Hidup Itu Seperti Permainan Catur

Samin telah biasa mengambil risiko dalam hidupnya. Sudah banyak pengalaman yang ia dapat karenanya. Sewaktu mudanya, ia rela menjadi pejuang perang. Bangun pagi mengatur strategi, bergerilya pada waktu malam hari. Oleh karena kegigihannya itu, ia menjadi orang yang disegani di desanya. Ia selalu berkata bahwa hidup ini seperti permainan catur yang selalu berubah dengan langkah gerakan kita masing-masing karena setiap gerakan akan menentukan langkah kita selanjutnya. Hasratnya untuk Indonesia merdeka besar sekali memang. Lihat saja, ia berani melepas sekolahnya untuk memilih perang.

Keberanian dirinya pada waktu muda ternyata menguntungkan hidupnya sampai ia beranjak dewasa. Selepas Indonesia Merdeka ia bekerja pada Cukong Cina, pada satu buah pabrik besar pengolah padi. Ia tak masalah bekerja pada orang asing, justru kadang ia meminta tips bagaimana membangun pabrik pengolahan padi tersebut. Su Din Hao, cukong cina tersebut sangat respek dengan cara kerja Samin. Katanya, Samin adalah karyawan paling gigih di antara yang lain. Ia mampu membawa warga-warga untuk mengolah padinya di tempat Su Din Hao. Sehingga membuat hubungan Su Din Hao dan Samin semakin erat.

Pada satu waktu, Su Din Hao menemui Samin. Dikatakannya, “Hei, Min. tak inginkah dirimu beristri? Umurmu keburu uzur nanti. Betahkah kau tinggal sendiri terus selama ini?” Samin mengangguk pasrah. Terngiang-ngiangnya omongan bosnya tersebut. “benar juga ya, selama ini aku kerja terus sampai lupa wanita” jawab hatinya diam-diam.  “tak ada yang maukah wanita-wanita di luar sana padamu, Min? perlukah kucarikan wanita? Ha-ha-ha-ha-ha” sindir bosnya sambil memukul pundak Samin. “ah, kurang ajar kau, Bos. Aku gini-gini masih suka wanita dan masih berani menyatakan cinta padanya” jawab Samin ketus.

“anaknya rekananku dulu masih sendiri itu, Min. ia umurnya lebih muda darimu, dua tahun. Orangnya manis, senyumnya bak bunga yang sedang mekar. Namanya Salikha. Cantik rupanya ia, Min” mulai serius pembicaraan Su Din Hao dengan Samin. Samin mulai terpancing omongan bosnya. Penasaran ia akan sosok Salikha itu.

Lusa, setelah jam kerja berakhir. Su Din Hao mengajak Samin untuk berkunjung ke rumah Mahdi, rekan usahanya saat itu. Mahdi inilah ayah dari Salikha yang kemarin diceritakan oleh Su Din Hao.

“aaaa, Mahdi.. lama tak jumpa kita” sapa Su Din Hao sambil menjabat tangan Mahdi

“Din Hao!! Apa kabarnya kau? Takkau monopoli kan itu usaha olah padimu? Ha-ha-ha-ha” balas Mahdi sambil mulai memeluk Din Hao.

“baik saja aku. Ha-ha-ha-ha tidaklah, tidak setega itu aku orangnya. Oiya, ini temanku, Samin. Perkenalkan.” Su Din Hao menarik tangan Samin

Kerinduan antara keduanya dibuktikan dengan obrolannya selama satu jam. Selama itu pula, Samin diam mendengarkan obrolan mereka berdua. Sampai pada titik utama pembicaraannya, Su Din Hao mulai membuka topic dengan pertanyaan, “Salikha anakmu itu mana, Di?” / “oh, Ia sedang ke Pasar. Sebentar lagi, sampai mungkin”

Baru saja Mahdi selesai bicara, sampailah Salikha ke rumah. Salikha memasuki teras sambil menebar senyum ke tamu ayahnya.

“amboy, cantik sekali wanita ini. Mengapa ia belum berjodoh? Apakah ini jodohku?” Samin mulai berbisik dalam hati. Ia tidak menyesal diajak bosnya ke sini.

Semangat mudanya saat ikut perang dulu pudar ketika berhadapan dengan Salikha. Jatuh cinta ia pada wanita anak rekanan bosnya itu. Pedomannya hidup ini seperti permainan catur dipertanyakannya lagi. Kalau kesempatan ini tdak ia ambil, ia akan kehilangan kesempatannya mendapatkan Salikha. Dua hari setelah pertemuan pertamanya dengan Salikha, ia memberanikan diri untuk mengajaknya bertemu.

Pertemuan itu berhasil mempertemukan keduanya. Dari pertemuan tersebut membuat hubungan keduanya semakin erat. Sepertinya, Salikha membalas cinta Samin. Tanpa ragu, Samin menawarkan diri untuk mempersunting Salikha. Sebelumnya ia telah berbicara dulu dengan bosnya, bosnya sendiri mengiyakan keinginan Samin. Secara ekonomi, kerjaannya dengan Su Din Hao tidak menyusahkan hidupnya, justru membuat Samin semakin baik secara ekonomi. Kecil alasan Mahdi untuk menolak suntingan Samin untuk anaknya.

Hari yang ditunggu tiba, Samin melamar Salikha di depan Mahdi. Mahdi menerima hangat lamaran Samin. Setelah pernikahannya, kehidupan Samin semakin lebih baik, ia juga naik jabatan di perusahaannya. Di rumah, Salikha tidak begitu banyak bicara, namun panas dan mantap ketika di ranjang. Alhasil, sebulan setelah pernikahannya Salikha langsung bunting.

Awan mendung mulai datang pada Samin. Sejak Su Din Hao sakit, pekerjaan di pabrik menjadi terbengkalai, banyak karyawan lainnya yang mengundurkan diri dan berpindah pada perusahaan lain. Sampai pada Su Din Hao meninggal, perusahaannya bangkrut. Samin bingung harus bekerja di mana lagi, ditambah ia harus membiayai istri dan anak yang ada dalam kandungannya.

Beruntung, Samin mempunyai banyak kenalan pengusaha ketika sering diajak rapat oleh Su Din Hao. Salah satu rekan Din Hao membantu Samin membangun usahanya. Samin berhasil membangun usaha barunya, kenalan baru ia dapat setelah bekerja sama dengan rekanan barunya. Pada suatu waktu, ia diajak ke Jakarta. ketika di Jakarta, usahanya benar-benar maju. Banyak pula wanita Jakarta mulai menggodanya, tapi ia tak mudah dipengaruhi oleh wanita-wanita itu. Ia ingat akan anak yang dikandung Salikha.

Di sana, Samin dikenalkan oleh Bob, seorang pengusaha tambang yang tinggal di Jakarta. Selain punya tempat pengolahan beras di desanya, di Jakarta Samin juga membangun usaha menjadi supplier  barang-barang rumah tangga bersama rekanan bosnya saat dulu. Setelah kenal dengan Bob, usahanya semakin maju. Bob mengajaknya ke daerah Glodok, ia dikenalkan dengan casino yang saat itu sedang tenar-tenarnya di Jakarta. mulanya ia hanya memandangi Bob bermain, ia belajar bagaimana Bob memasang taruhannya. Bob mempunyai angka keberuntungan, ia memasang rolet pada tiap kelipatan 6. Samin kaget. Taruhan Bob menang dua kali!

Hati Samin mulai goyah, ia ingin main casino setelah Bob berhasil mendapatkan 100 dolar dari taruhannya. “Min, kau ingin main tidak?” tanya Bob sambil memegang roletnya

Samin teringat bahwa hidup seperti bermain catur. Langkah yang kau ambil akan menentukan langkah berikutnya. Setelah menimbang-nimbang, Samin mulai mengecek dompetnya. Ia menganggukkan kepala menjawab pertanyaan Bob.

“Nah, gitu dong! Ini baru rekanku” jawab Bob antusias

Taruhan pertama, Samin pasang di nomor 25. Rolet diputar, Samin mulai berkeringat sambil menahan napasnya. 15… gerak rolet mulai memelan, 20.. tambah pelan. Samin menahan nafas dengan mengembungkan pipinya. 24… gerak rolet mulai menunjukkan tanda-tanda berhenti. Dan….. 25! Berhenti tepat nomor pasangan Samin. Bibir Samin merekah, senyumnya ia tebar ke Bob.

Dari permainan casino, uang di tabungannya mulai menggunung. Ia berterima kasih sekali kepada Bob yang mengajarinya main casino.

kini ia main sudah lepas dari kebersamaannya bersama Bob. Ia berani pergi ke Glodok sendiri hanya untuk main casino. Samin mulai berani memasang taruhan tiga kali lipat daripada biasanya. Tandingan Samin memasang chips di nomor 25, nomor keberuntungan Samin

Suasana hening, terdengar hanya deru nafas dari para pemain yang terhembus tegang. Taruhan Samin saat itu besar sekali, sekitar 90 dolar. Pegawai mulai memberikan isyarat, suasana kembali menegang. meja Casino mulai menjalankan tugasnya.

20… nafas pemain semakin menegang. 25! Tepat sekali berhenti di angka yang Samin pasang. Lagi-lagi ia mendapatkan apa yang ia mau. Kemenangan itu memacu Samin untuk bermain terus-terusan. Permainan selanjutnya Samin memasang seluruh uangnya di nomor yang sama. Sambil cengengesan Samin menaruh chip di angka kelahirannya tersebut. Pegawai mulai memberi isyarat, suasana kembali menegang. Suasana dingin ruangan casino membuat jantung Samin semakin dag dig dug.

17…. Rolet masih berputar kencang. Melewati angka 25 berkali-kali. Rolet mulai melambatkan gerakannya, Samin menahan nafasnya. DEG! 19! “MAMPUS, AKU!” Samin berteriak sambil menepak jidatnya.

Ia berjalan perlahan menuju pintu keluar dengan kepala tertunduk. Teringatnya istri dan anak yang sedang dalam kandungan. Sesampainya di hotel, ia mengacak-ngacak rambutnya, menjedotkan kepalanya ke tembok. mulailah ia minum-minum sampai larut malam. Ia bingung harus bagaimana menghadapi istrinya nanti.

***

“SKAK!” teriak Usman

Ha! SIAL! SALAH LANGKAH AKU!

Sterku berhasil di makan oleh kudanya, menteriku telah sebelumnya dihabisi oleh pion-pionnya. Aku terpojok, sisa pejuangku tinggal benteng dan raja.

“aku menyerah, Man, pandai sekali kau bermain catur” jawabku lesu sambil menggaruk-garuk kepala

“Hidup ini seperti permainan catur yang selalu berubah dengan langkah gerakan kita masing-masing karena setiap gerakan akan menentukan langkah kita selanjutnya” tutup Usman sambil tersenyum

5 thoughts on “Hidup Itu Seperti Permainan Catur

anotasi

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s