Sepotong Memoar Tentang Pram

sumber: selasar.com
sumber: selasar.com

Wajah yang mulai penuh bintik-bintik kehitaman, rambut depan habis dan sisanya memutih, Pram kerap menyelipkan kretek di sela jarinya untuk segera dihisap. Mungkin bagi Pram, kretek adalah kegiatan yang dianggap lebih baik daripada mengingat masa lalu. Sampai akhir hayatnya, Pram sempat meminta sebatang kretek daripada menggubris permintaan maaf dari Presiden kala itu. Saya dapat bayangkan betapa tidak bernilainya permintaan maaf bagi seseorang yang telah dipenjara puluhan tahun untuk alasan yang tidak jelas.

Hari ini, 90 tahun lalu, penyair hebat itu merobek rahim ibunya. Barangkali, tangisnya terdengar bagai kecaman untuk penguasa. Pram adalah tokoh humanis, ia memercayai bahwa setiap hak yang berlebihan akan berbuah penindasan. Dengan lantang, ia berteriak mengenai kemanusiaan dengan semangat keberanian dan kejujuran. Pada setiap zaman dalam tiga periode, masa belanda, orde lama, orde baru, bui adalah karib bagi Pram. Berbagai sebab mengajak Pram untuk menjadikan penjara sebagai tempat penghabisan masa mudanya.

Pram belum sempat membuat buku ketika awal di penjara, ia hanya berdongeng pada teman senasibnya. Sampai ketika Jean Paul Sartre mengirimkan mesin tik padanya, (namun, mesin tik itu ditahan oleh Angkatan Darat, diganti dengan mesin tik lain) Pram mulai menulis karya-karyanya. Naskah-naskah itu dapat membuat Angkatan Darat menjadi hakim sekaligus jaksa terhadap karya-karyanya. Lantas ia sembunyikan setiap hasil karyanya, sampai Max Lane berhasil mempublikasikan ke dunia internasional. Dan Pram dari dalam mengumpat, “Karya saya sudah diterjemahkan ke dalam 36 bahasa, tapi saya tidak pernah dihargai di dalam negeri Indonesia”

Jika masa muda saya harus tinggal dalam jeruji besi, mungkin dalam membunuh waktu saya akan lebih sering mengeluh daripada menulis. Bagai sapi yang dicocok hidungnya harus bekerja menuruti kehendak majikannya dengan makan, minum secukupnya dan istirahat sebisanya. Namun, bagi Pram, penjara adalah mukjizat. Melalui penjara ia menghasilkan Tetralogi Pulau Buru. Satu karya masterpiece bagi kehidupan sastra Indonesia.

Saat umurnya beranjak 74 tahun, ia melancong ke Amerika, untuk sebuah wawancara dengan Democracy Now! ia bercerita banyak mengenai kisah hidupnya, jawaban dari tiap pertanyaan yang dilontarkan ia jawab dengan kelegaan. Ia menang, ia merdeka. Dalam wawancaranya, kerap ia berteriak mengenai angkatan muda untuk berani mengungkapkan pendapatnya, berani menentang penindasan, berani merobohkan segala hal mengenai fasisme atau feodalisme. Begitupun pesan-pesan yang tersirat dalam setiap karya-karyanya. Pada bukunya, Di Tepi Kali Bekasi “bukankah tidak ada yang lebih suci bagi seorang pemuda daripada membela kepentingan bangsanya?” sampai detik kematiannya, ia menyerukan kepada pemuda untuk melakukan perubahan. Ironi, karya pram hanya sekadar bacaan bukan penyulut revolusi. Berharap menjadi pemicu semangat sebelum melakukan perubahan, tulisan-tulisan Pram acapkali menjadi hanya menjadi tameng ketika terdesak.

Pram bukanlah dewa. Ia tak mungkin luput dari kesalahan. Pram adalah seorang Soekarnoisme, ia meyakini bahwa Soekarnolah Presiden sejati. Pada wawancara yang sama, ketika ditanya bagaimana proses ia ditangkap pada masa orde lama, dengan taklid ia menjelaskan bahwa penangkapannya atas dasar perintah Angkatan Darat, bukan Soekarno. Bagi Soekaro sendiri, ia sempat marah kepada Pram ketika Pram menolak untuk dijadikan sebagai Ketua Konferensi Pengarang Asia-Afrika, Soekarno menyebut Pram sebagai orang yang angkuh.

Belum lagi pergoletan sastra antara Lekra dan Manifestasi Kebudayaan. Saling tuduh menjadi polemic dalam dua lembaga ini. Diawali dengan siraman Pram terhadap Hamka atas karyanya ”Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck” yang dituduh melakukan plagiasi terhadap karya pengarang arab, Manfaluthi. Namun, hal itu ditampik oleh H.B. Jassin dengan memuat karya otentik dari Manfalthi. Melalui majalahnya, Lentera, Lekra semakin menjadi-jadi, mereka menyebut bahwa sikap Sastra (majalah pimpinan H.B. Jassin) adalah “kontrarevolusioner”.

Toh, dengan kesalahan-kesalahan yang dibuat oleh Pram ia belajar menjadi manusia. ia membuktikannya sendiri bahwa hak yang berlebihan adalah penindasan. Walau saya memaklumi permintaan maaf Gus Dur akan pemberantasan PKI tidak mampu diterima oleh Pram, paling tidak Gus Dur menunjukkan sisi kemanusiaan. Bahkan putri dari sosok idolanya pun tak sekalipun menyinggung tentang Pram, entah permintaan maaf entah karya-karyanya.

Dari bermacam karya Pram yang telah saya baca, satu set Tetralogi Pulau Buru paling menarik hati. Dengan balutan kisah romantis dalam tiap buku Tetralogi Pulau Buru, Pram berhasil mengisahkan kisah hampir sempurna seperti realita hanya dari balik penjara. Hanya orang pilihan yang mampu menciptakan karya besar walau dalam desakan.

Walau ini merupakan pengangkatan kisah dari seorang jurnalis pribumi R.M. Tirtoadisuryo, Pram sukses membuatnya menjadi satu karya utuh penuh pesan, tanpa kesan membosankan. Di dalamnya, Pram juga mengisahkan mengenai Nyai Ontosoroh, seorang wanita yang dijadikan gundik oleh ayahnya, namun dengan idealismenya ia berubah menjadi wanita yang mampu berdiri sendiri tanpa suami, mengasuh anak sampai memegang perusahaan besar.

Hari ini, tangis yang 90 tahun lalu menjadi kecaman bagi penguasa. Semestinya, kini menjadi pelajaran bagi rezim sekarang bahwa “Seorang terpelajar harus adil sudah sejak dalam pikiran, apalagi dalam perbuatan.”

Tabik!

11 thoughts on “Sepotong Memoar Tentang Pram

  1. Belom semua karyanya Pram gw baca sih memang, tapi setiap yang gw baca kuat banget isinya. Setuju Tetralogi Pulau Buru emang paling keren. Menurut gw juga gitu.

anotasi

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s