Menggambar Diri

Sewaktu dalam kandungan, ibuku seringkali menyetelkan musik, memasangkan headset ke bagian perutnya dengan tujuan aku bisa mendengarkan alunan musik klasik yang Ibu berikan. Tapi, saat itu aku belum bisa merasakan apapun. Saat dalam perut sekitarku hanya hitam, tidak ada warna lain. Hal yang bisa kulakukan adalah berputar-putar, lalu menggoda ibuku dengan mengetuk dinding perutnya. Kemudian, ibu meresponnya dengan memanggil ayah seraya berkata “anakmu mengetuk terus dari tadi”.

Suara itu terdengar sampai dalam, tetapi aku tidak mengerti maksudnya apa. Aku yakini itu adalah suara kebahagiaan orang tuaku terhadapku. Ibu cukup memberiku perhatian selama aku dalam kandungannya. Ayahku pun begitu, ia selalu menuruti apa yang dimau oleh ibuku. Kata ibuku, kalau permintaannya tidak dikabulkan, begitu lahir air liurku akan banyak bercucuran.

Begitulah orang tuaku, kalau saat aku dalam kandungan saja sudah diperhatikan seperti ini. Bagaimana ketika aku lahir. Aku mulai tak sabar, kadang-kadang tengah malam aku suka mendorong perut ibu sampai membuat tidurnya tidak tenang. Ibu mengerti maksudku, Ia balas dengan “sabar ya nak..”. Kemudian, aku diam. Tak kuasa aku mengganggu tidurnya yang indah itu.

Paginya, aku mulai bosan dalam perut, kuketuk terus pintu Rahim Ibu sampai Ia teriak-teriak. Ibu merongrong untuk segera diantarkan ke rumah sakit. Ayahku seorang Supir Angkot, dibawanya Ibuku di kemudi samping Ayah sebagai penumpang teristimewa.

Dalam perjalanan ke rumah sakit, Ayahku mencoba menenangkan Ibuku sambil merapalkan doa supaya nanti ketika aku lahir, aku menjadi wanita yang soleh, pintar, dan berguna bagi masyarakat. Semakin tak sabar aku setelah mendengar doa ayah. Kumulai memukul, menendang, menyundul dan menggunakan seluruh tubuhku untuk memberitahu Ibu bahwa aku mau mewujudkan doa-doa ayah.

Pukul Sembilan, aku menangis, aku bisa mendengar suaraku sendiri. aku juga mendengar Ayah sedang mengazaniku, suaranya tampak tersedu-sedu. Aku belum mendengar suara Ibu. Suara tangis aku besarkan, aku ingin dengar suara Ibuku.

Aku tiba-tiba diam. Aku merasakan kehangatan yang lebih hangat dibandingkan saat aku dalam perut. Ibu mendekap diriku hangat-hangat. Mengusap kepalaku, memegangi pipiku sesekali. Tapi, aku tetap tidak mendengar suara Ibu.

“mana ibuku? Ibuku mana? Aku ingin melihatnya” sambil menangis aku berkata dalam hati

Aku tak sanggup melihat ibuku, aku ingin memandang wajahnya yang cantik. Aku ingin melihat ayah juga dengan segala kebijaksanaannya. Lantas, memberi senyum kepada mereka yang telah membantuku keluar dari Rahim Ibu.

Tangisku kembali meleleh. Aku merasa seperti kembali ke dalam perut Ibu, gelap. Tak ada lampu, selimut, inkubator dalam pandanganku. Aku hanya mampu mengenali warna hitam di duniaku yang baru.

Ibu mulai menggendongku dengan lengannya yang masih tergolong lemah semenjak kelahiranku. Ia coba berkata-kata, menggodaku selayak Ia menggoda pacarnya. Aku tahu Ibu memendam sesuatu. Aku merasakan sesuatu yang lain terjadi pada diriku. Namun, orang tuaku seperti belajar untuk menerimaku sebagai pemberian terbaik-Nya. Mereka adalah pusaka terbesarku.

Pada umurku yang mulai beranjak delapan tahun ini, aku semakin menjadi-jadi. Iya, harapanku yang menjadi-jadi. Aku mulai menggambarkan diriku seperti teman-temanku, menggendong piala, mendapat piagam, dan menyusun harapan bersama teman-teman di padang rumput.

Aku sempat bingung. Aku kesusahan bagaimana rupaku. Lantas, aku gambarkan saja diriku seperti yang aku mau. Makanya, aku sering sekali berharap. Dengan keadaan seperti ini, jelas, aku berbeda dengan kalian. Aku bebas berharap sampai dimanapun, kapanpun, dan apapun yang aku harapkan. Semesta mendukungku. Keluarga, teman-teman, dan kerabat mendoakan aku agar aku segera mencapai harapanku.

Rapalan doa-doa ayah ketika aku dalam kandungan menjadi pemantik semangat diriku menjalani hidup ini. Kemauan, tekad, dan hasrat sangat besar untuk mewujudkan doa-doa ayah. Juga tak ingin aku mengecewakan Ibu dalam hal ini. Keadaanku yang seperti ini aku jadikan sebagai kelebihanku untuk melakukan sesuatu lebih keras. Begitupun teman-teman, mereka mendorongku untuk terus semangat, tidak boleh cepat putus asa,  dan berdoa agar selalu dalam lindungan-Nya.

Awalnya, kukira hidup akan kujalani sedemikian berat. Tidak ada satupun yang mau menemaniku, apalagi mendukung apa yang aku lakukan. Ternyata tidak. makhluk bumi ternyata baik-baik. Mereka mengerti maksudku bahwa aku yang seperti ini hanya butuh ditemani dan didukung dan diperlakukan seperti manusia biasa.

Dari pagi hari sampai kembali pagi, yang aku lihat hanya malam. Iya, malam tanpa bintang. Terkadang aku sedih, mendengar cerita teman-temanku tentang sinar matahari yang meloloskan sinarnya melalui daun-daun pepohonan, tentang lumba-lumba yang melompat-lompat di samudera, dan tentang temaram senja yang keungu-unguan.

Aku yakin harapan-harapanku akan Engkau kabulkan suatu saat nanti. Sekarang, aku harus berterima kasih dengan keadaanku seperti ini. Kehidupan yang ternyata membuat diriku lebih bersyukur terhadap segala yang Engkau berikan. Orang Tua yang sangat santun menuntun langkahku, teman-teman yang menolongku saat aku jatuh, dan segala elemen-elemen yang membantuku. Ingin aku mengucap sepenggal terima kasih sambil melihat wajah-wajah mereka.

Advertisements

11 thoughts on “Menggambar Diri

leave your thought

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s