Anak Kecebong

Kemarin, ibu meninggalkanku di atas daun alas
Seraya berharap aku bisa menari puas
Ketika awan menggelap, lalu turun hujan deras
Belum sempat kumenari puas, daunnya keburu amblas

Aku berdiri sambil merongrong kesakitan
Lantas mengutuki tiap butiran-butiran hujan
Ia membalasku dengan guntur dan badai
Aku jatuh, masuk ke sungai

Petir kian bersaut-sautan
Hujan dan badai tertawa cekikikan
Badanku mulai menghitam
Menabraki batu seperti

Ibuku berteriak ketakutan
Ia mengemis meminta tolong
sambil meloncat-loncat cekatan
namun, ia terpeleset jatuh ke kolong

nyawaku semakin terancam
giliranku sekarang mulai melolong
tiba-tiba lenganku merasa digenggam

seekor kepiting, mencapit,
menarikku ke pinggir jalan
segera ia pergi, lantas berkata dengan sombong
“dasar anak kecebong”

10 thoughts on “Anak Kecebong

  1. Assalaamu’alaikum wr.wb, Rivanlee…

    Puisinya memberi makna tersirat dan bisa memberi ruang untuk berfikir. kelemahan tetap berlaku kepada semua makhluk dan memerlukan bantuan saat terdesak. namun ada manusia yang sombong mengakui kekuatan diri sehingga menyindir mereka yang lemah dengan memberi gelar yang menyesak jiwa. Ada pesan yang patut dijadikan teladan untuk difikirkan secara tersurat.

    Salam sejahtera dari Sarikei, Sarawak.

anotasi

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s