Dari Atas Bukit

Seperti ada biji besar yang menyangkut di lorong tenggorok membuat kita diam-diam sepanjang perjalanan walaupun aku mencoba membuka topik pembicaraan, menawari mengangkut barang bawaanmu, menanyakan apakah kau masih kuat, sesekali mengejek langkahmu yang mulai memelan.

Peluh mulai turun bercucuran deras dari sela dan pori rambut. Suaramu masih terpasung, terkungkung di dalam leher tak mau keluar. Mendeham pun jarang kudengar. Sampai kebisuan kita masing-masing membawa kita di puncak bukit.

Dari atas bukit, kita mulai bersiap. Kau mulai menggelar karpet persegi merah, membuka rantang makanan, aku menyiapkan kaki tiga dan kamera Waktu menunjukkan pukul lima, langit mulai bersolek, warna kuning keemas-emasan di sisi kanan dan agak keungu-unguan di sisi kiri. Sambil membuka rantang, kau mencuri pandang memandangi langit kala itu.

Dari atas bukit, Mata kepalaku melirik mencekam memandangi matari yang sinarnya redup karena awan. Melalui senja, Tuhan seolah berbisik “pandangi wajahnya, kagumi kecantikannya, bola matanya yang bulat coklat, daya tariknya”. Engsel leherku mulai bergerak, kepalaku berputar melihat punggungnya.

Dari atas bukit, Kau bicara terus bagai volume air yang diloloskan dari bendungan. Nada suaramu mulai mengagung dengan mata berkaca-kaca kau pandangi matari yang turun perlahan, lalu menduduk melihat hutan di bawah ketika berbicara padaku. Aku pun memilih tidak menoleh pada wajahmu, biar matari menjadi saksi bisu perbincangan kita. Sekaligus aku dapat mengetahui hubungan kita semakin mendalam, lebih dari sedekat nadi, lebih dari pengertiannya seorang sahabat. Suatu kemesraan telah mengikat kita, sore yang berangkat membuat semakin dekat.

Dari atas bukit, aku berani menatap wajahnya. Hidungnya mengkilap memantulkan sinar matari. Bola matanya coklat bersinar. Kau menatap ku balik, tersenyum padaku, matanya berubah menjadi garis lurus khatulistiwa. Dalam keadaan ini tak tampak lelah, peluh yang dari tadi menemani kita sepanjang pendakian.

Dari atas bukit, kita berbincang tanpa putus, tentang masa depan. Ihwal harapan dan cita-cita, tentang menjadi apa setelah kita sarjana, tentang inginmu studi di Jerman dan aku di Belanda. Kita mulai membuat gambaran-gambaran kecil pertemuan di sana. Aku yang menghabiskan sisa liburan musim panas di Berlin atau kau yang mau mengawali musim dingin di Rotterdam. Semua kita susun rapi dalam kotak-kotak harapan, di depan kopi yang kubuat, dihadapan ketela rebus yang mendingin, disaksikan senja yang diam-diam mulai tenggelam.

Advertisements

7 thoughts on “Dari Atas Bukit

  1. Saya juga punya kenangan tentang cita-cita dan Bukit, tentang saya dan teman yang bercerita tentang masa depan yang kita reka-reka. ah, semoga itu menjadi kenangan dan semangat hidup, selalu..

leave your thought

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s