Lupa

Kupikir, di hidup ini kehidupan yang paling dramatis hanya ada di sinetron. Sifat-sifat kepalang sialan hanya muncul dari tangan-tangan sutradara. Ternyata aku lupa, sutradara juga membumbui insting dengan pengalaman-pengalaman yang diterimanya.

Ibu, wanita yang berani membentak lelaki. Setelah ayahku. Ya, aku yang dibentak. Bentakan terakhir yang kudapat adalah jangan pernah percaya dengan orang lain apalagi ia asing bagimu. Ibu lupa bahwa peringatan dalam bentuk bentakan berbuah angin lalu, ia masuk kuping kanan keluar kuping kiri tanpa izin. Yang kuingat hanya gigi emas dan muncratan air yang sembrono keluar dari mulutnya. Sekarang aku salah, kepercayaan sudah kuserahkan semua pada orang.

Sewaktu masih dini, Bude selalu melarang memutar-mutar diri dengan alasan bikin pusing. Setelah sekolah, Bude mulai jarang memberi tahu, alhasil aku lebih pusing daripada memutar-mutarkan diri tentang bagaimana menuruti harapan-harapan semua orang. Bikin pusing, Bude. Sungguh

Pakdeku mengatakan, mataku paling awas. Mampu melihat buah ceri hijau di antara dedaunan. Sulit memang, tapi mudah bagiku. Pakde lupa, ia berbicara pada pemuda yang matanya mampu mudah merespon tiap perbedaan. Setengah sadar beliau berpesan, jadilah sebaik-baiknya orang yang bermanfaat untuk orang lain. Maka jadilah aku ini, menyenang-nyenangi orang lain padahal aku sibuk mencari di mana kesenanganku. Pakde sudah tua, matanya lebih mudah pejam ketika ada sandaran. Setalah sadar, ia melanjutkan, jangan lupa kamu punya teman.

Pada satu kesempatan, pagi-pagi, ayah spontan mengajakku lari. Disuruhnya segera aku memasang sepatu. Belum sempat talinya terikat, Beliau sudah teriak-teriak, matahari akan segera terbit. Kita mau lari bukan kerja bakti. Lima, enam meter aku berhasil melangkah. Dua puluh meter keseimbangan goyah, tali sepatu kiri terinjak kaki kanan, lantas aspal kucium mesra. Ayah lebih memilih mengingatkan daripada membantuku bangkit. Katanya, aku harus menyiapkan segalanya dengan cepat dan cermat supaya tidak jatuh. Ayah lupa bertanya pada ibu, aku sudah tidak punya apa-apa.

Advertisements

11 thoughts on “Lupa

  1. Hai Rivan 🙂

    Baiklah,…
    Pelajaran penting bagiku, gak akan belliin sepatu tali buat Kayla dan Fathir…
    Belinya sepatu yang pake perepet itu aja, biar gak kesandung kalo lagi lari-lari 🙂

leave your thought

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s