Kesunyian

Kadang kamu berpikir bahwa hal terbaik melepaskan masalah adalah dengan meninggalkannya. barangkali kamu lupa, yang kamu tinggalkan bersama masalah itu adalah manusia. batang tubuh yang butuh diperhatikan, dikasihani, atau minimal ditemani. Begitulah kodratnya, manusia setia mencari-cari sesuatu agar ia jangan sampai sendiri. gerasak-gerusuk mencari cahaya agar ia selalu bahagia. Sampai-sampai lupa pada sendi kemanusiaan.

Kamu tahu apa yang lebih menyiksa dibanding perigi kering di musim kemarau? Kesunyian. Sejak awal peradaban manusia, ia menjadi teman akrab dari kekecewaan. Ia merogoh seluruh isi kantongmu lantas merobek celanamu hingga kamu terlihat bodoh dihadapan yang lain. Lalu, menggerogoti sisa harapan-harapanmu menjadi kepingan-kepingan nestapa.

Kesunyian justru menciptakan suara. Suara-suara bingar yang bersaut-sautan, membangunkanmu. Lantas membuatmu merasa takut dan cemas. Pun kesunyian membodohkan, membuat jarak puluhan kilometer antara harapan dan kenyataan. Sementara kamu tetap sendiri. kekecewaan menjadi karibmu yang paling dekat. Memelukmu erat lantas mencium pelipis yang basah karena keringat. tidak ada yang dapat kamu lakukan selain diam meratap.

kamu mulai sibuk berbenah merapikan kepingan-kepingan. Menaruh kembali perabot yang lama jatuh atau mengendapkan dalam tanah sampai ia terurai. Barangkali kamu tahu, sesuatu yang sering dirasakan amat-amat akan menjadi sebuah kebiasaan. Sepi dan sendiri menjadi rutinitas, mereka yang paling setia menemani lebih dari janji seorang sahabat. Perlahan kesunyian membiasakan. Ia mengajarimu tentang kedewasaan dan keikhlasan.

Namun, kesunyian juga membinasakan. Kesunyian merebutmu dari canda tawa teman-teman yang setiap hari menertawakan hal-hal itu saja. Tapi kamu butuh. Kamu memilih terjeruji oleh kekecewaan, dengan ketakutan sebagai sipir yang amat mengontrol setiap gerakan. Penjara adalah pembelajaran. Ia mengajarkan hidup bukan hanya tentang pemenuhan harapan melainkan menjalankan realita.

Pada akhirnya, kamu tak akan membenci perigi kering di musim kemarau. Toh, ia akan senantiasa menampung deras hujan nantinya. Perigi yang kering hanya perlu waktu untuk belajar, bagaimana menghadapi kesunyian dalam diam. Sampai kamu pada akhirnya meloloskan kepala ke dalam perigi seraya berharap, lantas berkata, “Tuhan, mudahkan jalanku”

13 thoughts on “Kesunyian

  1. Hi. Salam kenal.

    Saya menyukai tulisan-tulisan Anda. Tulisan seperti ini merupakan tujuan saya blogging — untuk saya baca dan melatih penulisan saya. Selain gaya bahasa dan diksi yang baik, Anda berhasil membuat pembaca (termasuk saya) untuk berpikir, menghayati, atau merenungkan apa yang telah Anda sampaikan.

    You have a great power in your writings, which I also strive for it.

    Sebelum saya membaca ini, saya juga akan membahas mengenai kesunyian. Barangkali saya akan menulisnya di lain waktu (tugas kuliah menumpuk, hehe).


    “Kesunyian justru menciptakan suara. Suara-suara bingar yang bersaut-sautan, membangunkanmu.”

    Terkadang kesunyian itu menimbulkan suara yang amat keras hingga kau tuli dengan suara-suara realita yang ada. Suara-suara yang kau tinggalkan. Bahkan dengan suara yang berada di sampingmu.Terlebih lagi itu menumpuk dan menjadi-jadi sebuah rutinitas bagimu.

    Pada akhirnya, kesunyian juga mengajarkanmu untuk menuli….

  2. sunyi itu mendewasakan diri. tapi, jangan pernah sampai kesunyiin menjadikanmu terus larut dalam kesendirian. kesendirian yang terus berlangusung berulang,menjadikan mu menarik diri pada sendi sendi kecerian. terlalu sering sendiri,menjadikanmu merasakan kesepian.dan gak ada orang yang mau hidup dalam kesepian.

anotasi

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s