Belajar Dari Masa Lalu

Pada satu kesempatan saya menghadiri sebuah seminar khayalan yang dihadiri oleh petinggi-petinggi negeri pada zaman demokrasi liberal. Seminar itu dihadiri seluruh pemimpin pada tiap-tiap kabinet, Natsir, Sukiman, Wilopo, Ali Sastroamidjodjo, Burhanudin Harahap, dan Djuanda. Saat itu saya datang telat, saya datang ketika sesi tanya jawab dimulai. Ah sial, pikir saya. Seminar itu dimoderatori oleh Mohamad Yamin, pemuda gigih yang ingin perubahan tercipta di negeri ini.

Salah seorang hadirin berparas tua, berbadan tegap, mengenakan kacamata hitam, dan membawa tongkat komando. Ia bertanya dengan nada yang agak sinis. Dari suaranya saya mengenal seperti Bung Karno, tetapi kumis yang berjejer tinggi bak pagar kabupaten mengurungkan niat saya untuk menebar isu tentang penanya tersebut. ia mengkritik secara gambling demokrasi liberal, Ia menyerang demokrasi liberal sebagai hanya “demokrasi 50% plus 1” dan kemudian tekanannya pada menggunakan musyawarah. Kemudian Ia mempertanyakan hal penting apa yang dapat dipelajari dari demokrasi liberal untuk perpolitikan Indonesia di masa depan?

Natsir menjawab pertanyaan tersebut pertama kali, Ia bercerita tentang bagaimana mencapai konsolidasi dan menyempurnakan susunan pemerintahan, mengembangkan ekonomi kerakyatan, dan menggiatkan usaha keamanan dan ketentraman. Pada akhir pidatonya, ia mengingatkan kepada seluruh hadirin bahwa jatuhnya kabinetnya karena keberpihakannya pada Partai asalnya. Ia mengakui bahwa segala keputusan yang ia buat banyak menguntungkan untuk Masyumi

Sukiman menyusul menjelaskan apa yang dapat dipelajari dari masa kepemimpinannya, ia bercerita tentang bagaimana membuat dan melakukan rencana kemakmuran nasional dalam jangka pendek untuk mempertinggi kehidupan sosial ekonomi rakyat dan mempercepat usaha penempatan bekas pejuang dalam pembangunan. Menyiapkan undang-undang pengakuan serikat buruh, perjanjian kerja sama, penetapan upah minimum, dan penyelesaian pertikaian buruh. Kabinet ini juga memberi pelajaran penting bahwa perlunya kebijaksanaan dalam melaksanakan politik luar negeri bebas aktif, artinya tidak condong pada satu sisi ke barat maupun timur.

Setelah Sukiman, Wilopo kemudian menjelaskan. apa yang ia ceritakan hampir sama dengan apa yang disampaikan oleh Pak Sukiman. Pelajaran yang dapat kita ambil adalah bagaimana menekan potensi munculnya gerakan-gerakan radikal kedaerahan dan menimbulkan benih-benih perpecahan yang mengganggu stabilitas politik di Indonesia. disusul oleh Ali Sastroamidjojo, pelajaran yang dapat diambil ialah mengenai konsistensi penuh untuk memperjuangkan wilayah Republik Indonesia

Dengan pedenya, Burhanudin Harahap menceritakan tentang kisah pemilu pertama, Ia menceritakan kisahnya menyelenggarakan pemilu pertama kali di Indonesia yang dipilih secara langsung oleh rakyat. Pemilu yang disebut sebagai pemilu yang paling demokratis sepanjang sejarah. Pemilu merupakan jalan bagi rakyat untuk mewujudkan pemerintahan dari rakyat, oleh rakyat, dan untuk rakyat.

Terakhir, Djuanda. ia menceritakan tentang zaken kabinet. zaken kabinet adalah kabinet yang diisi oleh kalangan profesional atau kabinet sangat ahli di bidangnya dan bukan berdasarkan representatif dari partai politik. Kabinet profesional selalu termotivasi untuk berbuat baik bagi kemaslahatan masyarakat. Mementingkan mutu kerja. Keprofesionalannya diabdikan demi kebaikan masyarakat yang didorong oleh kebaikan hati, bahkan dengan kesediaan berkorban. Ia mampu mengendalikan mental spiritualnya, sehingga melakukan tindakan berdasarkan nilai-nilai, prinsip hidup, ataupun agama dan kepercayaan yang dianut. Kabinet profesional adalah kabinet yang terdiri dari menteri-menteri yang selalu menjaga etika dan moralitas profesinya. Tidak pernah terkontaminasi uang dan kekuasaan yang lebih besar. Tetap mereka membutuhkan uang dan kekuasaan, tetapi mereka menerimanya secara terukur dan sesuai, semuanya sebagai bentuk penghargaan dari masyarakat.

Pak Tua yang bertanya itu bertepuk tangan, disusul dengan tepukan para partisipan yang hadir. Kemudian ia berdiri lagi, lalu mengatakan bahwa jika kita memiliki keinginan yang kuat dari dalam hati, maka seluruh alam semesta akan bahu membahu mewujudkannya. Kalimat terakhir langsung disambut tepuk tangan yang meriah dari seluruh hadirin. Kemudian, ia berjalan ke arah pintu keluar sambil memegang tongkat komandonya.

seminar itu kemudian ditutup oleh Mohamad Yamin. Para hadirin sekali lagi menepukkan tangan sekeras-kerasnya. Kemudian meninggalkan ruangan bergantian.

mengubah pemilihan kepala daerah tidak lagi dari pemilihan umum secara langsung telah menodai nilai-nilai demokrasi. dari kabinet Burhanudin Harahap kita bisa belajar bahwa pemilu mengubah konsep kedaulatan rakyat yang abstrak menjadi lebih jelas. Hasil Pemilu adalah orang-orang terpilih yang mewakili rakyat dan bekerja untuk dan atas nama rakyat. apa yang rakyat pilih menentukan nasib rakyat itu sendiri. kemudian dari kabinet Djuanda kita dapat ambil bahwa kursi-kursi kementerian patut diisi oleh orang-orang yang ahli di bidangnya. mereka yang wajib mengisi kursi tersebut adalah mereka yang berorientasi untuk kesejahteraan rakyat bukan untuk mengisi sela-sela dompetnya.

apa yang saya paparkan di atas disadur dari beberapa sumber termasuk paman wiki. Sebetulnya, banyak yang bisa kita ambil dari pengalaman politik Indonesia masa lalu, dari mulai penyelenggaraan pemilu yang secara langsung sampai politik luar negeri dan memilih orang-orang yang penting untuk mengisi kursi menteri. Semoga Indonesia saat ini bisa belajar dari masa lalu, sebuah sejarah penting bagi perpolitikan Indonesia.

post-scriptum: beberapa hari kemudian, sosok pak tua diyakini betul bahwa itu Soekarno. Ia memang menentang apa yang terjadi pada Demokrasi Liberal. Soekarno mengatakan demokrasi liberal diwarnai oleh gonta-ganti koalisi kabinet. Friksi antar partai semakin tajam. Sukarno dan banyak orang lain mengeluh terjadinya saling “jegal-menjegal”. Bung Hatta saat itu tidak ada di Indonesia karena setelah Bung Karno mengumumkan bentuk pemerintahan berubah menjadi Demokrasi liberal, Bung Hatta mengasingkan dirinya.

Advertisements

7 thoughts on “Belajar Dari Masa Lalu

  1. Perpolitikan saat ini sudah kurang sehat … arti demokrasi sudah disalah artikan ….
    Kalau dalam pilkada saya setuju pemilihan langsung oleh rakyat sesuai arti demokrasi sebenarnya dari, oleh, dan untuk rakyat. Kalau cara yang satu terlalu banyak kepentingan oleh golongan.

  2. Komen apa ya Van, kok merasa kalo tokoh-tokoh di atas dalam pemikirannya sudah menempatkan rakyat sebagai prioritas utama sedangkan kalo jaman sekarang jangankan rakyat, sigh. Apapun deh yang penting yang terbaik untuk rakyat mestinya.

  3. hanya saja, tidak banyak yang bisa belajara dan masa lalu dan kemudian mau mengambil pelajaran di dalamnya untuk memperbaiki apa yang terjadi di masa sekarang

  4. Semoga ke depannya pemimpin bangsa ini belajar dari sejarah.
    yang pasti emak2 lagi puyeng TDL naik, Gas naik, BBM mau naik, Politikus juga maunya naik jabatan.

leave your thought

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s