Semu

Air liur kering bekas tidurmu sudah tidak kamu takuti lagi. Ada aku yang ternyata keadaan lebih parah dari seekor kuda nil di musim dingin, rambut yang acak-acakkan, lengket, bau neraka dan selimut yang mengumal di bawah kasur. Tidak apa, aku sudah biasa. Dengan itu pula, kamu bisa selalu terlihat cantik. Karena hal tersebut mungkin saja menjadi alasan mengapa Tuhan mengirimmu seseorang sepertiku di tiap kamu membuka mata.

Akulah yang akan kau temui sebelum kamu melihat matari. Kau bangun dengan susah payah seperti petinju yang habis dipukul K.O. aku selalu bangun lebih awal, memasakkan air, membersihkan sisa piring semalam, dan menyiapkan segelas teh hangat. Lantas, mengajakmu mandi yang sedari tadi hanya membalas nanti-nanti.

Baiklah, tentang siapa yang dahulu mandi menjadi perkara yang tiada habisnya. Kau selalu saja berdalih, hampir ditinggal bis, sedangkan aku hanya pasrah mengalah, jam kerjaku dimulai pukul Sembilan. Diam-diam kusiapkan mie goreng tanpa bawang goreng kesukaanmu. Melihatmu makan, akupun ikut kenyang. Kemudian, buru-buru keluar rumah sambil mengecup keningku.

Sepulang kerja, kita akan kembali pada kegilaan. Kamu mulai nyerocos tentang macetnya kota, aku mulai begah dengan sumpeknya commuterline. Kita sama-sama meyakini bahwa sulit mengubah Jakarta menjadi kota yang ramah lingkungan. Argumentasi kita menjadikan kita seperti pengamat tata kota profesional.

Kamu mulai jenuh dengan pengajian yang membuat macet jalan, kamu mulai berargumen tanpa henti tentang gereja yang ditutup paksa oleh warga sekitar, kamu mulai berteriak mengenai toleransi. Seolah aku menjadi peserta seminarmu setiap pulang kerja.

Keadaan berbalik ketika akhir pekan, kita lebih sering bermalas-malasan dalam tempat tidur. Bercerita mengenai kejadian-kejadian aneh di kantor, tentang orang baru yang tingkahnya seperti Raja Namrud, tentang bos yang mengilhami sosok Kim Jong Un. Sampai pelukan hangat menjadi alasan kita untuk kembali ke pangkuan mimpi.

Akhir pekan adalah waktu yang pas untuk mengulas masa lalu. Kau dan aku seringkali bertengkar tentang masa lalu kita. Tentang mantanmu yang lebih banyak dariku, tentang kemarahanku tentang topik yang kita bahas, tentang bagaimana kau membenci susu, tentang bagaimana kau hanya bisa diam ketika melihat aku asik dengan duniaku.

Andai aku menjadi lelakimu, Kau akan kuajak pergi menjauhi hiruk pikuk kota. Bukan sekadar wisata, kita pergi ke desa untuk mengenal bangsa. Memesan rumah untuk ditinggali seminggu, bekerja seperti petani, bangun pagi tanpa mandi langsung menanami padi. satu, tiga cangkulan membuat keluhku keluar. Sampai siang menemukan kita kembali pada satu pohon kelapa di tengah sawah. Sampai kau tarik-tarik lengan bajuku dan merongrong meminta pulang ke kota.

Kita akan menikmati keindahan tiga gunung dari atas Prau. Membuat secangkir kopi hangat dan mengunyah keripik yang kamu beli kemarin. Kau dan aku akan memandangi awan yang berada di bawah kita, sambil menahan hentakan angin yang membuatmu gigil sejak semalam.

Aku akan mengajakmu ke toko buku. Sambil bercerita sedikit tentang mengapa Mochtar Lubis begitu begitu tidak sudi melihat Pram menerima penghargaan Magsaysay. Dan pertikaian sastra zaman dahulu antara Lekra dan Manikebu. Kamu begitu pongah mendengar cerita-ceritaku, seakan aku menjadi guru sejarah seharimu. Sampai kagummu terlihat pada tanganmu yang mulai menggelayut di lenganku.

Kita akan lebih sering beradu argument mengenai siapa yang lebih enak mendendangkan folk, Payung Teduh atau Banda Neira. Kamu memilih Banda Neira dengan Di Beranda, tentang seorang anak yang selalu merindukan orang tuanya. Sementara aku lebih memilih Rahasia, Payung Teduh, tentang kerinduan yang dapat membuat kepalamu pening seharian.

Aku akan membuatmu nyaman walaupun seharian kita bertengkar. Kau akan berbagi tentang kehidupan yang kadang membuatmu di atas awan, kadang membuatmu muak ingin berteriak. Kau akan bercerita tentang ibumu yang kolot, tapi kau tetap sayang. Kau akan bercerita sepanjang malam, sedangkan aku hanya diam mendengarkan. Lalu, menimpali pernyataanmu pelan-pelan ketimbang diam.

Aku akan mengajakmu menyusur gua, berarum jeram, kemudian melepas lelah di pinggir pantai sambil memandang senja yang telanjang keemas-emasan. Lalu menghitung mundur bersamaan dengan matahari yang seolah akan dilalap bumi sembari menyeruput kelapa muda.

Kita akan berpelukan tiap hari, saling menjambak rambut satu sama lain. Sampai kita lelah, diam saling memandang dan keheningan memeluk diri kita masing-masing. kebahagiaan itu sendiri akan menemukan kejenuhannya. Kau dan aku sama-sama sadar bahwa kita berusaha, Tuhan menentukan.

Kebahagiaan akan mencari jalannya masing-masing. Kita mulai berpisah, kau dengan kebahagiaanmu, aku dengan nasibku. Pada akhirnya perbuatan kita menentukan, yang mengawali dan mengakhiri. Bagiku, kata-kata hiburan hanya sekedar membasuh kaki. Memang menyegarkan. Tapi tiada arti. Barangkali pada titik inilah kita berpisah.*

Sore itu, aku teringat pesan Joko Pinurbo,”Ajari kami, para pemimpi gigih ini untuk berdamai dengan andai-andai”. maaf, aku selalu bermasalah dengan andai-andai,

Selamat menempuh hidup baru.

*Arus Balik- Pramoedya Ananta Toer

Advertisements

12 thoughts on “Semu

leave your thought

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s