Sebagaimana Manusia

Setiap kali saya melihat aksi yang dilakukan oleh organisasi agamis, setiap itu juga umpatan-umpatan muncul dalam kepala saya. Adalah percuma menyuarakan menjunjung tinggi moralitas tapi disuarakan dengan sebilah parang, lantas melakukan diskriminasi terhadap kaum minoritas. Hal itu membuat saya berpikir bahwa orang yang ada di dalamnya termasuk ke dalam orang kaku. Orang yang menginginkan penduduk dunia menjadi satu warna. lalu, apakah mereka dalam satu kotak yang membatu?

Ada seorang teman, saya baru kenal beberapa waktu lalu dalam satu kegiatan. Perawakannya kurus, rambutnya keriting, warna kulitnya menandakan ia sering berada di bawah terik, asal daerah Belitung, sebut saja Miftah. Awalnya, saya menduga ia adalah generasi jihadis yang rela pergi ke Palestina atau Libanon untuk perang. Kupiahnya tebal meninggi, mirip topi pesulap yang berisi kelinci atau merpati. Acapkali, ia mendahului imam masjid datang ke mushola.

Di bawah malam, selepas isya, kami diam-diam. Dengan tiba-tiba, ia berbicara mengenai rasi bintang. Saya terkejut, orang yang saya nilai sebagai islam fundamentalis paham mengenai rasi bintang. ia menunjukkan saya rasi bintang kalajengking. “ah, masa?” rasa terkejut saya berubah menjadi rasa heran sekaligus tidak percaya. Obrolan itu menggiring saya seolah menjadi mahasiswa yang mengikuti seminar astronomi.

Ia mengaku bermitra dengan organisasi islam kampus, selayak HTI, KAMMI, HMI. Kembali, kini saya seperti menjadi mahasiswa yang sedang seminar Organisasi Islam. Ia sempat menyinggung tentang kekerasan yang dilakukan terhadap kaum minoritas, juga proses islamisasi yang menurutnya tidak masuk akal. “kalau mereka melakukan islamisasi dengan cara itu, pada murtad semua yang ada” timpanya sambil menghisap kretek

Percakapan itu membawa saya benar-benar hanyut dalam tiap kalimat yang ia berikan. Ia  menjelaskan panjang lebar mengenai rasi bintang, kondisi bawah laut, sekali-kali menyinggung persoalan pesawat jatuh. Dengan cincin ali dan celana gombrong dan kaos bertuliskan “sami’na wa’atona”, saya merasa mimpi. Ini hal sederhana sebenarnya, tentang pikiran saya yang membatu karena stigma.

Terlalu hati-hatinya saya kerap mendatangkan prasangka pada orang yang baru saya kenal, padahal jelas diterangkan dalam Al Hujurat 49:12 “Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan purba-sangka (kecurigaan), karena sebagian dari purba-sangka itu dosa. Dan janganlah mencari-cari keburukan orang dan janganlah menggunjingkan satu sama lain…….” Saya juga lalai akan pesan yang diriwayatkan oleh Malik dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah pernah bersabda “Jauhilah prasangka karena prasangka itu adalah cerita yang paling dusta, dan janganlah kamu saling memaki, saling mencari kesalahan, saling membanggakan, saling beriri,saling membenci, dan jadilah kamu hamba – hamba Allah yang bersaudara”.

Saya lupa bahwa tiap manusia, apapun profesinya, apapun kelakukannya, ia tetaplah manusia. mungkin saja Felix Siauw, orang kehumasan HTI, dulunya senang merakit gundam, mengilik dynamo Tamiya. Atau Abu Bakar Ba’syir seorang pencinta music grunge, shoegaze, atau ia sosok yang mendendangkan Oplosan atau Kereta Malam.

Ada kealpaan dalam diri saya menganggap mereka yang berada dalam satu organisasi (yang menurut saya) fundamentalis agama atau ideologi adalah sekumpulan orang yang kaku. Padahal, pada dasarnya mereka punya masa lalu, masa kanak-kanak, masa pencarian jati diri yang membuat mereka seperti manusia biasa.

Sebagaimana Miftah dalam HMI, sempat ia melakukan penyetopan truk tangki BBM saat melakukan aksi kenaikan BBM. Sedangkan, saat itu justru saya paling sering mencibir orang yang melakukan aksi dengan penyetopan truk tangki. Saya mempertanyakan hal-hal yang diluar nalar ketika aksi menuntut penurunan harga BBM dengan menyetop truk tangki. Hal ini sama saja seperti seorang yang ingin studi ke Amerika, namun naik pesawat ke Gabon.

Tetapi, dari Miftah saya belajar. Bahwa sekelompok orang yang berada dalam satu organisasi keras bukan sekumpulan idiolog yang dogmatis. ia juga makan nasi, bergunjing, berkelakar, dan modol. Melalui kebersamaan, Miftah menegaskan pada saya bahwa sebagai manusia biasa kita dilingkupi dengan hasrat, keinginan, dan harapan untuk dihargai oleh orang lain.

 Tabik!

4 thoughts on “Sebagaimana Manusia

anotasi

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s