Membeli kebahagiaan

Kehidupan di desa terasa lebih nyaman bagi mereka yang biasa hidup dengan desingan suara mobil, bunyi klakson yang memekakkan telinga, serta hidup dalam keburu-buruan. Desa menjadi tempat istirahat yang tepat untuk melepas kepenatan. Desa memiliki keindahan alam yang naga-naganya dapat membuat kebahagiaan tersendiri walaupun tidak kita apa-apakan. dercitan burung, kerikan jangkrik, desiran angin, sawah membentang, serta secangkir kopi nyatanya mampu membawa kita mencapai puncak kenikmatan tertinggi manusia. Alam berhasil membuat kita untuk ikhlas menikmati apa yang diberikan-Nya.

Kota dengan segala bentuk rupanya memberikan pemandangan modern dalam bentuk gedung bertingkat, penunjang transportasi yang banyak serta beragam model orang yang ada. Kota memberikan nuansa berbeda pada persepsi orang-orang. Uang menjadi alasan utama penduduk desa melakukan urbanisasi. Roda perputaran uang di kota yang sangat cepat menjadi alasan untuk kerja di kota daripada di desa.

Dua hal di atas saya lihat dan rasakan melalui pengalaman sendiri maupun pengalaman orang lain. Dua hal yang seharusnya bekerja beriringan, malah menjadi dua hal yang terpaksa dibandingkan.

Kemarin, paket kopi saya datang. Diterima oleh bude yang kemudian memberikan paketnya ke saya. “akeh temen kopine, sing lama dereng telas” giginya yang ompong membuat bahasanya terasa lebih halus walaupun saya merasa diomeli. Kemudian beliau berkata, “uang tidak bisa membeli kebahagiaan, uang hanya materi sementara yang hanya membuat kita senang”

Sampai saya menulis ini, saya pun kepikiran tentang uang tidak membeli kebahagiaan, saya telah mendengar pernyataan ini sejak lama. Namun, pas saya lagi tidak ada kerjaan saja saya baru memikirkannya.

Kenikmatan yang bisa kita nikmati antara desa dan kota. Walaupun kota memiliki orientasi terhadap uang yang lebih besar daripada di desa, tapi sama-sama dapat membuat kita bahagia dengan kadar yang berbeda.

Kota dengan ke-modern-annya menghidangkan berbagai macam pilihan yang dapat menghemat waktu kita serta bebas memilih sehingga membuat kita bahagia.

Desa memberikan keindahan alam yang dapat membuat kita bahagia, cukup kita nikmati dengan secangkir kopi sachet yang bisa dibeli di warung dekat rumah.

Uang di kota mengalir deras karena banyak perantara-perantara yang menggerakkan uang ke mana-mana. Berbanding terbalik dengan desa, orang-orang desa butuh menimba sumur, mengambil hasil tambang dari atas gunung, berjalan puluhan kilometer untuk menukarnya menjadi uang. Berbeda cara, tetapi satu tujuan, uang.

Uang tidak bisa membeli kebahagiaan. Tapi, uang dapat membelikan kita iPhone, mobil, rumah, dan apapun yang kita mau.

Uang tidak bisa membeli kebahagiaan. Tapi, apa yang membuat anak kita menikmati susu, mainan, dan sekolah lalu kesuksesannya yang nanti turut membuat kita bahagia?

Bahagia Selamanya

Kebahagiaan tidaklah abadi, ia adalah kondisi temporary yang membuat kita sedikit berbeda dari diri sendiri. Bahagia selamanya adalah hil yang mustahal. Pada dasarnya, manusia hidup adalah mencari kebahagiaan. Artinya, manusia pada dasarnya tidaklah bahagia.

Sadar tidak sih, kalau ketidaknyamanan, kebosanan adalah indikasi ketidakbahagiaan kita. Kita membeli sesuatu yang baru, selain untuk memenuhi kebutuhan/keinginan kita, sesuatu yang baru apabila telah kita miliki pasti akan membuat kita bahagia. Satu bulan, dua bulan, tiga bulan, setahun lewat barang baru yang kita beli menjadi hal kecil yang dipandang sebelah mata. Bagaimana bisa barang yang kita beli dengan menggebu-gebu dari awal ternyata membuat kita bosan di tengah jalan?

Bahagia itu sementara?

Kita selalu berusaha untuk melakukan berbagai aktivitas-aktivitas yang membawa kita pada kebahagiaan. Walaupun akhirnya nanti kembali ke keadaan netral, ketidakbahagiaan. Ya, begitulah siklusnya.

Lalu bagaimana agar kita selalu bahagia?

Melihat apa yang kita miliki. Menghargai apa yang telah kita punya, kurangi membandingkan sesuatu yang kita punya dengan orang lain.

Hargailah sesuatu yang kecil.

Bahagia tidak melulu berhasil mencapai sesuatu yang besar. Padahal, kebahagiaan adalah hal sederhana yang mudah dicapai. Tapi, kita kurang menghargai itu saking sederhananya.

Gemericik suara air jatuh, gerimis membawa berkah di pagi hari. Kopi pagi dan gorengan hangat menemani awal pagi.

Siang-siang makan sayur asem, lauknya keripik emping, dengan segelas teh tawar panas

Tuh, bahagia itu sederhana. Apakah kita sudah menghargai hal-hal sederhana yang ternyata membuat kita bahagia? Dengan bersyukur dan menghargai hal sederhana, kita secara tidak langsung membeli kebahagiaan.

Nah, akhirnya pembuat kebahagiaan saya sudah datang.

“mang, bubur!”

13 thoughts on “Membeli kebahagiaan

  1. saya ada cerita dari teman yang tinggal di kota kemudian bekerja di daerah. lama-kelamaan dirinya merindukan bunyi deru mesin dan klakson kendaraan 😀

    sepertinya, bahagia bisa di mana saja. yang berbeda adalah standar yang ditetapkan oleh masing-masing orang yang ingin bahagia

  2. Gue hidup 19 thn dari lahir sampe skrg didesa yg cukup subur. Alamnya good bgt ada gunung, sungai, sawah dan mata air dari gunung langsung buat sehari2 bikin fresh. Tapi paling enak hidup didesa itu kita bertetangga sm yg baik2 dan kita sama2 mengenal satu sama lain. Budaya gotong royongnya kuat bgt, danlain2nya mah ada dibuku sosiologi. Yg bisa nglanjutin pendidikan tinggi itu langka bgt klo didesa, sebagian besar pada lulus SMA langsung kerja atua nikah, nah yg nyari kerja + sekolah dll inilah mereka yg mulai hijrah ke kehidupn dikota. Paling2 yg sesekali ke kota itu cm buat belanja. Kalo dulu, pas kecil karena ngeliat sinetron keliatannya hedon itu bahagia, bisa ke mall gede2 beli ini itu pke mobil pribadi, tapi setelah rasain sendiri kehidupan kota, ternyata gue lebih seneng tinggal desa. Di kota rata2 sama tetangga sendiri aja ga kenal, terus gerah sm gersang. Tapi gue nikmatin pendidikan dikota, karena kualitasnya lebih bagus ketimbang di desa. Jadi ya mungkin, kebahagiaan itu soal zona nyaman dan penempatan yg baik soal kebutuhan kita. Buat punya rumah enak didesa, tapi kerja enak dikota. Tulisan lo bagus pan hahaha

    1. sepakat.
      makanya kebahagiaan itu punya kadarnya masing-masing. gak bisa kita bilang di sini lebih bahagia di situ enggak, tapi tiap sudut punya cara untuk membahagiakan penduduknya.

  3. kata teman saya bahagia itu sederhana, selalu ada disekitar, menemukan sesuatu yang terselip kemudian bersyukur itu termasuk salah satu kebahagian. tinggal mata kita mau tidak melihat hal-hal kecil seperti itu dengan pikiran jernih, mau tempatnya di kota atau di desa.

anotasi

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s