Sepenggal Kisah Dari Mandalawangi

Memulai kisah tentang daerah yang membuat saya belajar bahwa hidup bukan sekadar hidup tidaklah mudah. Apalagi harus memulai sebuah tulisan panjang dengan perandaian menjadi bagian penting dari desa ini. Mandalawangi adalah tempat singgah namun saya tidak dapat melupakan secuplik kenangan, keramahan warga, keasrian alam, keteduhan setiap batang pohonnya, membuat saya seolah-seolah diteluh oleh Mandalawangi untuk selalu ingat tentang seluk beluk desanya.

Saya bukan orang yang lahir di Mandalawangi. Tetapi menghabiskan tiga puluh hari di sini dan tinggal di sini memberikan gambaran bagi saya bagaimana perangai warganya, kerja keras, berlelah-lelah seharian memeras tenaga menghidupi kebutuhan harinya.

Mandalawangi itu sederhana. Tentang sejumput warga yang tak kenal saraf lelah, mereka pergi menempuh belasan kilometer dengan pakaian lusuh dan parang yang disarungkan di pinggang, lantas kembali membawa satu batang pohon karet yang dibopong di pundak penuh peluh tiada keluh. Barangkali, pundak itu sudah penat dengan harapan. Tetapi, peluh menyadarkan bahwa kerja keras merupakan karib kehidupan.

Mandalawangi, memang bukan tempat seperti surga. Tapi, kenikmatan sebakul nasi liwet, lalapan, dengan ikan peda tidak dapat kau temukan di lain tempat. Sekalipun asinnya ikan peda membuat kita terkejut bahkan mengeluh tanpa batas. Namun, kenikmatannya dengan sambal hijau memberikan kelegaan, kenikmatan, serta rasa kebersamaan yang sulit kau temukan pada momen lain.

Mandalawangi bukan rumah, hanya tempat singgah. Tempat di mana kebahagiaan dan kesedihan menjadi barang kodian, saling dibagi, mengisi bagian-bagian harimu. Mandalawangi adalah tempat di mana kau bisa bermain gitar, berbincang, dan berkelakar, atau diam menunggu pagi sekaligus menghitung hari menjadi rutinitas keseharianmu. Mandalawangi adalah tempat magis, kekesalan hanya berujung di permukaan tanah, sedangkan keceriaan mampu menyentuh langit sekalipun dalam kepura-puraan.

Sampai ketika kau sadar, suatu sore, kau mendengar nyanyian alam. Bukan sekadar mendengar, kau sejenak terpekur mencoba menguatkan pendengaranmu dan mengecek kiri kananmu. Dan, oh suara-suara alam itu mengingatkanmu pada satu waktu di mana kenangan masih dalam proses, di mana kenangan belum menjadi hal yang akan kau bicarakan di depan teman-temanmu.

Sejujurnya, kau lebih mencintai buku dengan segelas minuman hangat ketimbang sebuah perjumpaan. Ketika mata tak saling pandang kita dapat bicara lebih luas, tentang astronomi, tentang sejarah negeri pascakolonialisme, tentang kekisruhan politik, juga macam hal lain tentang pribadi, lantas barulah kita siap dengan pertemuan. Pertemuan menakhlikkan kita pada titik awal hitungan yang rumit. Ia akan memunculkan dilematis, menasbihkan maksud yang dalam dari perjumpaan. Ada hal yang perlu ditelusuri ketika kita disatukan dalam pertemuan.

Kenangan itu setangkup sinyal. Di bawah rawi surya, sehabis ashar, yang kau lalui dengan jalan kaki ratusan meter dengan beberapa teman. Mereka yang belum kau mengerti perangainya, mereka yang membuatmu kikuk memulai perbincangan namun mampu membuatmu paham bahwa beradaptasi butuh kehati-hatian. Lantas, Tuhan dengan kemurahan hatinya menyematkan kedekatan di antara kalian, satu nasib, menjadi karib. Sampai pada akhirnya, kau dapat menyimpulkan bahwa mereka yang sejauh mentari, kini menjadi sedekat nadi.

Kenangan itu terselip di antara mentari dan kabut yang saling mengarak. Tentang jarak yang harus kau tempuh untuk seikat bayam, tentang nasi yang kau nanak pagi-pagi buta, tentang cucian yang tak kunjung kering, tentang remeh temeh lain yang tak mampu tertuliskan. Tapi, gambarannya sanggup kau ingat begitu dalam. Lalu, pada satu waktu, ketika kau diam, kau mendapati bahwa rotasi bumi ternyata lebih cepat dari Ferrari, dan berbagai denyut kehidupan, diam-diam, membuat kita menjadi makhluk paling alpa di bumi.

Konsekuensi perjumpaan adalah perpisahan, saat di mana kenang dan rindu saling bertalu-talu, ia yang akan diam-diam mengukir senyummu walau sedikit ngilu. Karena mencoba mengingat-ingat peristiwa yang lalu akan semakin membuat kekosongan semakin menyuak. Secara sembunyi-sembunyi, kekosongan itu semakin menganga sejalan dengan ingatan yang terus kita keruk.

Kita sepakat, pada akhirnya membenci sebuah perpisahan. perpisahan membawa kita ke dalam jurang paling dalam, kengerian luar biasa akan kehilangaan satu kebiasaan yang berada di sana tiba-tiba sirna. Kikuk, senang, kesal, rindu serta perasaan maupun tindakan sederhana lain seperti berebut kamar mandi, lelucon yang diulang-ulang, sampai bau sambal goreng yang membangunkan tidurmu semua tercerabut. Lantas, kita berada di antara kosong dan tiada.

Lalu sampai nanti, kita akan melihat senja yang rubuh sama-sama dengan segelas bandrek hangat, dengan jagung bakar, dengan pudding, dengan apapun yang membuatmu ikhlas mendapat sedikit bagian karena berbagi dengan temanmu, seraya menertawakan hal-hal pilon yang kau lakukan kala itu. Atau kita duduk berkelakar, memetik gitar, membaca buku di balkon sembari mengadabi hujan turun dengan senyum yang perlahan terukir.

Sampai pertemuan dan perpisahan dapat kau simpulkan sebagai hal yang mampu membuatmu berpikir bahwa keduanya melibatkan perasaan. Mungkin kau hanya ingin mengingat-ingat masa itu, masa di mana kau sering berteriak minta pulang, masa di mana kau berebut sinyal, masa di mana kau mencari kesibukan membunuh waktu, masa di mana kau lebih menghargai sebuah warung, masa kau amat menikmati makan nasi di atas daun, masa di mana kau belajar menghargai sesama, masa di mana kau belajar menjadi manusia.

Advertisements

2 thoughts on “Sepenggal Kisah Dari Mandalawangi

leave your thought

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s