Pemilu Yang Mengajarkan

Pemilu ini menjadi pengalaman pertama saya dalam memilih presiden setelah pemilu 2009 dilakukan sebelum umur saya genap 17 tahun. Tetapi, ini bukan ajang pertama saya untuk nyoblos. Kurang hafal persisnya berapa, sejak 2010 saya turut berpartisipasi dalam pesta demokrasi yang diselenggarakan oleh kota maupun provinsi. Walaupun pada kenyataannya saya lebih menginterpretasikannya bagai ngambil kucing dalam karung.

Kalau saya tak punya dasar pemahaman apapun tentang politik, saya bisa simpulkan ini pemilu presiden pertama yang membuat saya malas untuk memilih lagi dalam pilpres mendatang. Saya mikir, ini pilpres kok gini banget ya? Isu, fitnah, pengkultusan, dimasak dan matang dalam waktu kurang lebih dua bulan, kemudian disajikan dengan manis menjelang pencoblosan. berbekal pengetahuan dari buku dasar-dasar ilmu politik cover biru cetakan ke empat karangan Miriam Budiardjo, saya sedikit bisa mikir untuk menghadapi kontestasi politik. Paling tidak saya mengerti hakikat politik itu apa.

Suatu Sore, saya tidak sengaja ketemu teman saya. Panggil sajalah ia, Amir. Teman main petak umpat saya ketika SD, perawakannya agak bongsor, kalau melihatnya lari seperti melihat Yao Ming men-dribble¬. tiba-tiba ia bertanya pada saya, “Van, pilih siapa di pemilu presiden nanti?”, saya sempat menaruh kembali bakwan saya ketika ia bertanya seperti itu. Tidak, saya tidak mempersoalkan di mana ia sekolah, tapi kesehariannya yang seperti ustadz membuat saya kaget dia berbicara seperti itu. saya jawab, “belum tau, Mir. Belum ketauan mau pilih siapa. Lo pilih siapa Mir?” lantas ia jawab “yang jelas saya tidak milih nomor dua karena telah melakukan kristenisasi pemimpin dan dia komunis” sontak saya kaget, saya berpikir bagaimana orang terpelajar dan memiliki pengetahuan agama yang cukup luas mampu kemakan oleh isu seperti itu.

Pernyataan Amir membuat saya putar otak lagi kenapa dia bisa dengan mudah berbicara seperti itu. Tiba-tiba teringat materi dosen pada salah satu mata kuliah yang berkata bahwa isu yang paling dekat dengan masyarakat ialah budaya dan agama. Kalau mau menghapus identitas suatu bangsa, rusak dulu budaya dan agamanya. Budaya dan agama menjadi bahan ajar pertama yang diberikan turun temurun oleh keluarga, sehingga apapun yang diberikan pada kita saat kecil menjadi pembenaran yang sifatnya subjektif.

Saya tidak mempermasalahkan pilihan Amir untuk memilih, saya mencoba berpikir kritis alasan dia memilih. Andai Jokowi tahu ia menjadi sasaran kebencian si Amir, saya tak perlu repot-repot mikirin. Saya mulai kroscek berita-berita tentang Jokowi, isu yang diberikan tidak tanggung-tanggung memang. Dari keturunan cina hingga menyebarkan nilai-nilai komunisme. Dari situ, saya bisa simpulkan bahwa Jokowi adalah pemimpin hebat. Bagaimana tidak, menyatukan cina, yahudi, komunisme, nasrani dalam satu Negara?

Pemilu ini mengajarkan bahwa politik perlahan menghalalkan semua cara untuk menang. Pemilu ini mengajarkan, KPU adalah lembaga yang perlu dikawal bak anak yang baru diterima di sekolah. Pemilu ini mengajarkan untuk berpikir kritis dan empiris. Pemilu ini mengajarkan kalau kita diam dan pasrah, kita kalah. Pemilu ini mengajarkan bahwa partisipasi aktif sebagai warga Negara itu sangat penting. Pemilu ini mengajarkan bahwa demokrasi harus dijunjung tinggi agar terciptanya keadilan.

“bu, ini tadi bakwan saya satu sama teh manis, berapa?”

Advertisements

4 thoughts on “Pemilu Yang Mengajarkan

leave your thought

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s