Emma Stone dan Nikah Beda Agama

Tiba-tiba saya teringat Emma Stone, pemeran Gwen Stacy dalam film The Amazing Spiderman. Wanita itu menggeser posisi ibu dan pacar saya sejenak dalam daftar tujuh wanita yang saya sayangi. Dalam filmnya, ia berakting sempurna sebagai wanita yang baru lulus kuliah, kerja sementara lalu ikut tes untuk S2. Ah, rambutnya yang pirang sukses membuat dia berlari-lari di pikiran saya seharian penuh. Saya hanya duduk di pinggir lapangan memegangi handuknya saja.

Hampir terbesit di pikiran saya untuk meminangnya….. hah?

Wanita seperti Emma Stone takcocok dipinang, Emma Stone hanyalah salah satu aktris yang saya kagumi. Mengagumi sekadar ia memiliki wajah yang cantik, rambut yang halus bak perosotan di water boom, dan kemampuan berakting yang menawan. Apakah Emma Stone mampu melakukan tugas-tugas kewanitaan(subjektif)? Memasak, menyapu, mengepel rumah, pergi ke pasar? Saya rasa tidak, keterampilan tersebut sebagian besar dimiliki wanita Indonesia.

Menyoal cinta, ia adalah keindahan yang tercipta secara alami. Cinta hadir dari dua orang yang saling memikirkan, mendengarkan, dan memedulikan. Rasa cinta pada seseorang bukan sekadar pengisi hape kita agar selalu bunyi, Cinta adalah kekuatan yang lebih tangguh dari yang lain. Hal ini tidak bisa dilihat atau diukur, namun cukup kuat untuk mengubah kita dalam sekejap, dan menawarkan lebih banyak kebahagiaan daripada kepemilikan materi.

Rasa cinta tidak bisa kita paksakan, ia tumbuh dari dasar hati yang paling dalam. Apalagi jodoh, siapa yang tahu jodoh kita? Kita cuma berusaha saling menyesuaikan diri dengan orang yang cocok dengan kita.

***

Kemarin, mahasiswa dan alumni FH UI mengajukan uji materi terhadap Pasal 2 ayat (1) UU Nomor 1 tahun 1974 ke MK. Pasal tersebut berbunyi “Perkawinan adalah sah, apabila dilakukan menurut hukum masing-masing agamanya dan kepercayaan itu.” Wajar apabila pasal ini dilakukan uji materi, perkara pernikahan bukan Negara yang memberi keputusan terakhir. Pernikahan adalah hal yang sakral untuk mengikatkan tali kasih antara sepasang kekasih yang saling mencintai, terlepas dari perbedaan yang mereka alami. Toh, cinta bukanlah hal yang bisa dipaksakan untuk hanya bisa mencintai yang seagama, kan?

saya rasa tak bertanggung-jawab melarang seorang yang dengan tulus ingin membangun rumah tangga dengan alasan apapun. Dua orang yang terikat dalam cinta dan komitmen ingin membangun rumah tangga, harus dihormati dan difasilitasi. Bukan malah dihalang-halangi, baik dg alasan perbedaan status sosial, suku, agama, atau yg lain.

Tidak, saya tidak menganjurkan untuk nikah beda agama. Nikah kembali lagi kepada pasangan yang saling mencintai. Nikah beda agama harus siap dengan konsekuensi yang ada, terlebih lagi belum semua masyarakat Indonesia bersikap terbuka. Artinya masih sedikit banyak yang konservatif. Dengan melihat perbedaan sedikit saja dari masyarakat biasa, mungkin memiliki respon yang berbeda.

Pada intinya, urusan nikah beda agama menjadi urusan kedua pasangan tersebut. perkara nanti anaknya mau beragama apa, komitmen dari kedua orang tuanya. Untuk apapula kita mencampuri urusan intim rumah tangga orang?

Kalau Negara mempersulit dua orang yang saling mencinta untuk dilegalkan secara hukum hanya karena beda agama. bagaimana nasib saya apabila saya keras ingin meminang Emma Stone? Emang Emma Stone mau sama saya? Lah, mbuh.

apabila sudah disahkan secara hukum oleh negara, berikutnya izin yang harus saya peroleh untuk meminang Emma Stone adalah ibu saya. kalau ibu saya ndak ngizinin. yawes, mandat ibu lebih tinggi derajatnya daripada undang-undang, toh

Dalam pernikahan, seharusnya Negara hanya masalah mencatat dan melegalkannya secara hukum. Perkara disetujui atau tidak, biar keputusan ibulah yang menentukan 🙂

post-scriptum: sebenarnya banyak artis hollywood berambut pirang yang cantik. saya memilih Emma Stone karena rekam jejaknya belum ada buruknya 😛
Advertisements

18 thoughts on “Emma Stone dan Nikah Beda Agama

  1. “Untuk bisa meminang Emma Stone, kau harus bersaing dulu denganku untuk menjadi Spiderman, walau ga bisa di dunia nyata, dlm film kan lumajan,”kata Andrew Garfield memberikan sebuah tips rahasia sambil berbisik kepada Ivan 🙂

  2. menurut saya negara bukan hanya sekedar mencatat, tapi negera berkewajiban menjamin para penduduknya untuk bisa menjalankan agama yang dianut. jika peraturan agama melarang suatu perbuatan, maka negara harus menjamin perbuatan tersebut agar tidak terealisasi…. pasal 29 UUD 1945 masih menyatakan demikian, kan?

    1. semua tetep menjamin bisa menjalankan agama yang dianut. masalahnya ada di kenapa nikah beda agama tidak dilegalkan secara hukum? padahal gak mengganggu ketertiban umum

  3. Saya mah tetep pilih Emma Watson ah.
    Kalau soal nikah beda agama untuk saya mah sih no. Tapi kalau orang lain yg ngelakuin mah terserah mereka aja.

  4. Wah sama aku juga kemarin baru bahas soal ini dengan beberapa kawan aku..
    Aku juga dengan mas suami awalnya beda agama kok semua tergantung orang yang menjalaninya.

leave your thought

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s