Memang Bukan Pasar Malam

Gema takbir mengiringi perjalanan kami untuk mudik ke kampung halaman. Rutinitas tahunan keluarga ini selalu kami lakukan. Sudah biasa kami selalu solat ied di Purworejo. Karena itu, kami selalu berangkat h-2 sebelum lebaran, sehingga ketika di jalan gema takbir menjadi alunan nada perjalanan kami. Ayah bertugas sebagai pilot dan saya ko-pilot. Kami selalu bergantian, biasanya saya bagian macet dan Ayah ketika lancar. Sepertinya, SOP-nya memang begitu.

Perjalanan mudik kami tidak pernah terburu-buru. Sebenarnya bisa ditempuh dalam waktu 12 jam, ini bisa sampai dua hari di jalan. Bukan karena macet, perjalanan mudik kami jadikan sebagai wisata menikmati perjalanan bersama. Toh, kebahagiaan yang didapat dari keluarga ketika kita bisa berlama-lama menikmati sesuatu bersama.

Sambil pegang kemudi, ayah mengatakan satu hal “hidup ini terasa berbeda antara dua buah kutub, bahagia kita belum tentu orang lain juga merasa bahagia”. Ayah selain hobi mengomeliku waktu kecil, tapi beliau yang paling sering memberikan pelajaran tentang kehidupan di keluarga. “kita sedang bahagia pergi mudik, tertawa, bertemu saudara, tapi mungkin di sisi lain ada yang harus berduka. Kalau dibandingkan serasa tidak adil, ya? Tapi, perbedaan itu justru menyatukan kita. Yang senang membantu memulihkan keadaan yang duka, itulah kemanusiaan” ayah melanjutkan. Suasana jalan saat itu malam dan sepi, mudah sekali menerima maksud omongan ayah walaupun kuterima sambil menguap.

Ayah suka memberikan cerita dadakan memang, kadang-kadang Ia menyambungkannya dengan kisah-kisah yang telah Ia lalui. Mobil kami terhenti karena macet, kemudian ia melanjutkan ceritanya sementara aku mendengarkan sambil menahan kantuk yang luar biasa.

“waktu tamat SMA, semua temen-temen ayah merayakannya di alun-alun Kebumen. Tidak seperti sekarang yang konvoi pakai motor, dulu sekadar jalan dari sekolah ke alun-alun saja yang penting kita merayakan kelulusan dan kebahagiaan bersama. tapi, ada satu temen yang murung sedari berita kelulusan. Ayahnya meninggal. Keceriaan akan lulus terhenti, kita yang cerita coba menghibur ia yang duka. Coba lihat, Van.. antara ayah dan teman yang tertimpa musibah seperti dibatasi satu garis, tapi garis itu punya pengaruh besar yang membedakan rasa temen-temen di sana.” Beliau berbicara panjang. Aku mengangguk tanpa kata.

“bumi ini lebih cepat berputar ketika kita merasakan kehilangan” tutup ayah.

Aku sudah tak kuasa menahan kantuk yang luar biasa dahsyat. Terpaksa aku tidur meninggalkan buah cerita yang jarang aku dapat. Namun, tetap aku bisa mengambil inti dari apa yang ayahku ceritakan.

Tiba-tiba aku ingat tulisan Pram pada di Bukan Pasar Malam.

“Dan di dunia ini, manusia bukan berduyun-duyun lahir di dunia dan berduyun-duyun pada kembali pulang… seperti dunia dalam pasar malam. Seorang-seorang mereka datang… dan pergi. Dan yang belum pergi dengan cemas-cemas menunggu saat nyawanya terbang entah ke mana.”

Paginya, aku telah sampai di rumah Mbah. sebelum berangkat solat ied aku menanggapi cerita ayah semalam. aku bilang padanya “kenapa manusia ini tidak berduyun-duyun lahir di dunia dan berduyun-duyun pulang ya, yah.. dengan itu, tidak akan ada yang akan merasa sedih karena selalu merasa bersama”

Sambil menyeruput teh yang baru ia tuangkan, ia berkata “Pram benar, hidup ini memang bukan pasar malam. Kehidupan dan kematian hanyalah siklus yang harus dilewati manusia. Lahir sendiri, meninggal sendiri”                                                     

“udah ayo berangkat, mari kita kembali ke titik nol” tutupnya sambil mengalungkan sajadah

 

3 thoughts on “Memang Bukan Pasar Malam

anotasi

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s