Dialog Dini Hari

Ibu adalah rumah. rumah yang berdindingkan kemuliaan hati. Rumah yang selalu menggodamu untuk kembali setelah pergi berpuluh-puluh mil. Ia adalah satu-satunya makhluk yang mampu menerima kau sebagaimana bentuk dan perangaimu. Karena bagi Ibu, kau selamanya dianggap seperti anak-anak yang baru belajar merangkak, lalu menuntunmu berjalan, kemudian sesekali membiarkanmu berputar komplek dengan sepeda roda tiga sendirian.

Begitupun Ibu saya. ia akan lebih tepat kalau saya sebut sebagai sebuah anomali. Ia bisa semanis kucing angora atau semengerikan singa padang pasir. Seburuk apapun, setengik apapun perangai atau kenyataan yang ada pada anaknya Ia akan selalu menerima saya apa adanya.

Ada satu tindakan ibu yang sampai sekarang masih terngiang dalam pikiran saya, memukul saya dengan gagang sapu seperti mengusir kucing yang berhasil menaiki meja makan. Seketika itu juga, tangis merobek isi rumah. saya menangis sampai titik tertinggi saya bisa mengeluarkan suara. Ibu memang marah, Ia langsung berceramah mengenai sopan santun dengan durasi yang lebih lama daripada tangisan saya. setelah amarahnya meredam, Ibu langsung diam, memeluk saya rapat-rapat lantas menyuruh saya makan.

Sampai sekarang, Ibu saya adalah sosok sederhana yang saya kenal. Ia bukan berasal dari trah tentara, pengusaha, maupun priyayi. Ia murni turunan keluarga tani dengan kehidupan sederhana seperti yang biasa kau lihat di televisi. Dari sawah, ditiap cangkulannya kakek saya yang penuh peluh, Ia selalu berdoa untuk kesuksesan anak-anaknya. Sementara Nenek saya di rumah, memasak, memberi makan sapi dan kambing, serta mengunyah gincu kalau pekerjaan telah selesai.

Kerja keras kakek dan nenek saya yang membuat Ibu rela mengayuhkan sepedanya sejauh empat kilometer untuk sekolah. Ia pun berharap, pendidikan dapat membawanya beranjak dari keadaan sekarang.  Ibu hanya orang biasa dengan harapan-harapan luar biasa. Saat ia diangkat menjadi Pegawai Negeri, saya mulai belajar darinya bahwa totalitas mampu mengalahkan kualitas. Dan tiap keberhasilan menjadi tidak biasa karena murni dari kerja kerasnya.

Saat sekolah, Ibu dulu di sekolah katolik. Minimal sekali dalam seminggu, ia dengar nyanyi-nyanyian doa pada saat teduh. Ibu menjadi minoritas, ia satu dari seratus perbandingan teman-temannya yang katolik. Tapi, dengan itu, Ibu tidak gagap budaya apabila bertetanggaan dengan yang tidak seiman dengannya. Ibu mengajarkan saya bahwa sudut pandang agama bagai sepasang sepatu, cari yang nyaman denganmu tetapi jangan paksakan saya memakai sepatumu.

Beberapa tahun lalu merupakan tahun yang berat bagi kami. ibu dengan kerjaannya mulai sering tidur malam, sedang saya harus belajar mati-matian untuk ujian. Kami terpisah antara sekat-sekat tembok yang membatasi kamar dan ruangan. Namun, seringkali kami berdialog saat dini hari.

Saya kira berbicara empat mata mengenai keinginan kita adalah hal paling menegangkan dalam hidup. Kau harus belajar menerima kenyataan, bagaimana kalau keinginanmu tidak terturuti serta saat itu juga kau harus mendengar suara delapan oktaf dari ibu. Dengan hasil apapun saya harus siap, saya yakini ibu dapat menerima sepahit apapun kenyataan anaknya.

Pagi yang sunyi saya mulai isi dengan pernyataan saya untuk pindah kuliah. Ibu berhenti mengetik, berdiri lalu menuangkan teh hangat dalam gelasnya. “kamu yakin? Mau jadi apa kamu nanti?” ia mulai meminum tehnya

Saya tahu, pernyataan saya akan membuat ibu semakin lama menyelesaikan tugasnya. Sedangkan, pukul lima ia harus berangkat menerjang ibukota. Pelan-pelan saya balas “InsyaAllah, aku yakin dengan pilihanku”. Ibu diam, Ia kembali duduk lalu mulai mengetik.

Jeda diam yang cukup panjang ini sungguh menyebalkan. Menunggu ibu menjawab membuat saya tidak bisa melakukan apa-apa, memaksanya untuk menjawab mungkin akan membuat pagi terasa semakin lama.

Saya mulai gelisah, memainkan jari-jari, menggaruk-garukkan kepala, bertingkah aneh supaya ibu memerhatikan saya lalu menjawab kebingungan saya. akhirnya, ia mulai menoleh, suasana kembali menegang, saya mulai menduga-duga apa yang ingin dijawab Ibu. “Ibu hanya anak keluarga tani, ibu ndak ngerti tentang apa maumu, ibu hanya bisa mendukungmu” kalimatnya mulai dipelintir, saya tahu ibu mulai kecewa.

Ada yang menggembung di sudut matanya, saya melihatnya dalam keheningan malam yang mencekik. Sementara saya masih saja ingin menjelaskan bahwa pilihan saya kali ini benar-benar sesuai dengan keinginan. Tetapi, saya tak kuasa menjelaskan. Suasana dingin pagi semakin memasuki ruangan, mata saya mulai menandakan tanda-tanda mengantuk, sepertinya ibu juga tidak suka apabila saya menjelaskan. Ia akan merasa digurui oleh anaknya.

 “terus, bu?” saya memaksa memulai kembali

 “terserah” ini sebuah tanda, tanda ibu sudah tidak mau lagi menanggapi pernyataan-pernyataan saya. Ia mulai menjawab singkat. “kamu sekarang ini kurang bersyukur, lupa apa yang dikasih Gusti Allah” ibu menimpali.

 Ibu benar, banyak kegagalan yang membuat saya mengambil jarak dengan-Nya. Tuhan yang menggagalkan rencana-rencana yang saya rangkai indah, Tuhan yang membuat saya harus berdialog dini hari dengan ibu saya, Tuhan yang diam ketika saya dalam keterpurukan. Seperti ada batu yang mengganjal sehingga apa yang diberikan sulit saya terima dengan lapang.

Ibu melepaskan kacamatanya, mengusap matanya membuatnya seolah menahan kantuk yang teramat parah. Tapi, saya tahu, Ia mengelap tangis yang sedari tadi ia tahan. Saya tahu, berita ini akan sampai ke telinga ayah besok atau lusa.

Saya memasuki kamar, melihat langit-langit sambil menahan kantuk. Saya mulai berpikir tentang cara meminta maaf pada Ibu, tentang bagaimana membuat keadaan seperti sedia kala. Pintu membuka, “kalau kamu siap, jalani wae, yang penting kamu selalu kerja keras. ibu hanya bisa mendoakan kamu”

Ibu mengajak saya ke meja makan, Ia tahu berdialog menjelang pagi menguras tenaga. Lantas, ia goreng kembali uli kemarin, kemudian menuangkan teh tawar ke cangkir, mempersilakan saya minum. Saya tahu, ibu mulai menerima keputusan saya. batu yang mengganjal dalam tenggorok mulai hilang. Ibu adalah pintu terakhir keikhlasan. Ibu adalah wakil Tuhan yang diberikan kuasa untuk memberi keputusan untuk anak-anaknya.

Selagi saya mengunyah uli, ibu mengambil wudhu, ia mulai tahajud. Diam-diam aku menangis. Bagaimana jika Ibu tiada? Sedangkan harapan-harapanmu belum sempat membuat bibirnya merekah lebar. Sesaat sebelum ibu melipat sajadah, saya berdoa dalam diam,

“Rabbighfir lii waliwaa lidayya warhamhumaa kamaa rabbayaanii shaghiiraa”

Saya tiba-tiba malu, dengan keadaan seperti ini sulit sekali menerapkan apa yang dilakukan oleh ibu saya dulu. Tentang orang biasa dengan kerja keras yang luar biasa. tentang kakek nenek saya mengajari ibu saya bahwa menjadi luar biasa adalah tetap menjadi orang biasa.

 ***

Hari ini, Ibu tetaplah Ibu. Ibu yang sederhana, Ibu yang jarang berfoto dengan kamera. Ia tetap menjadi manusia paling mulia seluas samudera. Rumah merupakan saksi bisu bagaimana jauh dan dekat menjaga kelekatan saya dengan ibu.

Selamat Hari Ibu, Bu.

Advertisements

5 thoughts on “Dialog Dini Hari

  1. rivan, saya nangis bacanya… percakapan dengan ibu emang menegangkan, tapi kita tahu kita mengharapkan restu darinya

leave your thought

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s