Usman

Usman adalah satu-satunya murid yang paling goblok dalam kelasnya. Gurunya hampir tiap hari memarahinya seperti Daendels memecut pekerja yang malas. Namun, hanya dirinyalah yang paling peduli dengan Siti. Siti terjangkit penyakit kampung yang membuat orang lain malas untuk dekat dengannya, panu dan kurap. Siti merasa heran dengan kepedulian Usman dengannya. Padahal, dirinya sudah memaklumi kalau-kalau orang tidak mau dekat dengannya. Sempat Usman berkata pada Siti bahwa “panu dan kurap tidak bisa menjadi tembok rasa sayangku”.

Walaupun terbilang bodoh dalam hal akademik, Usman selalu berhasil memikat wanita-wanita yang diinginkannya. Sejak SMP, ia selalu berhasil mengubah pandangan wanita akan kebodohannya dengan rayuan-rayuan maut. Cahaya Usman berbeda dengan teman-temannya yang selalu bersinar karena kehebatannya dalam akademik, Ia pandai merangkai kata per kata menjadi satu rel untaian kalimat yang mampu menghipnotis pembacanya. Sayangnya, orang terdekatnya tidak peduli.

Kehidupan Siti dan Usman tidak jauh berbeda. Ayah Siti seorang Nakhoda kapal yang jarang pulang, Ibunya wanita karier yang hanya ada di rumah dari Isya sampai ba’da Subuh. Tidak kalah dari Siti, Ayah Usman juga jarang pulang, ayahnya seorang pengarung daratan, tukang ojeg. Ibunya juga wanita karier yang kerjanya sebagian besar di dapur atau kadang membantu tetangga membersihkan rumahnya. Memang terasa aneh, Siti dari keluarga yang kaya tapi terjangkit penyakit yang sepertinya cocok bagi Usman. Lantas, Usman menjadikan ekonomi keluarganya sebagai alasan mengapa ia tak sepandai teman-temannya dalam hal akademik. Sampai pada satu waktu, Siti pun membalas cinta Usman. Namun, cintanya harus bekerja dibalik layar seperti kisah cinta anak SD yang sembunyi-sembunyi dari pengawasan orang tuanya.

Usman sadar akan keadaannya mencintai Siti. Ia hanya punya kemampuan merajut kata-kata umum menjadi sedikit terlihat indah. Kadang Ia merasa minder kalau lihat keadaan orang tua Siti. Urung inginnya untuk segera meminang Siti selepas kuliah. Tapi, keurungannya itu hilang setiap kali ia melihat senyum Siti. Kata Usman, senyum Siti seakan mengajak untuk berumah tangga.

Cinta Usman pada Siti sudah sejak lama dirajut, tahun ini masuk tahun kedelapan mereka menjalin kasih. Namun, hubungan mereka masih saja dilakukan diam-diam dari keluarga Siti. Keduanya tetap jatuh cinta bagai ABG yang baru jadian. Panu dan Kurap sudah tak Usman pedulikan, toh sekarang Panu dan Kurapnya sudah hilang ditelan bumi. Usman ini memang bodoh, tapi kalaulah Ia sudah berbahagia, kebahagiaannya melebihi orang-orang yang lebih pintar darinya. Takpernah ia repot-repot memikiri apa yang orang pikirkan tentangnya atau memusuhi masalah yang datang padanya. Sitilah yang telah mengubah Usman menjadi seperti itu. Siti lah sumber kekuatan Usman. Sempat Usman mengatakan, Siti adalah alasan mengapa Ia makan.

Saat 1 Syawal, Ayah Siti pulang ke rumah. Keadaan rumah Siti ramai tidak seperti biasanya. Ia merasa keluarganya kembali utuh. Siti mengaku sebagai Daddy’s girl, rasa sayang Siti pada ayahnya melebihi apapun yang selama ini ia sayangi. Siti larut dalam euphoria kebahagiaan kembali ayahnya. Ibunya juga sedari pagi sudah sibuk memasak opor. Selepas solat Ied, Ayahnya membawa kabar bahwa rencananya Siti mau dijodohkan dengan awak kapal kebanggaan ayahnya. Ayah Siti mengabarkan sekaligus memutuskan, kabar itu bersifat bulat. Siti diam, kepalanya seperti ditabrak ombak yang kencang, hatinya jatuh ke palung yang paling dalam. Seribu kata dalam pikirannya takmampu Ia utarakan. Di kepala Siti, Usman berlarian, larinya mulai tergopoh-gopoh. Siti diam. Siti yang biasa berpikir panjang tidak mampu berpikir ketika Ayahnya mengatakan hal itu. Di sisi lain, Usman mulai mati kehausan dalam pikirannya.

Siti menimbang. Awak kapal yang akan ditetapkan sebagai pengganti posisi ayahnya memang lebih meyakinkan untuk menghidupi di hidupnya yang baru nanti. Sampai saat kabar ayahnya sampai ke Siti, Ia belum bercerita tentang kisah cintanya dengan Usman. Akan jadi seperti apa ayahnya ketika tahu ia berhubungan dengan Usman.

Esok hari, Usman mengajak Siti bertemu. Kata Usman, Ia rindu. Ia rindu senyumannya yang seolah mengajak ingin berumah tangga itu. Di taman pinggir kota, Usman riang, namun Siti seperti orang yang mogok makan, hanya diam. Siti menjelaskan kabar yang diterima ayahnya kepada Usman. Belum selesai Siti cerita, Usman terlihat seperti orang hampir mati kelaparan. Perangsang makan Ia selama ini akan hilang, dan muncul kembali untuk orang lain. Usman memutuskan untuk pulang, takpedulinya Ia dengan Siti yang ditinggal sendiri di taman.

Sulit bagi Usman menerima kenyataan, tapi Ia sadar hanya seorang juru ketik. Musuh tangguh yang harus dihadapinya adalah seorang yang berbadan tegap dan penghasilan tetap. Usman yang biasa berlari dipikiran Siti harus berjalan sedu sedan menunduk keluar lapangan. Hampir ia sampai garis finish, ia menyerah.

Lusa, Usman tidak seperti biasanya. Tidak ada secangkir teh, tidak ada seonggok ubi rebus, Usman kehabisan kata-kata. Ia duduk lebih lama daripada biasanya. Raut wajah Usman bak menunggu merpati yang datang memberi surat. Sudah rutinitas bagi Usman duduk di terasnya, walau tidak ada kegiatan lain yang dilakukan selain menyeruput teh dan membaca koran kemarin. Akhirnya, Ia memutuskan kembali ke meja kerjanya, Siti dalam karangannya pun coba ia ganti dengan tokoh baru.

Advertisements

9 thoughts on “Usman

  1. Saya baru sadar, ternyata itu hanya kisah cerita yang usman tulis untuk karangannya. Sial dua kali baca baru ngeh

    Mantap mas

leave your thought

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s