Seperti Hari Yang Lain

Hari ini seperti kemarin, matahari tetap malu-malu menunjukkan mukanya sedangkan hujan terus turun tanpa spasi. Kamu tetap mengurung diri dalam kamar, membaca buku, mengingat kejadian masa lalu, lantas menuliskannya dalam satu cerita seolah apa yang kamu baca dan alami adalah satu kejadian yang tidak terpisah.

Akhir tahun, dua perpindahan sekaligus, hari ini menjadi hari esok, tahun ini menjadi tahun berikutnya. Sebagian besar orang merayakannya dengan suka cita, seolah duka enggan menyoleknya malam ini. Perpindahan tahun adalah wajar dirayakan. Kamu akan menikmati perpindahan tahun ini dengan sebotol minuman bersoda, seonggok jagung yang kamu coba bakar-bakar sendiri tanpa tahu matang atau tidak, yang jelas, membakar jagung bersama teman-teman terdekat, menertawai hal-hal yang telah lalu, sambil menunggu perpindahan tahun menjadi penutup terindah sebuah tahun. Meski kini kamu sadar bahwa perpindahan tahun adalah pergantian waktu biasa seperti hari yang lain.

“bukankah semua luka akan luruh oleh waktu? Bukankah dusta akan merasa telanjang oleh pergantian waktu?” pikiranku mulai gatal, mulutku mulai mengeluarkan serangan

“sudah kubilang, perpindahan tahun hanya pergantian waktu biasa, sama seperti 23.59 hari kemarin menuju 00.00 hari ini.” Jawabmu ketus

“jika perjalanan waktunya yang dirayakan, seharusnya kita merayakan tiap malam pergantian hari, tiap jam, tiap menit, bahkan tiap detik demi merayakan pergantian waktu” keadaan berbalik, aku terpojok, kamu menang. Pendirianku diam-diam mulai membenarkan tiap pernyataanmu

Hari itu semua menjadi panjang, malam yang seharusnya kita rayakan menjadi malam yang menikam. Kamu mulai bercerita panjang dari satu hingga sepuluh, dari masalah sampai solusi, terangkum dalam awal Januari hingga akhir Desember. seolah aku mahasiswa yang kejar target untuk skripsi, kamu memberikan kuliah panjang tentang asa, harapan, kemenangan, serta kegelisahan.

Ceritamu mulai seperti kisah novel, melalui alur mundur aku awali dengan rasa penasaran yang teramat sangat. Semangatmu melebihi api abadi yang berkobar di Kawah Ijen, harapanmu setinggi Gunung Kerinci yang menembus awan. Awal tahun bagimu menjadi langkah awal untuk berjalan dan berlari menempuh bulan-bulan ke depan.

Pertengahan tahun, buku catatan itu mulai kamu buka. Sekadar mengecek sudah sejauh mana resolusimu tercapai, kamu mengakui ada rasa sedikit bersalah bila satu dua resolusi belum berhasil dicapai.

Sampai pertengahan tahun, kamu mulai menarik nafas panjang. Seolah aku melihat titik masalah dari kegelisahanmu saat ini. Aku isi gelas dengan minuman bersoda, tidak beralkohol, tidak dingin, sesuai pintamu. Kira-kira, tiga gelas kamu habiskan untuk kembali mulai cerita.

Dua jam menjelang pergantian tahun, kamu kembali bercerita. lalu mulai kuduga-duga apa sesuatu yang mungkin dapat memecah keheningan malam. Benar, dugaanku, pertengahan tahun menjadi awal kekecewaanmu. Kamu fokus pada resolusi-resolusi yang belum tercapai, yang tercapai kamu katakan bahwa semua orang mampu mewujudkannya. Kamu bercerita lebih jauh tentang kekecewaan, terlihat gelisah di tengah-tengah cerita, saat itu aku merasa sebagai orang yang berhasil merobek luka yang telah kamu jahit berbulan-bulan. Juga, kamu bercerita tentang kecemburuan, tentang keadilan yang tidak pernah memihak, tentang menyimpan perasaan yang menciptakan luka yang pelan-pelan dan tanpa disadari memakan harapan. kecemburuan itu secara tidak langsung membuatmu lebih jujur terhadap dirimu sendiri.

Seperti kataku sebelumnya, ceritamu akan seperti novel. Menjelang akhir tahun, konflikmu mulai meredam, dialogmu mulai berkurang, kamu banyak diam ketimbang berbicara panjang lebar, kamu nampak lelah, kamu putuskan untuk memelankan langkah, dan mengatakan biarlah semua mengalir saja.

Mungkin itulah yang kamu inginkan. Membiarkan semua berjalan mengalir begitu saja, tetap berharap namun tidak menggantungkan keseharianmu pada harapan. Katamu, dengan begitu kamu tidak perlu pusing lagi dengan kekecewaan.

“Tanpa pergantian tahun, setiap pagi adalah harapan. ketika asa-asa baru muncul seiring embun menari di atas daun, kemudian berjejeran menawarkan keberhasilan” katamu menutup

Aku melihat harapan-harapan muncul kembali, kamu ingin sebuah kebersamaan, kamu masih menginginkan nasi liwet yang disebar rata di atas daun pisang, tanpa sendok tanpa garpu, lantas berebut makan dengan teman sebelahmu. Kemudian kamu tutup akhir tahun dengan evaluasi, membukanya kembali dengan resolusi, menundukkan kepala, menengadahkan telapak tangan ke langit lalu mengucap syukur sedalam-dalamnya. Meski kau tetap keukeuh bahwa hari pergantian tahun adalah seperti hari yang lain.

Diam-diam aku mulai mengumpat dalam hati, mungkin saja  Tuhan menyisipkan harapan bukan pada nasib dan masa depan, tetapi pada momen-momen kini dalam hidup—yang sebentar, tapi menggugah, sesekali membuat gusar, sesekali gelisah, sesekali juga indah

malam semakin menjadi-jadi, anginnya mulai konsisten berhembus, bintangnya mulai genit dengan kelap-kelipnya. Seketika itu juga kembang api mulai bersaut-sautan meletup-letup riuh dalam kepalamu.

13 thoughts on “Seperti Hari Yang Lain

  1. Bener. Kebanyakan orang, termasuk aku, fokus sama resolusi yang belom tercapai dan malah ngelupain hal-hal yang berhasil dilalui.. Uhuk. Semacam kurang bersyukur. :’

anotasi

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s