Jika Saya Anak ITB

Tidak pernah menyangka sebelumnya, dapat mengenal Bandung dengan cara yang sedramatis ini. Setelah gagal pada USM ITB, lumayan membuat hati saya seperti ditimpa besi proyek. Rasanya harapan-harapan yang selama ini saya pupuk, hilang, akibat sekali erosi. Tak hanya itu, saat mencoba kembali memupuknya pun rasa malas, ketakutan yang berlebihan, kepanikan yang luar biasa dahsyat, ketidakpercayaandiri, dan hal-hal lain yang mengganggu saya memupuk semangat-semangat yang kemarin hilang karena kegagalan.

Bandung yang saya pikir hanya sebuah kota biasa seperti Jakarta, tidak akan membuat saya betah didalamnya. Artinya saya akan bolak-balik minimal seminggu sekali. Ternyata anggapan saya salah, saya menikmati Bandung dengan segala isinya. Kesejukan,  kekulineran, kepariwisataan sampai kata “anjing” yang menjadi penutup tiap pembicaraan.

Saya tidak akan mencintai Bandung kalau saya tidak masuk ITB. Perjalanan saya yang sulit untuk masuk ITB menjadi alasan juga, untuk mencintai Kampus Ganesha ini. Harapan terakhir saya masuk ITB adalah SNMPTN Tertulis, mengerjakan soal-soal mungkin mudah bagi saya. tapi, mental saya telah dilucuti sebelumnya oleh kegagalan, tak mudah memang mengerjakan soal dengan mental yang sudah tergerus oleh pengalaman pahit. Namun, berkat doa dari orang tua, saudara, kerabat, dan guru ngaji, saya berhasil menembus FTTM ITB.

Tidak pernah saya melihat ayah saya sesenggukkan menangis haru, ibu saya mengabulkan permintaan makanan yang saya mau seperti menjentikkan jari, Bude yang langsung memberitahu tetangga tentang pengumuman, sehingga membuat saya saat keluar rumah dielu-elukan seperti Hayam Wuruk waktu memegang masa keemasan Kerajaan Majapahit. Sampai-sampai tetangga menggodai saya dengan “lamun lebet ITB, tangtos kabogohna geulis ieu”. Saat itu saya manggut-manggut pasrah saja.

Semester satu dan dua saya jalani dengan penuh gairah semangat perjuangan. Saya yakin akan menjadi orang dengan masuk ITB. Keyakinan itu mulai tertanam sejak saya pertama kali masuk gerbang utama ITB yang seperti Taman Bunga Cibubur. Awal-awal semester ini, saya sebagai mahasiswa hanya bisa pasrah mengikuti perintah senior, biasa kami panggil “Bang”. Saya masih ingat, ketika harus lari pagi di Lapangan Sabuga satu angkatan bareng-bareng, kemudian satu senior kami duduk di pinggir lapangan seperti komandan pleton TNI. Hanya sibuk main handphone, begitu kami selesai lari langsung lapor seperti masuk rumah real estate. Tapi, saya menyadari, senior tidak akan ada yang menjuruskan. Ia hanya melatih. Melatih jiwa kami. sampai ketika pada satu reuni SMA, teman yang tidak percaya saya masuk ITB, heran

“DEMI APA LO MASUK ITB?”

“DEMI TUHAN, BANGSA, DAN ALMAMATER”

Seketika itu juga, teman saya langsung sembah sujud.

Tak hanya itu, perlahan-lahan, ajang pamer IPK mulai masuk rundown acara reuni. Hal ini  merupakan yang paling bikin saya seperti ingin hilang dari peradaban dunia. berbagai dugaan-dugaan mulai muncul dalam kepala saya kalau mereka tahu IPK saya.

Mulai masuk semester pertengahan, resmi menjadi anak kuliah tingkat tiga. Sudah punya junior-junior lucu yang bisa di”ajak asik”. Sudah bisa melakukan hal-hal yang gak sempet dilakukan pas semester-semester awal. Di semester ini mulai masuk organisasi dan kepanitiaan kampus, hal ini semakin membuat keyakinan saya bahwa harus bermanfaat bagi sekitar, bangsa, dan negara.

Pas semester-semester ini juga, nilai yang beragam mulai mengisi Sistem Informasi Akademik. Namun, hal ini membuat saya berpikir bahwa saya harus kembangkan kewirausahaan sosial demi menutupi nilai-nilai saya yang tidak karuan. Kalau duit saya punya, nilai-nilai bisa apa? Sampai sekarang prinsip itu tetap saya pegang teguh, lumayan usaha kecil-kecilan saya bisa mengalahkan dompet mereka yang nilainya bagus-bagus.

Kalau sudah semester delapan, seperti tidak terasa semua berlalu begitu cepat. Masa lalu, masa sulit ketika kuliah semester awal sampai pertengahan, nongkrong-nongkrong gak jelas di sekre cuma buat menghindari dosen killer, galaunya penjurusan, kalutnya ngeliat nilai pre-test praktikum, deg-degannya pas tiba-tiba ada kuis, sampai masa-masa mau solat jumat di PDAM, mampir sebentar ke gelap nyawang, tahu-tahu kebablasan.

Sampai hari ini, saya mau wisuda, saya mendengar gemuruh itu, teriakan-teriakan kebahagiaan menyeru-nyeru dari sudut ruangan, saya yang kali ini menititikkan air mata begitu deras.

“Van, Bangun, anjiing”

“kuliah gak lo?!”

Ah, gue batal wisuda anjiiing!

Post-scriptum: saya nyatanya anak Unpad, Jatinangor bukan Bandung. Truk gandeng yang lebih sering saya lihat daripada neng geulis.

Advertisements

24 thoughts on “Jika Saya Anak ITB

  1. di nangor juga geulis geulis mereun cewenya..
    kalo aku masuk ITB tiga tahun lalu, aku ga akan jadi ahli gizi kaya sekarang ini.
    😀
    Syukurin apa yg ada, everything happen for one reason..

leave your thought

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s