Tentang Kehidupan

Kehidupan memang keras, katamu seperti itu. Aku terhenyak berpikir. Untuk mereka yang tak siap, katamu lagi melanjutkan. Seakan kehidupan ini sudah terasa hambar bagimu, tidak ada lagi rasa asam garam. Kau pernah bercerita, kaulah yang paling ketakutan saat krisis moneter. Saat itu pula aku tahu bahwa ketakutan bukan satu-satunya alasan untuk membenarkan bahwa seseorang bersalah, melainkan menghindari amukan-amukan amoral. Sekarang aku paham, mengapa kita tidak boleh dengan mudah percaya pada orang lain, sekalipun itu teman. Tajam memang, tetapi begitulah, ada parang tersembunyi pada tiap karakter manusia.

Berbagai masalah memang terbukti mendewasakan. Tajam di depan, tumpul di belakang, karenanya masalah pada akhirnya menjadi lelucon paling sederhana yang bisa kita tertawakan. Aku mengangguk diam, seolah paham atas semua yang dibicarakan. Tapi kau mengingatkan, bahwa kehidupan bukanlah tentang masalah, ia berisi juga keceriaan.

Hal kecil yang harus kau lakukan adalah mengenal bangsamu, katamu seperti itu. Pantas saja, warung pecel lele pinggir jalan lebih sering kita datangi daripada restoran yang kita bingung memesannya dari mana. Dengan mengenal bangsamu, kau tak akan kehilangan arah, kau bisa belajar dari tiap deru nafas, detak jantung, dan urat-urat yang menonjol di sekujur kulit pada orang-orang sekitar. Katamu melanjutkan.

Kau selalu mengaitkan hal-hal sepele menjadi kajian filosofis kehidupan, menjadikanku seperti peserta seminar motivasi yang belakangan redup. Seperti kau tahu sendiri, minyak goreng pada warung pecel lele pinggir jalan hitamnya melebihi aspal yang baru saja mendidih. Bayangkan berapa tingkat kolesterolnya! Tapi, lihat, kenikmatannya bisa sampai masuk ke tiap aliran darah, seakan minyak-minyak itu berisi semangat, harapan, suka-duka, dan hal-hal lain tentang kehidupan. Tambah kau lagi sambil menggebu-gebu, tambah menjadikanku seperti bayi yang baru keluar dari Rahim ibu. Tidak tahu apa-apa.

Aku tak bisa mengelak, kau lah saksi hidup yang menyaksikanku tumbuh dan berkembang. Melihatku jatuh secara bodoh ke selokan, menolongku sambil kultum, sampai kau menjadi tempatku mengadu saat aku kehilangan sekaleng berisi gundu-gundu kesayangan. Tapi, bukan itu saja, aku sempat menjadi saksi di mana saat kau pulang kerja, bau tengik dari kaos kakimu seharian membuat bau isi rumah.

Apa yang paling kau hargai di hidup ini? Tanyaku polos.

Pengalaman. Jawabmu singkat.

Setiap pengalaman yang kita dapat, segalanya menjadi pelajaran penting, jikalau terlewat, ia akan menjadi sesobek kertas dari buku hidup yang tidak punya makna. Karena pengalaman adalah fondasi kehidupan. Hidup tak sekadar berisi tentang pemenuhan harapan-harapan. berisi juga mengenai getir pahitnya realita yang kita terima. Perlu kau pahami, kalau manusia sudah tidak mau lagi berkembang dari realita-realita yang ada, sepatutnya kemajuan menjadi kata dan makna yang harus dihapuskan dari kamus kamus kehidupan

Lagi-lagi aku dibuat terhenyak, pertanyaan yang kukira akan dijawab seadanya akan dijawab sedemikian berat, sehingga tak mampu kepala ini menahan jawaban yang diberikan.

Seperti biasa, setiap minggu, sore yang lelah selalu kita habiskan di loteng, sekadar minum teh panas dengan sepasang ubi rebus yang baru matang. Bercengkerama seputar kehidupan, masa lalu, dan masa depan. Berkelakar memandang kehidupan seperti menonton acara lawak, menertawakannya seolah masalah itu ada memang untuk kita tertawakan nantinya.

Berterima kasihlah pada tiap hal yang memberi kehidupan.

Kau tutup jawaban pertanyaanku dengan kalimat indah.

Sampai, pada akhirnya,  satu adzan menggenapkan obrolan antara aku dan ayah yang mahal itu.

—–

any man can be a “Father”, but it takes someone special to be a “Dad”

Selamat Hari Ayah!

 

Advertisements

18 thoughts on “Tentang Kehidupan

  1. Selamat hari ayah, dan aku baru tahu pas buka google tadi pagi hohoho kemana ajaaa :p

    Aku sudah gak pernah ingat kolesterol kalau sedang makan lele nih hehehe. Begitu ya orang tua selalu panjang lebar padahal menurut kita sepele, tapi memang benar sih saat kita yang menjadi orang tua tidak ada lagi itu hal yang sepele :p

  2. Udah kemarin ternyata. hehehehehe…!!!! Thanks mas infonya. Saya googling ternyata ada sejak tahun 2006. di kota saya lagi yaitu SOLO. mang ketinggalan saya ini. hehehehehehe…!!!

  3. Sungguh sosok ayah adalah pahlawan pertama yang saya kenal. Dia mengajarkan apa-apa yang belum saya ketahui tentang kehidupan, bahkan kadang saya dipaksa untuk mengerti sendiri apa yang sedang terjadi, ayah tidak menjelaskan apapun.

leave your thought

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s