5 Buku Layak Baca Sebelum Semakin Langka

Pada satu kesempatan, teman saya berujar bahwa apa yang menjadi landasan berpikir dan berbicara seorang manusia adalah pengalaman yang dia dapat. Ketika itu saya hanya bisa terima-terima saja omongannya tanpa memahaminya lebih jauh. Pun begitu dengan kemampuan kita menilai dan menghakimi suatu karya atau pemikiran orang lain.

Sekitar medio 2010, saya dikenalkan teman beberapa buah buku. Sebuah novel teenlit dan kisah inspiratif. Saya baca keduanya, hasilnya bagus di awal buruk di akhir. Bagus karena saya dapat kutipan-kutipan seru yang bisa saya lempar pada teman saya, buruk karena buku-buku tersebut tidak membuat saya berniat untuk membeli buku kembali. Dengan modal dua buku itu seolah saya bisa menilai sekaligus menghakimi buku-buku indonesia lainnya.

Ketidakpercayaan saya pada buku-buku Indonesia memang berdasar pada dua buku yang saya baca sebelumnya, alurnya maju, dialognya membosankan, plotnya tertebak, endingnya kadang membuat saya, maaf, menyesal telah membelinya. Saya merasa benar saat itu, impresi saya ketika pertama kali “memegang” buku, itulah yang akan saya kenang selamanya.

Sampai ketidakpercayaan itu membawa saya pada rasa penasaran yang teramat sangat. Masak sih tidak ada buku yang benar-benar layak baca? Telat memang, saya baru peduli pada awal semester 5 saat kuliah. Saya mulai mencari buku-buku sastra lama Indonesia. maka dari itu, saya putuskan, semester 5 adalah waktu di mana saya bisa sepuas hati menikmati sastra-sastra lama Indonesia.

Hasilnya, tidak sia-sia. saya mengakui diri saya kuper, cepat puas, dan malas membaca. Buku-buku sastra lama indonesia mengundang decak kagum pada diri saya. seolah saya tidak percaya, mereka, penulis-penulis Indonesia menulis dengan sedemikian bagus saat zaman perang. Buku-buku yang saya katakan layak baca berdasar pada kapabilitas saya sebagai seorang pembaca awam bukan kritikus sastra.

 Saya melihat sebuah buku bagus ketika buku tersebut ditulis tidak menyesuaikan dengan kondisi pasar. Mampu menyihir pembaca untuk mudah memvisualisasikan apa yang dibacanya, disusun dengan diksi yang baik, tidak bertele-tele, dan buku tersebut bermanfaat untuk orang banyak.

 1.      Bumi Manusia – Pramoedya Ananta Toer

Di tuduh sebagai antek komunis tanpa sebab, kemudian dijebloskan ke penjara di Pulau Buru selama puluhan tahun tidak membuat Pram kehabisan akal untuk melahirkan karya yang magis yang mampu ditulis seorang manusia dibalik penjara.

Bumi Manusia, seri pertama dari Tetralogi Pulau Buru, menjadi pilihan pertama saya sebagai buku romantis pertama yang mampu mengubah pandangan saya bahwa sastra indonesia tidak sedemikian buruk. Begitu manis kisah Annelies dan Minke diceritakan secara detail oleh Pram. Penggambaran pada tokoh Nyai Ontosoroh seorang yang dijadikan gundik oleh ayahnya sendiri, mampu menjungkirbalikan stigma mengenai wanita gundik.

Bumi Manusia mampu menjadi penyebab matamu berair melalui kisah cinta era kolonial. Sempat dalam hati saya mengumpat, berani-beraninya rezim Soeharto menghalang-halangi karya besar ini.

 2.      Sepotong Senja Untuk Pacarku – Seno Gumira Ajidarma

Saya menyukai sejak lama, ketika ia dinikmati bersama kerabat dekat, di pantai, sambil melepas lelah. Sekadar itu saja. Namun, setelah membaca buku ini, orientasi saya tentang senja bertambah. Begitu manis, surealis, SGA menggambarkan senja, seolah senja adalah barang hidup yang bisa kau bawa ke mana-mana, lantas kau berikan kepad orang tersayang.

SGA menyulap kata-kata romantisme remeh temeh menjadi kalimat utuh yang luar biasa,

Bersama surat ini kukirimkan sepotong senja dengan angin, debur ombak, matahari terbenam dan cahaya keemasan. Apakah kamu menerimanya dalam keadaan lengkap?

Sungguh surealis. SGA berani mengungkapkan hal itu tanpa membuatnya menjadi sebuah pernyataan klise. SGA membangkitkan senja lebih imajinatif.

 3.      Ronggeng Dukuh Paruk – Ahmad Tohari

Saya tidak tahu kalau film Sang Penari adalah filmisasi dari buku ini. Saya pun tak menonton film tersebut. buku ini sempat lalu lalang dalam mata saya ketika belanja di toko buku. Namun, cover edisi baru-baru ini membuat saya, memegang bukunya pun agak malas, terlalu dramatis.

Saya menikmati buku ini di perpustakaan umum, penasaran bagaimana Ahmad Tohari mengisahkan Ronggeng. Ternyata, hasilnya menakjubkan. Ahmad Tohari tidak menceritakan kisah ronggengnya saja, ia membangkitkan masa-masa pergolakan G30S/PKI. Tiap tokoh diberikan watak yang kompleks, Rasus, Sakum, dan Pasangan Kartareja. Tiap tokoh memperlihatkan bagaimana kehidupan di masa itu dengan beragam sifat, kikir, licik, cerdas, buta politik dan menjalankan budaya tanpa akal sehat.

Mengacu pada pembuka buku yang ditulis oleh Sapardi, buku ini merupakan kepiawaian Ahmad Tohari dalam mendongeng. ronggeng dukuh paruk merupakan trilogi, kedua lainnya ialah Lintang Kemukus Dini Hari, Jantera Bianglala

 4.      Harimau! Harimau! – Mochtar Lubis

Menghadirkan Mochtar Lubis dan Pramoedya dalam satu review agak kontradiktif pada masa lalu. Mochtar Lubis begitu “membenci” Pram karena Pram sebagai aktivis lekra dianggap memberangus aktivis non-Lekra.

buku ini tidak ada hubungannya dengan pembuka di atas. Buku ini menceritakan tentang 7 orang lelaki pencari damar dalam hutan. Di dalam hutan kemudian mereka bertemu harimau. Kejar-kejaran antara harimau dan pencari damar menjadi kisah yang seru, suasana hutan terasa sekali, kecemasan, kegelisahan, tiap orang tergambar utuh dalam buku ini. Mochtar Lubis dengan kuat memberikan watak yang terlihat pada masing-masing orang. Buku ini sedikit pas kalau dibaca pas malam hari, secara tidak langsung akan menggiringmu ke alam kontemplasi lebih dalam.

 5.      Robohnya Surau Kami – A.A. Navis

Cetakan pertama buku ini tahun 2006, tidak begitu langka seperti buku-buku di atas. Tetapi, kalau kau kehilangan buku ini karena menganggap buku ini biasa saja adalah kesalahan besar. Berisi tentang beberapa cerpen. Cerpen pertama dibuka dengan Robohnya Surau Kami pandangan seorang penjaga masjid dan pemuda yang mampu mengubah pandanganmu tentang agama dan kehidupan.

Dialog yang sederhana, alurnya ringan, plot dan ending yang akan membuat kau berkata “anjrit, gak nyangka gue!” Wikipedia menyebutkan buku ini sebagai buku sosio-religi, tapi lebih dari itu, buku ini karya sastra yang luar biasa dari seorang A.A. Navis. Sederhana namun bermakna, begitulah buku ini dapat disimpulkan.

Kalau kau melewatkan karya sastra klasik Indonesia, kau akan kehilangan kesempatan mengenal bangsamu sendiri. karya sastra klasik menggambarkan suasana masa lalu yang suram, penuh ancaman, dan kegagapan budaya. Saya yakin, ketika kau mulai menyukai sastra klasik, kau akan rela berjalan menuju perpustakaan, toko buku bekas, untuk mencari karya sejenis yang kau inginkan. Ada beberapa karya sastra yang menurut saya layak untuk dibaca, semoga dilain kesempatan bisa saya tuliskan kembali.

 kalau kau masih meremehkan karya sastra klasik, ada yang salah dalam pengalamanmu.

Advertisements

11 thoughts on “5 Buku Layak Baca Sebelum Semakin Langka

  1. Setuju sama daftarmu, Van. Sastra “klasik” Indonesia itu menakjubkan efeknya. Nggak kayak “buku-buku masa kini” yang “kering” dan “remeh”.
    Gw termasuk selektif beli buku, mengingat terbatasnya dana yang setelah punya anak lebih banyak dibeliin popok sekali pakai.
    Gak tertarik baca teenlit atau chicklit, dikasi gratis pun males bacanya. Soalnya, abis baca buku jelek tu rasanya nyesel, gondok. Mending waktunya dipake buat nyabutin rumput atau gosok WC. Mending baca buku tentang bercocok tanam wortel sekalian.

    Gila. Sok banget ya gw…

  2. Saya bukan penggemar berat sastra, tapi pernah baca Robohnya Surau Kami walaupun gak smp tamat hehe 😀 . Tapi satu yg saya suka dari sastra lama, bahasanya baku tapi tidak terkesan kaku, cerita solid & menambah perbendaharaan kosakata

  3. 4 diantaranya aku sudah baca berbelas tahun lalu. Dari sanalah aku belajar bagaimana berbahasa Indonesia yang baik dan benar, menuangkan imajinasi dalam kata, merangkai kalimat indah. Sastra Indonesia membuatku benar-benar jatuh cinta 🙂

leave your thought

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s