Yusuf Mansur Juga Manusia

Assalamualaikum, Ustadz Yusuf Mansur

Sebelumnya, Saya ingin mengucap kekaguman saya pada ustadz, berkat ustadz saya lebih tau cara berjalan lurus dengan agama menjadi pembatas kiri dan kanan jalan saya. bukan cuma saya, teman-teman saya pun mengakui bahwa ustadz saat berdakwah mudah masuk dalam pikiran karena pembawaan santai juga bahasa yang digunakan tidak berbelit-belit.

Langkah ustadz selalu saya perhatikan, sukur-sukur bisa saya tiru di kemudian hari kelak. Saya juga melihat bagaimana patungan usaha pendirian asrama haji juga sempat menjadi buah bibir khalayak ramai. Menurut ahli, ustadz melanggar peraturan perbankan. Mau berkonsep yayasan, koperasi, atau sedekah, seperti itu ya ustadz? Ah, hidup kadang memang seperti itu, ‘stadz, menurut kita sudah benar tapi tetap saja ada yang membenarkan. biasanya sih karena kita kurang pengetahuan atau wawasan, dibanding ustadz saya lebih sering melanggar peraturan tentunya. ya begitu deh, ‘stadz. Toh, sekarang usahanya juga sudah dapat izin dari OJK, bukan?

Nah jadi gini ‘stadz..

Semalam, timeline twitter saya ramai, ‘stadz. Memang ramai seperti biasa karena saya follow sekitar lima ratusan orang, tapi tiap ramai punya kekuatan sendiri bukan? tergantung siapa yang membuat ramai. Sampai-sampai, kegiatan rutin saya scrolling timeline menemukan satu twit ustadz.

IMG_4856

saya khawatir, doa-doa yang selama ini saya lontarkan tak terkabul lantaran bahasa yang saya gunakan salah. doanya berhenti selepas genteng-genteng rumah saja, tidak tertuju pada Sang Penguasa Alam. ini jadi PR tambahan juga buat saya di mana skor TOEFL bahasa inggris saya belum menyentuh 550, saya harus terbebani untuk belajar arab.

Tenang, ‘stadz. Tentang agama, saya dengan teman kosan pun masih jauh tertinggal. Apalagi dengan ustadz, da urang mah apa. Saya mengerti akan status Ustadz, berperan sebagai penyeru, pengajak, dan pemanggil orang untuk taat kepada-Nya. Ya, berdakwah. Namun, menurut hemat saya berdakwah tak sekadar mengajak semata, ada yang harus diperhatikan lebih detil, yaitu penyampaian dan isi. Sepenting apapun yang ingin disampaikan, tapi kalau cara penyampaian dan isinya melampaui logika, bisa jadi persoalan. FPI? Felix Siauw?

Banyak yang berkomentar tentang twit ustadz, salah satunya saya, yang saya tangkap ada ketegasan dalam twit tersebut, bahwa yang dipahami Allah hanya bahasa arab. Punteun ‘stadz, menyamakan islam dengan arab sama saja mengkerdilkan islam itu sendiri. Sementara, Bahasa arab pun lahir hasil evolusi dari bahasa-bahasa lain. Logika sederhananya, bagaimana Tuhan Pencipta alam semesta dan segala isinya terkurung dalam huruf dan bahasa buatan manusia?

saya paham peran ustadz. Pada intinya mengajak untuk belajar bahasa arab. Tak ada yang salah dalam belajar bahasa, walaupun tagalog atau ibrani sekalipun. Tapi, kembali lagi persoalan penyampaian dan isi mungkin memunculkan balon raksasa berbentuk tanda tanya dalam pikiran yang membacanya. Lebih dari itu, ‘stadz, hal lebih penting lain yang harus diperhatikan adalah tentang berperilaku.Tidak sedikit manusia beragama yang tingkah lakunya tidak karuan padahal ia menguasai bahasa arab.

satu lagi, ‘stadz. saya akhir-akhir ini agak heran AA Gym sempat mempermasalahkan tentang Menteri Kelautan, Susi Pudjiastuti, dengan alasan “Guru-guru akan susah. Nanti kalau guru nanya ke muridnya, ‘Kenapa kalian merokok?’ ‘Kan Bu Menteri Merokok, Bu’. lagi-lagi hal kecil yang tak substansial pun suka terlontar tanpa melalui alur pemikiran semestinya. tapi tak apa, Aa mungkin lupa akan peran guru dan orang tua yang senantiasa memberitahu jalan terbaik untuk anak-anaknya.

Ya, begitulah ‘stadz buah pikir saya. bahwa penerapan nilai-nilai butuh logika dan rasio sebelum disampaikan ke khalayak. toh, tweet ustadz di atas sudah hilang di telan bumi. Orang dengan pandangan agama minim seperti saya tidak berani menyalahkan seorang ustadz yang ilmunya jauh di atas. Namun, belajar itu di dapat dari mana saja bukan ‘stadz? Yang paling mujarab, belajar dari kesalahan sendiri. he….he…he….

14 thoughts on “Yusuf Mansur Juga Manusia

  1. Yang salah d twet nya apa ya hehe. Kecuali dia tambah kata percuma d depan twet nya. Itukan cma informasi bahwa nanti setlh mati bahasa yg d gunakan bahasa arab. Maksut aa gym itu sentilan buat semua petinggi agar moral dan prilaku juga d jaga. Itu si yang otak saya tangkap. 😀

  2. hahaha… kalo tentang yg AA Gym itu, sebenarnya hanya pembalikan kalimat dari yang pernah dilontarkan pandji dalam blognya. Pandji pernah menulis, “Kalo prabowo jadi presiden, entar saya susah mengajari anak saya. karena anak saya akan bilang, penculik saja jadi presiden.”, dan anehnya semua orang setuju dengan itu. Gak bermasalah seperti AA Gym. semuanya tergantung niat mau membully dan mau membella sih.

    trus, kalo yg masalah bahasa arab itu, emang ada haditsnya. Hal tersebut berhubungan dengan ayat surat Yasin yang mengatakan dalam kubur itu semua mulut terkunci. anggota tubuhlah yang bicara. Nah, bahasa yg digunakan anggota tubuh itu diterangkan menggunakan bahasa Arab.

    jadi, maksud twit ustad itu bukan berarti kita harus menguasai bahasa Arab. Tapi untuk dunia akhirat, diterangkan akan memakai bahasa Arab. sama seperti kita di sekolah pake bahasa Indonesia, ngomong dgn bule pake bahasa inggris, lalu ngomong ama arjuna pake bahasa India. tapi saat kita sudah masuk ke lingkungan keluarga, ya ngomong pake bahasa keseharian kita (misal: daerah).

    jadi tenang aja gan, doanya tetep dimengerti tuhan kok meski gak pake bahasa Arab.

    *maaf, tapi postingannya mas ini masih pake logika standup comedy. padahal yg dibahas masalah serius lho.

    1. punteun, a, saya ndak terlalu suka stand up comedy. logika saya begitu, bukan logika stand up hehe

      saya pikir, kalo mas pandji tidak suka dengan ungkapan aa gym. artinya, dia pake standar ganda dong. ngomong ini bisa, tapi ga terima liat orang lain ngomong gitu. ya bukan? tidak dibenarkan juga.

      dasar saya menulis, bukan karena mas pandji. saya jg baru tahu statement-nya dari mas sendiri. pandji maupun aagym melahirkan tanggapan yang sama “loh, ke mana peran guru dan orang tua?” menurut saya begitu.

      lebih luas lagi, (tanpa peduli siapa yang bicara), walaupun bukan hal yang etis membandingkan satu keburukan dengan keburukan lain, mana yang lebih buruk secara moral antara merokok(susi) dan menculik(prabowo)?

      untuk tweet, hapunten, tidak ada dalil qurannya, mas.

      untuk menjawab argumen mas yang terakhir, kalaupun bahasa arab jd bahasa surga, itu adalah “bonus” bagi yg masuk surga. Tiba2 mereka semua bisa bhs arab. bukan sebagai prasyarat.

      Allah mengerti semua bahasa, saya lihat di QS. Ar Ruum 22
      “Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah menciptakan langit dan bumi dan berlain-lainan bahasamu dan warna kulitmu. Sesungguhnya pada yang demikan itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang mengetahui.”

  3. Berfikir positif aja, mereka berbicara dalam kesadaran penuh dan pasti tau maksud dan tujuannya. Mudahan tweetnya dapat penjelasan langsung dari ustadz.
    *Komen atas ane, mencerahkan tuh.

  4. makanya saya kurang suka ngetwit. karena hanya memuat 140 karakter sementara poin-poin yg harus disampaikan sebenarnya banyak.
    apalagi contoh twit di atas, kalau sudah bicara tentang aqidah, perlu dalil yang shohih.

    Aa mungkin lupa akan peran guru dan orang tua yang senantiasa memberitahu jalan terbaik untuk anak-anaknya.

    kalau dilihat tren anak-anak sekarang, kebanyakan mereka menyontoh figur di luar ortu dan gurunya.

    mudah2an kita diberikan kemudahan untuk mendidik anak-anak kita kelak agar selalu dalam kebaikan. dan bisa mencontohkan mereka dengan hal-hal yang baik pula. aamiin

  5. sayang hal-hal besar, yang menyangkut akidah terlewatkan…
    bahasa arab…. ada akidahnya… ketika Allah berfirman dan menyebutkan bahwa firmannya dalam bahasa arab… maka disitu ada akidah…. mengecilkan akidah… maka fatal…. berhati-hatilah….

    rokok, jelas banget, itu bukan hal kecil… kalau rokok dianggap hal kecil … sayang banget.. jangan karena banyak kyai rokok dsbnya… rokok jelas bukan hal kecil… sesuatu yang memudhorotkan jelas bukan hal kecil……

    salam

anotasi

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s