Tuntutan Hidup dan Mie Goreng Ibu

Ruang-ruang di rumah saya tidak tersekat secara sempurna. Ruang keluarga dan ruang makan tidak terbatasi oleh batako berlapis semen. Hanya ditandai dengan benda-benda identik yang mengisi tiap sudut ruangnya. Namun, hal ini membuat interaksi di rumah sangat intens

Setiap saya ada di rumah, bapak selalu menggoda saya dengan kelakarnya yang khas, “loh, gak kuliah?” hampir menjadi alarm bagi saya tiap saya pulang ke rumah. Saya selalu menjawab dengan ketus, “mana ada kuliah malem”. Sering juga beliau bertanya mengenai keadaan sosial, politik, dan lain-lain. Sial, aku pikir ini rumah ternyata panggung politik yang harus kunaiki. Tapi, rumah tetaplah rumah bukan tentang perdebatan yang takkunjung usai.

Sementara Ibu, sibuk mengepel lantai. Peresannya selalu terdengar sampai rumah tetangga. Tidak, itu hanya hiperbolis saja. Kepercayaan ibu tentang lebih bersih mengepel lantai pakai kain lap daripada tongkat pel membuat dengkul saya sedikit hitam.

Pada intinya, suasana rumah selalu saya rindukan bagaimanapun keadaannya.

***

Selepas Marah Hamli lulus dari sekolahnya, ia ingin sekali melanjutkan sekolahnya di negeri Belanda. Ayahnya yang seorang raja menyetujui keinginannya itu. “nak, ibunda biarkan kamu bersekolah di luar Sumatera, bersekolah di sekolah yang bagus buatan Belanda pun ibunda setuju. Tapi, untuk keluar dari negeri tercinta ini ibunda takkuat menahan rindu” sahut Ibunda sambil menangisi keinginan anaknya itu. Seketika, Marah Hamli memutar otaknya lagi untuk melanjutkan sekolahnya di negeri kumpeni.

Cuplikan cerita dari buku Memang Jodoh karangan Marah Roesli yang paling saya kagumi. Kisah Marah Roesli yang dituliskan dalam bentuk Marah Hamli menunjukkan bahwa keputusan sang ibu menjadi pertimbangan final untuk memutuskan sesuatu. Refleksi kehidupan di kehidupan nyata, Ibu menjadi kekuatan penting untuk mengambil langkah ke depan.

Saya takbisa membayangkan menjadi seorang ibu, melek dari tidur, begitu bangun harus menyiapkan perlengkapan sekolah anak-anaknya, lantas pergi ke kantor, pulang sore, beres2 rumah, dan melakukan rutinitas setiap hari yang saya rasa Angelina Jolie pun akan mundur dari dunia entertainment kalau keadaannya seperti itu.

Seorang teman pernah mengatakan pada saya bahwa  “ada orang yang hidup untuk menghidupi hidupnya(tidak terkekang), ada orang yang hidup hanya untuk tuntutan(terkekang)” saya cuma bisa geplak pundaknya seolah takpercaya ia bicara seperti itu. Mungkin teman saya ada benarnya, dalam hidup ini ada yang terpaksa melakukan sesuatu demi memenuhi tuntutan-tuntutan yang dihadapi. Artinya, ia tidak hidup dalam tuntutannya tetapi merelakan hidupnya demi tuntutan. Tapi, kepala saya bertanya-tanya.. apakah itu sebuah pilihan?

Saya ingat satu kutipan Pramoedya Ananta Toer, “masa terbaik dalam hidup seseorang adalah masa ia dapat menggunakan kebebasan yang telah direbutnya sendiri”. Pram mengajak manusia untuk tidak hidup dalam tuntutan-tuntutan semu yang ternyata mengurung dirinya seperti kura-kura dalam cangkang.

Selepas bertemu teman, saya kembali ke rumah. Lagi-lagi, suara kain pel diperas jadi original soundtrack tiap saya sampai rumah. Di sisi lain, Ada satu hal yang selalu saya rindukan kalau di rumah, mie goreng ibu. Ibu saya bukan termasuk yang pandai masak, tiap kali buat ketupat, hasilnya selalu mbleber lengket gak karuan, tetapi telaten. Mie goreng dari indomie bisa dikemas berbeda dari sajian Aa burjo. Hasilnya tentu 180derajat berbeda.

Ibu takkenal Pram, juga takmau tau dengan segala tuntutan-tuntutan hidup. Beliau hanya menjalani apa yang harus dijalani. toh, sebuah tuntutan berujung pada kekhawatiran yang mana sebuah kekhawatiran akan hilang kalau itu terjadi. Pada intinya, beliau berhasil menghidupi hidupnya dalam tuntutan yang ada. Jalankan apa yang memang seharusnya kita jalani, hidupilah hidupmu sekalipun dalam tuntutan. Seperti ibu saya yang senantiasa membuatkan mie goreng walaupun banyak tuntutan kerjaannya.

go, live your life!

aaaaak, kangen mamak!

 

9 thoughts on “Tuntutan Hidup dan Mie Goreng Ibu

  1. Wah aku juga kangen ibu walau masakan ibu selalu asin hahahaha. aku suka kata

    “masa terbaik dalam hidup seseorang adalah masa ia dapat menggunakan kebebasan yang telah direbutnya sendiri”.
    aku banget thx buat tulisan manisnya.

  2. soal masak, ibu saya cukup enak masakannya 😀

    hidup memang penuh pilihan…. dan setiap orang bisa memilih apa yang diinginkannya, termasuk dikuasi oleh tuntutan2 yang mungkin seharusnya tidak ada

anotasi

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s