Perintah Alam

Tak ada yang spesial di bulan ini. Hanya hujan lebih rajin turun, daun-daun lebih sering bertebaran di jalan, burung-burung bermigrasi berpindah ke tempat yang lebih aman, putri malu pagi lebih sering menutup dirinya, basah seperti anak kecil selesai mandi menunggu handuk dari Ibunya. November membuat semua mematuhi perintah alam dengan baik.

Seorang lelaki gamang, beristirahat dalam lelahnya. Rambutnya kucal, mukanya dipertahankan selayaknya agar terlihat tidak kenapa-kenapa. ia bersandar di depan barisan kayu, sekarang kepalanya mematuk-matuk sandarnya. ia terlelap dalam untaian awan mendung serta angin yang mendesir dahsyat.

“egois itu hal yang paling memuakkan semua orang” Deras Hujan sekonyong-konyong tiba di depan muka jari-jari kakinya. “apa pula yang kau tuntut? Bukankah kau sendiri sendiri sudah mengatakan bahwa ia tidak bisa kau tuntut untuk jadi milikmu?” Deras Hujan semakin besar. Petir berkejar-kejaran depan sawah.

Kengantukan yang luar biasa mendadak hilang mendengar pernyataan Deras Hujan. Ia terpaku bisu. Petir-petir seolah mengenai batang tubuhnya. Ia menahan segala keegoisannya dengan pledoi dalam hati. “mampus kau. Paham kau, konsekuensi ketika kau meminta adalah diminta? Segala tuntutanmu dituntut balik dalam sadarnya” Deras Hujan mula tak bisa diam. Ia mengenali isi kepala dan memahami pikiran pada otak lelaki itu.

“ada yang mengganjal di hati. Ia menuntutku, aku bukan Tuhan yang bisa mengabuli semua tuntutannya” lelaki mulai gemetar menjawab Deras Hujan, kepalanya mulai pening.

“kau bilang apa tadi? Kau takut dengan tuntutan? Ha…ha…ha…” Deras Hujan membalas dengan geram “kau lelaki yang sering menuntut tapi tidak suka dituntut? Aku rasa lingkar otakmu berdiameter keegoisan, beruas jari-jari dengki” Deras Hujan mulai memunculkan tanda badai.

Lelaki berulang kali terpaku membisu. Ia mencoba membuka kaleidoskop hari-hari sebelumnya. Membaca kembali tuntutan-tuntutan yang diberikan kekasihnya. Tentang perihal bagaimana ia harus bertindak, menerima telpon, membalas chat-chat, dan menuruti kemauan yang tak sebegitu penting. Bagaimana tuntutan-tuntutan ada tanpa perasaan dan logis berdasar nalar.  “kau tak lebih dari bajingan tengik. Kau mencoba menutupi dusta-dusta dengan kebenaran-kebenaran semu. Bahkan kau tak memiliki teman baik untuk berbagi. Kau hanya mencari-cari suatu yang pas untuk pelampiasan dungumu.” Deras Hujan makin kencang, badai mulai memutar tak kenal pusing.

Ia menunduk, “aku diam sebagaimana terdakwa tertuntut dalam pengadilan. aku sungkan mengakui kesalahan, setidaknya, menunduk adalah satu simbol kekalahan atas segala kelakuanku. Aku adalah sisa-sisa harum dalam dekap yang membuat hangat sekaligus keringat. Deras Hujan mengingatkanku kembali bahwa menuntutmu untuk jadi milikku seorang adalah bentuk keegoisan.”

“apa yang lebih menenangkan dari pengakuan kesalahan seorang lelaki lantas mencari-cari sajak yang tepat untuk mewakili?” Deras Hujan mendukung namun tetap menyinyir. Ia menggabungkan dirinya dengan badai, petir menjadi Deras Hujan yang akan terkenang selama manusia hidup.

“mula-mula kau berjalan rintik-rintik, bolak balik antara ujung kepala dan ujung kaki. Ketika demam berhembus, kau meluncur deras, diiringi tiga tembakan petir. Hatiku banjir. Kau membuat kolam di lambungku dan aku terdiam mendengar kecipak air di kolamku. Kini kau merintik kembali dan rintikmu sebentar lagi sirna. Tinggal gigil penjual sate yang tiba-tiba berhenti di leherku, mendengar ‘T’ yang Tuhan serukan di ujung lidahku*” muram durja pada lelaki itu kian terhapus, Deras Hujan melaksanakan perintah alam dengan baik.

Lantas, ia membuat sajak-sajak sebagai obat dari kemelut pikiran-pikirannya sebagai luka. Ia melampiaskan segala keluh kesah pada sajaknya.

“LELAH

Pesona indah diiringi nada,

di atas hujan bersenandung ceria.

ada tawa hapus lelah,

mengubah semua menjadi merekah.”

Ia tertawa melihat bait sajaknya yang belum jadi. Barangkali inilah keikhlasan. Menerima keadaan apa adanya lantas melakukan hal tetap semestinya.

“kepercayaan tidak akan meminta seseorang untuk memainkan gitar tak berdawai, bernyanyi bait per bait dengan kendang. Kamu tahu itu, mencintai adalah tentang keikhlasan.” Deras Hujan mulai meredakan. mulai mencuatkan bau tanah basah. Membuat air yang sedari tadi mengetuk-ngetuk jendela menjadi irama terindah yang berhasil dibuat oleh alam.

ada rasa yg terbebas dari penjara, ketika perbincangan antara hujan dan awan ingin menyampaikan pesan.

 *Puisi Joko Pinurbo, Surat Senyap.

Advertisements

2 thoughts on “Perintah Alam

leave your thought

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s