Surat Untuk Pakde

Assalamualaikum, Pakdhe..

Pripun kabare?

ah, tanpa njenengan kasitau, aku tau njenengan mau ngudud, toh?

rapopo, asal jangan di terasku, nanti ibukku tau, lantas menggerutu kepadaku. jangan pula njenengan ke rumahku sebelum nyuci dan jemur pakaian, nanti bude tiba-tiba nyamperin, mengomelimu. santai saja, surat ini bukan seperti surat terbuka untuk capres, bukan juga surat tagihan air, ini sekadar surat yang kubuat karena kesulitan tidur selepas sahur.

Cuaca Depok akhir-akhir ini bikin betah di rumah, pagi adem, siang ndak panas-panas banget, malem hujan.

Biasanya, pagi di akhir pekan sudah di teras rumah sehabis subuhan di masjid. sekadar tiduran di kursi bambu atau membersihkan cerutu. njenengan masih suka baca kan? aku yo masih inget, tiap kertas yang ada di meja teras selalu njenengan baca dengan jarak yang cukup dekat seperti angkutan bogor berhenti di belakang mobil lainnya. ngomong-ngomong, kursi terasmu aku taruh di teras rumahku ya? lumayan buat duduk sore-sore, sambil menikmati secangkir kopi.

Aku sekarang jadi suka kopi, biar gak dibilang njenengan minume air putih terus. Ini ada segelas kopi untukmu. Ah.. iya, aku lupa kau tidak suka kopi, sebentar kuambilkan teh kesukaanmu dengan batang teh yang mengapung itu kan?. Baru sadar, njenengan ngerokok kok ndak suka ngopi toh ya..

Oh iya, negeri ini baru aja ngelaksanain pemilu. Nek njenengan urip, pasti jadi petugas’e. tahun ini, RT  kita kebagian jadi TPS, Pakdhe.. njenengan ndak perlu repot-repot lagi mboncengiku ke RT 08 atau aku bisa ngirit bensin sitik. Dino Rabu, pemilihan presiden. Cuma dua pilihan presiden, tok. Dadi, Kita ndak perlu ngobrol banyak untuk ngomongin pilpres seperti 2009 silam. Sing nomor siji, Prabowo. Njenengan pasti krungu karo Prabowo, njenengan dulu nyebutnya Ksatria Kopassus. Sing nomor loro, Jokowi. wong jawa yo podo karo kita.

Eh, Pakdhe monggo disambi.. aku tau kini njenengan ndak melaksanakan rukun islam lagi, santai wae…

Banyak teman-temanku memilih Prabowo. Alasannya sederhana, mereka pikir Jokowi itu boneka, komunis, antek asing, dll. Aku lupa memberitahumu, Pakdhe kalau sekarang mulut sudah lebih ringan dibanding dulu, otak bekerja sendirian, sedangkan hati, ia didiamkan. Aku ndak tau Pakdhe arep milih sopo, nek pilih Prabowo yo monggo, Jokowi yo monggo. Sing aku pikirin alasan memilihnya, nek murni percoyo uwonge, aku ra mikiri. Aku yo yakin Pakdhe ndak seperti orang-orang sekarang yang mudah percaya fitnah, berbekal koran-koran yang sering njenengan baca di rumahku pasti Pakdhe bisa berpikir kritis. Ah, ini sekadar ceritaku saja tentang pemilu, selebihnya aku hanya ingin ngobrol santai denganmu seperti dulu, aku sambil pegang hape, njenengan tiduran dengan tangan sebagai bantal.

Oiya, Pakde, inget ndak aku pernah hampir putus asa waktu mau masuk SMA. Cerita lama sih, semoga njenengan masih ingat. Waktu itu aku cerita pas kita jalan ke masjid untuk maghriban. Pikiranku kalau diingat-ingat, pendek sekali, ingin kabur dari rumah kalau aku takdapat sekolah negeri. Singkatnya sih dulu aku tertekan dengan hasrat orang tuaku, Pakdhe hahaha. Tapi, aku ingat balasanmu ketika aku cerita tentang itu:

“ojo dipikiri, Allah kuwi nuruti kemauan hambane”

Aku sekadar terima bulat-bulat pesanmu, ndak aku pahami lebih jauh maksudnya apa. Wong aku lagi gusar gak karuan, malah dibalas seperti itu. Sampai pembicaraan harus kita hentikan untuk solat, aku masih mikiri maksudnya apa. Sampai selepas Isya kita pulang, aku terus nanya kan? Ingat tidak, kita berhenti sejenak di warung, njenengan beli rokok kretek, aku beli snack ringan.

Njenengan nyalain rokoknya, kita jadi ngobrol di warung sampai larut. Begitu pulang, aku disambut kultum oleh ibukku, aku bilang saja tadi mampir ke rumah teman sebentar. Ada dua kesimpulan yang aku ambil dari cerita panjang kita saat itu, Pakdhe. Mungkin ini jadi pegangan hidupku selamanya, yang pertama “Allah pasti mengabulkan tiap hambanya yang berdoa” dan “bersedekah gak akan bikin miskin”. Dua hal yang sangat jauh kaitannya, tapi aku yo manggut-manggut wae. Sing penting aku dapet ilmu baru darimu.

rekanmu pergi ke masjid, sekarang kesepian. kulihat ia sekarang pergi ke masjid mepet azan, tidak saat sama njenengan yang sejam sebelum azan, sarungmu sudah melipat di pinggangmu. tetiba, aku rindu seseorang yang selalu menyalakan lampu di tiang listrik samping rumahku, tetiba aku rindu berkelakar di teras sambil menertawakan kebodohanku.

ah, sudah segini saja suratnya, ndak lebih dari sekadar ucapan terima kasih dan sedikit rinduku.

Oiya, pakdhe, ada salam dari Ayah dan Ibu. Ayahku sempat berkelakar, “sopo sing nguras kolam yo saiki?” tenang, beliau hanya bercanda, kok. Ibuku cuma ingin bilang terima kasih saja.

Aku tau, njenengan baca ini sambil ngisap kretek dari pipa yang telah usang itu.

Suwun, Pakdhe..

Salam untuk Kanjeng Nabi dan sahabat-sahabatnya.

 

12 thoughts on “Surat Untuk Pakde

  1. Pak Dhe yang nerima surat, mbacanya sambil duduk dikursi goyang,
    kemudian diatas kepalanya tergambar slide-slide yang diingatkan dalam surat sinetron langsung berpengaruh banyak 🙂

  2. Inggih, ndak suka kopi *Pak Dhe, hhehe.
    saya juga nggak suka kopi, Mas, tapi gak merokok *gak nanya yak?, hihi.
    andai saja beliau masih ada, pasi obrolan dan kebersamaan yang mas rindukan akan terobati. selalu kirim dan doakan beliau, Mas 🙂

anotasi

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s