Surat Terbuka Untuk Pak Jokowi

Yth, Pak Jokowi

Saya menyebutnya harus pakai “pak”, rasanya ndak etis kalau sudah jadi Presiden tidak ditambahkan kata itu, terlebih lagi saya berumur jauh lebih muda daripada bapak. Santai saja, pak. Saya tulis surat ini sambil nunggu azan jumatan, mungkin bapak bisa baca tulisan saya selepas maghrib, selepas tarawih, atau selepas masa tugas bapak jadi presiden pun tidak apa-apa.

Pak, tau ndak kalau pilpres kemarin paling ketat dari pilpres yang sebelumnya. Saya saja kaget lho, pak. Saya sudah tulis di posting-an saya sebelumnya, coba deh pak dibaca, jangan lupa untuk ajak pendukung bapak untuk baca tulisan saya sebelumnya sekadar menaikkan traffic blog saya. Pemilihan presiden kemarin terbukti telah memecah belah kedua kubu, kalau saya melihatnya ada kubu pesimis dan kubu optimis. kubu pesimis saya tujukan kepada pasangan nomor satu dan kubu optimis saya tujukan kepada bapak. Bukan sekadar ucapan belaka karena saya mendukung bapak, tapi saya lihat dulu siapa orang-orang yang ada di belakangnya. Kubu optimis ini yang saya yakini bahwa akan membuat Indonesia akan lain dari sebelumnya.

saya ingin mengucapkan selamat ke bapak yang telah membuat Dorce jalan kaki dari Bekasi sampai Jatinegara. Ia melaksanakan kaulnya karena kemenangan bapak dalam pilpres kemarin. Bukan main kan pak, seorang Dorce merelakan betisnya untuk merayakan kemenangan bapak?

Pak Jokowi yang baik, walaupun pemilihan presiden ini saya bilang ketat dan telah memecah masyarakat menjadi dua kubu, tetapi ada titik terang yang saya lihat pada masyarakat kita, pak. Kesadaran berpolitik. Meski tak bisa terjun seperti elite politik, masyarakat kita mulai membuka matanya untuk tahu apa yang terjadi, sadar bahwa politiklah yang berperan untuk menentukan kebijakan-kebijakan pada sektor lain. Keinginan untuk perubahan. Seperti yang saya singgung di atas, kubu optimis (bapak) saya yakini bahwa akan memoles muka negeri ini menjadi lain di mata dunia.

Ternyata bukan saya saja lho pak yang sadar, teman-teman, penjaga kos, pemulung, supir angkot, serta kaum borjuis maupun proletariat juga menyebutkan bahwa bapak mampu membawa perubahan pada Indonesia. Tenang, pak, teman-teman yang saya sebutkan di atas, tidak meminta langsung bantuan bapak untuk turun langsung ke mereka, saya percaya teman-teman saya di atas punya semangat untuk membangun dirinya sendiri, tentu dengan dukungan semangat yang ditularkan oleh bapak saat memimpin nanti. Bapak fokus pada pekerjaan bapak untuk membangun negeri ini, apabila berhasil, dampaknya pasti ke saya dan teman-teman saya juga.

suatu tim sepak bola tidak mungkin memasukkan seluruh pemainnya ke dalam lapangan, orang-orang terpilihlah yang masuk untuk mewakili tim dan sebagian lagi duduk di bangku cadangan, namun apabila timnya mendapat juara, tentu semua pemain pun mendapatkan medali kan pak?

Pak Jokowi yang baik, saya tidak mau menutup mata bahwa banyak sekali yang mencoba menjatuhkan bapak saat pilpres kemarin dengan fitnah-fitnah yang kurang bermutu, dari PKI sampai antek asing. Kalau saya jadi bapak, mungkin saya sudah memutar arah untuk menyewa petrus untuk menembakki para penebar fitnah itu. Ternyata kesabaran bapak melebihi luas lapangan sepak bola di samping rumah saya.

Pak Jokowi yang baik, kita tidak bisa pungkiri bahwa aset Indonesia beragam dan unik sekali. Wajar bukan kita dulu jadi sasaran Negara yang “pantas” untuk dijajah? Pak tau tidak, Bung Karno dulu pintar sekali memainkan kartu-kartunya saat asing terpecah menjadi blok timur dan blok barat yang kemudian dimanfaatkan untuk kita.

Pak Jokowi yang baik, tugas sebagai pejabat pemerintah ya mengabdi dalam pemerintahan bukan mengabdi pada kamera. saya yakin bapak tipe pekerja keras, yang mau kotor-kotoran, yang wajar apabila disorot media karena kegigihan dalam bekerja, bukan tipe yang disorot media karena makan sosis atau pendukung iklan obat maag.

Pak Jokowi yang baik, saya banyak belajar dari kemenangan bapak kemarin. Bahwa dukungan tulus itu jauh lebih berarti daripada permintaan. Bahwa kesatuan masyarakat Indonesia adalah nyata yang bersatu karena ingin perubahan bukan sekadar bersatu karena pulaunya mendapat ancaman.

Pak Jokowi yang baik, setelah saya menulis surat terbuka ini bapak siapkan kalau kita menjadi oposisi bapak? Saya dan teman-teman saya akan mengomeli bahkan menyiramkan air kalau bapak kerjanya tidak beres. Bapak adalah harapan saya dan teman-teman saya, bapak dan teman-teman bapak yang akan menjadi tim inti, agar saya dan teman-teman saya bisa mendapatkan medali nantinya.

kelak saya akan bercerita pada anak cucu saya bahwa negeri ini pernah dipimpin oleh sosok yang bertampang ndeso namun mampu kerja keras. Semoga harapan saya dan teman-teman tidak dikecewakan, sebagaimana kita tahu buntut dari harapan yang tinggi ialah kekecewaan yang menyakitkan.

Kapan-kapan kita ngopi sambil makan singkong rebus, yuk, pak : )

Advertisements

20 thoughts on “Surat Terbuka Untuk Pak Jokowi

  1. Bagus suratnya. Dan tulus banget dari hati. Dan ini yang paling gue suka kata-katanya walau gue pendukung pasangan satunya “tetapi ada titik terang yang saya lihat pada masyarakat kita, pak. Kesadaran berpolitik.” Sukses dan semangat terus bloggingnya.

  2. tinggal kita menanti dan mengawasi roda pemerintahan ke depannya agar indonesia lebih baik lagi.

    kemaren2 kebanyakan yang nulis surat buat pak prabowo. banyak artis yang bikin surat 😀

  3. Keren suratnya, semoga dibaca beliau ya.

    Tampang ndeso? …. terus tampang kota yang seperti apa ya? 🙄
    Orang lebih suka menilai dari penampilan luarnya saja, sayang sekali

  4. Ikut menunggu para simpatisan yang berposisi sebagai ‘oposisi’,
    semoga pemimpin terpilih bisa memenuhi harapan dari yang memberi kepercayaan.

  5. semoga pak jokowi baca yah 😀
    aku optimis pak jokowi bakal bawa perubahan, sekarang tinggal ke pak jokowinya aja untuk ngebuktiin diri sama omongan2 negatif orang2 ttg beliau.
    btw, suratnya keren!

  6. Wah telat bacanya nih..
    Sebenarnya waktu pilpres kemarin aku sendiri engga pilih keduanya, karena justru pemilihan itu sendiri yang aku tolak. Tapi entah kenapa waktu baca tulisan ini aku jadi semakin lega haha

leave your thought

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s