kata lo, ngaruhin sama pandangan orang lain baik muslim maupun non muslim terhadap agama itu sendiri. Kepanjangan ya bahas agama hahaha, tapi yg gue simpulin, kalo faktor ulama itu ngaruh sama kognisi manusia Indonesia, kedua karena konflik di Timteng, di Indonesia itu yang anti-syiah banyak anet, temen dikelas aja banyak //you know who//, jadi kalo dikalangan temen2 kita sendiri aja kek gitu, mungkin ga jauh beda sama para pejabat pemegang kekuasaan, makanya yang syiah sampang diungsiin, ahmadiyah transito juga diungsiin hanya karena keyakinan mereka dianggap berbeda dari mayoritas. MUI misal, nuntut syiah sama ahmadiyah jadi agama baru di Indonesia, kalo menurut gue sih lucu ini, karena yang namanya agama gabisa didiriin sama manusia maupun negara. Terus negara sama UU ga punya hak intervensi ngatur2 keyakinan seseorang, ini udah diatur dalam UU 39/1999 tentang HAM, gue lupa pasal sama ayatnya tetapi negara kita menjamin tentang kebebasan beragama. Kehidupan gue diunpad juga gitu, seminar2 yang dibikin DKM banyak yang menyisihkan bibit2 intoleransi, misalnya bahaya sepilis, syiah, antiJIL dll, kurang banget sama seminar yang nentramin hati, tentang toleransi maupun tentang keindahan agama kita. Gue kagum sama menteri agama sekarang, Pak Lukman, dia toleran juga adil. Terus ada ayat di Quran, surah sama ayatnya lupa, tapi isinya setidaksuka apapun kita terhadap suatu kaum/golongan, kita tetap harus berbuat adil. Kalo kata gue beberapa tindakan kayak ngungsiin syiah sama ahmadiyah itu tindakan gak adil dan jauh dari kata manusiawi, agama itu memanusiakan manusia. Terlebih, empati sama minoritas itu penting, mereka jadi minoritas itu hak sama pilihan mereka. Kalo belajar tentangg sunni jangan sama orang syiah, begitupun kalo mau ttau tentang syiah jangan sama orang sunni. Kalo mau tau tentang ahmadiyah, ya harus dari ahmadiyah itu sendiri, itu cara belajar paling enak. Gue suka sama kegiatan2 diskusi lintas agama, kerja sosial bareng2 sama yang beda agama, mungkin buat ngewujudin bhineka tunggal ika itu usaha yang bisa dilakuin bareng2, hanya focus pada persamaan bukan perbedaan. Bila punya paham ngatain natal gaboleh, gausahlah sampe kayak fpi bikin baligho ngucapin natal itu haram. Ini komen gue yang kepanjangan yang sebenernya diotak gue banyak, tapi ya gue cinta pancasila sama bhineka tunggal ika, toleransi itu penting bgt.

  6. Good writing van! Sebenernya salah satu faktor yang membuat masih adanya ketidakrukunan dalam keberagaman di Indonesia diantaranya:
    – Masyarakat Indonesia masih mempertahankan nilai2 budaanya yang berdasarkan mitos2 leluhur yang cenderung memunculkan pandangan2 skeptis di antara masyarakat itu sendiri
    – Karena faktor di atas ini, penerapan Bhineka Tunggal Ika yang menjadi landasan hidup bermasyarakat di Indonesia ini kurang menjadi signifikan, tetapi hanya dalam lapisan masyarakat tertentu saja sih.
    – Masyarakat kurang aware dan melek sama pandangan masyarakat internasional mengenai keberagaman masyarakat kita. Justru pluralisme dan multikulturalisme kita ini sedang dipelajari AS untuk menyesuaikan negaranya terhadap unifikasi regional Asia (Timur, Selatan, dan Tenggara). Indonesia juga menjadi salah satu dari tiga negara yg nilai2 keberagamannya “ditakuti” loh setelah India dan Pakistan. Harusnya masyarakat Indonesia bangga dan dapat menyebarkan nilai2 perdamaian melalui keberagaman ini sih.

    Itu aja sih, nice try btw~

      1. ya, kalo mau diliat2 ke belakang memang ada islam sendiri dibawa oleh pedagang2 dari arab, cina, gujarat, persia, dlll.. trs pedagang tsb menyebarkan islam di tanah air, pasti tiap pedagang punya keyakinan tentang islam sendiri-sendiri.. dari awal tersebarnya islam di nusantara sudah beda, sayang kita tidak sempat belajar bertoleransi sejak agama islam tersebar
      2. bhinneka tunggal ika hanya mempan kepada mereka yang berpikir, ini perlu diakui. toh, banyak temen2 gue sendiri yang fanatik, menaruh ideologi bangsa di bawah agama. menurut gue ini jangan sampai di bawah, tapi beriringan. biasanya yang vertikal itu akan sering timbul konflik, daripada yang horizontal.

      3. banyak yang menganggap dengan belajar pluralisme, yang belajar = pengikutnya. nope, menurut gue toleransi itu kayak sepasang sepatu. cari yang cocok dengan kita, tapi jangan paksa kita untuk pakai sepatu kamu.

      thanks, indah 🙂

leave your thought

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s