Menuju Senja

Aku masih ingat bagaimana ibu harus tampil di luar rumah, Ia mencoba merias wajahnya, memilih pakaian yang cocok, dan menggoreskan gincu pada bibir. Ia selalu berusaha tampil cantik, sopan dan santun saat berbicara dengan bahasa jawa yang halus dan senyum dengan sibakkan paling ramah sealam raya.

Keadaan berbalik saat di rumah, sebelum merias wajahnya, ia harus memotong daging ayam, membiarkan matanya menangis karena cabai dan bawang, merelakan tangannya menguning karena kunyit dan bau bawang merah yang menyeruak di sekujur pakaiannya. Banyak hal yang harus dilakukan ibu sebelum keluar rumah.

Ibu memang tak selalu wangi, ia membiarkan keadaannya begitu saja kalau di rumah. dalihnya yang selalu kuingat adalah “wong nang ngumah ini, siapa yang mau liat”. Kalau ibu sudah bicara itu, aku bisa bilang apa selain menganggukkan kepala.

Saat kecil, Sudah rutinitas memanggil ibu sebelum aku memejamkan mata, meluangkan separuh kasur, lalu memeluknya. Dari bajunya tercium bau abu gosok, tangannya pun masih lembab. aku selalu meminta diceritakan tentang kisah-kisah ibu dahulu, tentang ia harus berbagi makan dengan kakak-kakanya, tentang nenek yang kerap kali memarahinya karena tidak pulang ke rumah sebelum maghrib. Selalu, dalam ceritanya diam-diam Ia memasukkan nilai dan norma budaya jawa berharap aku bisa menjadi manusia yang mengerti tata krama.

Tangisku setiap pagi mendahului matahari terbit. kalau diri ini belum terbangun ketika ibu berangkat kerja, aku berteriak memanggilnya ingin mengatakan “Bu, aku mau salim dulu”. Aku kehilangan kesempatan mencium tangan ibu pagi hari, lantas aku menangis, aku takut terjadi apa-apa pada ibu sebelum aku sempat mengecup tangannya. kekhawatiranku pada ibu semakin besar, sejadi-jadinya saat aku membuat alasan untuk mengantarku sekolah atau berbagai alasan lain yang membuat agar ibu tetap di rumah, biar aku saja yang boleh keluar rumah.

Ibu, seorang pekerja keras. Ia berangkat tepat habis subuh lalu sampai rumah menjelang maghrib. Sampai rumah, Ia memilih merapikan isi rumah yang telah dijadikan kapal pecah oleh anak-anaknya ketimbang tidur melepas lelah. Katanya, badannya akan pegal-pegal kalau tidak melakukan sesuatu. Setiap kali ibu bicara seperti itu, ingin sekali kujawab dengan pelukan seraya berkata “jangan terlalu lelah, Bu”.

Karena pekerjaannya Ibu jarang sekali sadar bahwa subuh itu suasana paling teduh, kau bisa merenung mendalami pikiranmu sampai titik terdalam sambil menunggu matahari memunculkan kepalanya. Ibu menghabiskan sepanjang hari di ruangan. Tidak sempat ia menikmati birunya awan atau emasnya senja.

Di usianya yang semakin senja, aku ingin mengajaknya pergi, ke bukit sekadar menghirup udara segar, ke gunung berfoto dengan edelweiss, atau ke pantai menikmati senja, atau keindahan alam sejenis yang dapat kunikmati lama-lama bersama Ibu.

Kalau beliau masih tidak sempat juga, biar aku berangkat sendiri ke pantai, berdiam diri menunggu senja datang lalu melipatnya lantas memasukkannya dalam dompet lalu orang-orang akan kebingunan mencari senja yang tiba-tiba menghilang. Aku bawa senja itu ke rumah, kuajak ibu naik ke loteng, lalu kubuka dompet dan membiarkan senja bersinar di loteng rumah sampai membuat tetangga terheran-heran sinar apa yang muncul dari rumah.

Kita akan menikmati senja sampai Ia habis masanya. tentu dengan ritus teh tawar serta ketela rebus dan obrolan-obrolan khas kita, tentang masa depanku, tentang bagaimana kau bisa bertemu ayah, atau tentang kenakalan-kenakalanku dulu yang selalu membuatmu menepukkan tangan ke dahi.

Sampai senja membuatmu candu, lantas meminta-minta agar senja kembali hadir. Sampai kau sadar, kau tidak sempat meluangkan waktu menikmati keindahan alam, sampai kau sadar senja yang keemasan lebih berharga ketimbang kerja semalaman.

Advertisements

8 thoughts on “Menuju Senja

  1. Well.. Keinginan membahagiakan ibu berbeda-beda ya.. Tapi dengan menikmati senja, aku rasa semua ibu bahagia. Apalagi sambil ngeteh dan cerita-cerita 😀

  2. Andaikan ada dompet pelipat senja di kantongnya Doraemon, akankah itu jadi hadiah terindah buatnya? Sempatkah beliau?
    Yg saya inginkan justru alat yg bisa menyetop waktu.

  3. Ketika akupun tidak sempat memeluknya saat pagi buta sebelum ak terbangun.. Ibu telah berkutat dengan bisingnya jalanan kota ini. kisahmu begitu menggeliat dalam anganku tentang wanita hebat itu. Ibuku ak sayang engkau selamanya.
    Your story is Best…

leave your thought

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s