Pak Zein

Seperti biasa, setiap Senin, Rabu, dan Jumat saya mengaji di majelis ta’lim dekat rumah. Seperti biasa, setiap saya berangkat bedak yang diusapkan ibu terlalu tebal. Hal itu, membuat saya yang hitam terlihat seperti anak kucing yang jatuh ke got lalu kena terigu. Tak apa, saya selalu yakin ibu selalu mencoba memberikan anaknya yang terbaik, termasuk mengaji ini. Diantarnya saya sampai tepi jalan, pengajian di mulai pukul empat. Sembari ngisi waktu, bukannya solat malah main gimbot aki di depan masjid.

Pak Zein, guru ngaji abadi saya. Saya resmi menjadi muridnya sejak rambut kepala saya baru berumur tujuh bulan. Alhamdulillah, beliau masih sehat sekarang. Perawakannya lumayan seram untuk anak kecil yang seringkali melihat Cok Simbara marah-marah menampar Ayu Azhari. Ya, beliau berkumis tebal, selalu membawa antenna radio saat mengajar. Antenna itu Ia gunakan untuk memukul jari muridnya apabila ada satu huruf bacaan saja yang terlewat. Bukan main menakutkannya.

Tetapi, beliau yang saya kenal, tidaklah sepenuhnya menakutkan, tidaklah sepenuhnya menyeramkan sebagaimana tergambar. Setelah membaca Al Quran, selalu beliau berkisah lebih jauh tentang Islam. Sejarah Nabi, kisah Nabi, Hadist, tafsir quran, dan yang paling penting, menerapkan nilai-nilai islam dalam bertingkah laku di dunia. Beliau mewanti-wanti, menjadi muslim tidaklah mentok menjadi beragama islam, solat lima waktu, berzakat, berpuasa, dan beribadah haji bagi yang mampu. Ada hal-hal penting lainnya yang sarat dengan penerapan ilmu islam sendiri. Salah satunya, bermanfaat bagi umat lain.

Sayang sekali, ilmu yang diberikan Pak Zein pada saya tidak sama dengan guru-guru ngaji lain. Ya, tiap guru ngaji punya aliran sendiri, berangkat dari sejarah islam, ada yang dibawa oleh pedagang Persia, Gujarat, Arab, bahkan Cina. Terbayang bagaimana perbedaan mengalir sampai sekarang ke guru ngaji berbagai daerah. Tapi, saya yakin yang diajarkan oleh seluruh guru ngaji dari pelosok sampai kota besar adalah kebaikan. Bagaimana menjadi muslim yang baik, menghargai sesama, toleran, tolong menolong dan nilai-nilai kebaikan lainnya.

Sudah diakui bahwa Indonesia adalah Negara dengan penduduk beragama islam terbanyak. Namun sayang, lagi-lagi banyak dari kita terjebak kuantitas, sehingga jumlah yang banyak itu kadang membuat umatnya berlaku seenaknya dengan umat lain. mereka gagal menerapkan konsep islam sendiri. Agak keras memang, tapi berlaku seenaknya terhadap umat minoritas lain adalah tindakan keji.

Di Jakarta, demo hari ini cukup mengejutkan. Bukan, bukan tentang Buruh yang berteriak meningkatkan kesejahteraannya, bukan demo tentang penolakan reklamasi Tanjung Benoa, bukan pula demo mengenai penolakan pilkada langsung oleh DPRD, tetapi demo menentang Ahok menjadi Gubernur Jakarta oleh sebagian Ormas (FPI –red). Mereka menentang Ahok karena berbeda keyakinan. entah karena perbedaan keyakinan, entah preman berjubah vs konstitusi. tetapi, lagi-lagi, hal ini kerap terjadi di negeri yang bermacam-macam budaya. Lagi-lagi, hal ini terjadi karena beberapa orang tidak melihat perbedaan sebagai rahmat.

Apabila muslim belajar jauh mengenai Al Quran. Selain mempelajari cara membaca dan tafsir, baiknya takluput pula mempelajari azbabun nuzul. Dengan itu, kita mengerti maksud surat itu diturunkan.

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu ambil menjadi teman kepercayaanmu orang-orang yang, di luar kalanganmu (karena) mereka tidak henti-hentinya (menimbulkan) kemudharatan bagimu. Mereka menyukai apa yang menyusahkan kamu. Telah nyata kebencian dari mulut mereka, dan apa yang disembunyikan oleh hati mereka adalah lebih besar lagi. Sungguh telah Kami terangkan kepadamu ayat-ayat (Kami), jika kamu memahaminya.”

Di atas adalah kutipan surah Ali Imran 118. Menurut Ibnu Abbas ayat tersebut diturunkan berhubungan dengan tindakan sebagian kaum muslimin yang berhubungan rapat dengan orang-orang Yahudi Madinah karena bertetangga dan adanya perjanjian damai antara mereka. Kaum-kaum yang dimaksud di sini adalah mereka yang senantiasa menyakiti dan merugikan kaum muslim, menyatakan secara terang-terangan akan menghancurkan muslim, dan pengecualian-pengecualian lainnya. Artinya, terdapat alasan mengapa surat tersebut menganjurkan kita untuk berhati-hati dengan teman di luar kalangan (muslim).

Kalau saja seseorang tidak mempelajari Al Quran setengah-setengah, Ia pasti tak lupa menengok surah Q.S Al Mumtahanah: 8 dan 9: “Allah tiada melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tidak memerangimu karena agama dan tidak (pula) mengusirmu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil. Sesungguhnya Allah hanya melarang kamu menjadikan sebagai kawanmu orang-orang yang memerangi kamu karena agama dan mengusir kamu dari negerimu dan membantu (orang lain) untuk mengusirmu. Dan barang siapa menjadikan mereka sebagai kawan, maka mereka itulah orang-orang yang zalim”.

Terlebih lagi, selain mempelajari al quran dan tafsirnya. Saya rasa logika dan rasio harus digunakan di zaman sekarang di mana budaya dan kondisi lingkungan sekarang terus berkembang. Tanpa kita pelajari azbabun nuzul itu, islam seperti diajari untuk memberi jarak dengan umat lain, seolah umat lain adalah produk Tuhan yang gagal. Padahal, Tuhan tidak pernah salah.

Agak ironi untuk saya melihat perilaku-perilaku seorang muslim justru saat saya melihatnya dilakukan dari orang yang berbeda keyakinan. Oh, bukan berarti saya tidak senang melihat orang lain melakukan kebaikan. Namun, saya tak kuasa membandingkannya dengan melihat muslim berteriak sambil mengangkat parang, menunjuk lainnya sebagai kafir, kemudian memantik api pada satu tempat ibadah.

Banyak cerita yang saya dapat sekilas dari Pak Zein tentang toleransi umat islam terdahulu. Salah satunya, saat orang-orang nonmuslim menjadi kaum minoritas di satu daerah. Warga muslim tidak mendiskriminasi mereka, sebaliknya malah merangkul dan bersikap adil. Kemudian, saat kaum kafir diangkat sebagai pegawai di kantor pemerintahan saat masa Umar Bin Khattab dan pada masa kerajaan Umawiyah dan `Abbasiah.

Saya malu mereka yang justru lebih sering beragama, malah melakukan tindakan kekerasan yang berdalil agama. Menginjak umat lain, melakukan penindasan pada mereka yang berbeda keyakinan, dan lain-lain. Saya rasa toleransi bukan satu sikap yang berhenti pada tataran konsep, melainkan harus dilakukan dengan tindakan.

Pada satu kesempatan, Pak Zein berkata, “siapa yang bisa minta seorang bayi lahir dalam keadaan Kristen, Katolik, Yahudi, Budha, Hindu, dan Islam?” “Siapa yang sangka mereka lahir di negeri yang punya ideologi pancasila di mana perbedaan justru seharusnya semakin membuat kuat persatuan?” saat itu, saya masih SD, yang saya pikirkan hanyalah kapan waktu ngaji berakhir. kini saya sadar, Pak Zein ternyata mengajarkan muridnya bertoleransi sejak dini demi menghargai umat lain.

Advertisements

17 thoughts on “Pak Zein

  1. Pluralisme di Indonesia emang sebaiknya ditanam sejak kecil, nah sosok guru semacam Pak Zein yg bisa mewujudkan, karna beliau bisa memberikan pemahaman yg mendalam (bisa masuk logika anak2) akan adanya perbedaan yg sebetulnya saling berdampingan tanda adanya konflik. Semoga makin banyak sosok2 inspiratif seperti Pak Zein. I wish.

leave your thought

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s