Cerita Untuk Presiden

Selamat petang Pak Jokowi, semoga keadaan bapak sedang sehat agar satu dari banyak program kerja bapak tidak terganggu jikalau bapak sakit. Memang, Pak, cuaca sekarang tidak bisa diprediksi. Kalau menurut kalender musim, sekarang sedang musim penghujan yang inshaAllah berhenti pada bulan April. Tapi, hujan jarang saya rasakan ketika KKN kemarin, Pak. Di Desa Mandalawangi, Salopa, Tasikmalaya. Jemuran saya kering dalam waktu singkat. Selain jarang hujan, saya juga jarang nonton tv. Sekalinya ada kesempatan, saya dihadapkan oleh berita yang cukup mengagetkan. Di antaranya, Calon Kapolri yang diduga punya rekening gendut, kriminalisasi KPK, dan terakhir banjir Jakarta.

 ni kali kedua saya menulis surat untuk bapak. Surat pertama saya berisi kepercayaan saya pada bapak menjadi pemimpin negeri ini. Pada surat ini saya hanya ingin bercerita, Pak. Sedikit saja, hanya curahan hati seorang warga negara.

Sejak dilanda hujan satu hari suntuk yang menyebabkan Jakarta kembali menjadi kolam, saya bertanya pada ibu saya, “Bu, kehujanan dan kebanjiran, ndak?” lantas ibu saya jawab “ibu kalau berangkat kehujanan terus, di Jakarta juga lebih macet karena banjir” ibu saya seorang PNS, beliau bekerja untuk bapak, negara, dan saya. dengan polos saya balas “loh, ndak libur, Bu?” / “he.. enak banget.. kabinet jokowi kan kerja, kerja, kerja.” betul bukan, pak, ibu saya kerja untuk negara ini. Juga, semangat kerja beliau meningkat semenjak bapak jadi presiden karena motto bapak, kerja, kerja, dan kerja.

Banjir Jakarta mengingatkan saya saat bapak menjabat sebagai Gubernur Jakarta. ketika itu bapak naik gerobak melihat kondisi Bundaran HI yang berubah menjadi empang, lantas masuk gorong-gorong mengenakan batik, sampai pesawat Hercules menaburkan garam sebanyak 60 ton untuk modifikasi cuaca. Adalah wajar jika usaha bapak begitu serius dalam mengentasi masalah banjir karena bencana buatan manusia mudah sekali memamah biak ketika musim penghujan.

Ketika saya menulis surat ini, Jakarta kembali menghadapi banjir. Memang tidak separah tahun lalu, tapi yang namanya banjir tetap banjir, pun bencana baiknya bukan untuk dibanding-bandingkan apalagi untuk skala ukur keberhasilan suatu pemimpinnya. Selayaknya, segera diberi solusinya. Kembali lagi saya ingat janji bapak saat dicalonkan menjadi Presiden. Ketika bapak menjawab pertanyaan tentang alasan dibalik bapak dicalonkan menjadi Presiden kenapa tidak fokus dulu mengurus Jakarta. kurang lebih bapak menjawab, akan lebih mudah mengurus Jakarta ketika menjadi Presiden.

Belum sempat saya melihat bapak membantu Jakarta dalam banjir, ndilalah harus mengurusi kekisruhan politik. Mengutip ungkapan pak SBY, saya turut prihatin, bapak. Agak sulit memang ketika kita ingin membereskan satu masalah tapi muncul tuntutan-tuntutan dari orang terdekat kita. Saya bisa merasakan itu, Pak. Saat SMP, saya diberi kepercayaan oleh teman-teman saya untuk jadi ketua kelas. Kali pertama saya menjadi ketua kelas ketika saya kelas 1 SMP, entah karena tidak ada calon entah percaya sama saya, kepemimpinan saya berlanjut sampai kelas 2 SMP, Pak. Padahal, Pak, saat saya memimpin ada yang senang, ada yang tidak. kalau yang senang, mereka mendukung tiap tindak tanduk saya, kalau yang tidak senang mereka hanya mencibir tapi tidak mau ketika ditawarkan menjadi Ketua Kelas.

Saya paling ingat, ketika diminta guru saya memilih satu orang untuk memimpin menjadi Ketua Kelompok Pramuka kelas. Kekikukan terberat saya saat SMP, saya pikir menjadi ketua kelas hanya dimintai tolong untuk merapikan barisan, memimpin doa, dan memberi salam. Ada tiga calon saat itu, calon pertama saya kenal dekat, calon kedua saya kurang mengenali tapi disarankan oleh teman-teman saya, calon ketiga adalah tunjukkan dari Pembina pramuka.

Calon pertama ini, Pak, teman main saya, selepas ashar kami selalu main galasin atau bentengan sampai bedug maghrib. Calon pertama ini adalah orang kedua yang sering saya temui setelah keluarga saya. rambutnya sedikit ikal, kulitnya putih langsat, ganteng, namun perangainya kurang baik. Ia mudah marah dan tukang palak. Calon kedua, saya kurang mengenalinya. Bukan saya benci, bukan pula saya tidak suka, orangnya agak pendiam, tapi jujur, pintar, dan berkawan baik dengan teman-teman di kelas. Kalau ada soal mendikte, ia sudah menjawab sesaat sebelum guru saya menyelesaikan pertanyaannya. Calon ketiga, orang dekat Pembina Pramuka sekolah saya, Pak. Memang dia aktif sejak kelas SD di ekstrakulikuler Pramuka. Sudah seperti kakak adik, dia dengan Pembina. Tapi, menurut pengakuan teman-teman saya, dia ini egois, suka mementingkan diri sendiri.

Jujur, Pak, keadaan seperti itu tidak pernah saya bayangkan sebelumnya. Saya cerita ke ibu saya mengenai hal ini, singkat kata, ibu saya menjawab “seyogyanya, seorang pemimpin itu akan dipertaruhkan kepemimpinannya saat membuat keputusan. Seumpama keputusannya tepat, ia akan dihargai dan disegani oleh orang banyak. namun, jika salah kepercayaan pada dirinya dengan sendirinya akan turun”. Ibu juga mengingatkan akan kesiapan menerima tekanan dari tiap keputusan yang dibuat.

Dalam kondisi seperti itu, hanya nasihat ibu saya pegang teguh. Saya harus hati-hati dalam memilih, keputusan harus diambil segera. beberapa hari saya melakukan tanya jawab langsung pada satu per satu teman saya. Ya, sekitar 38 anak saya minta pendapatnya. Ini tidak wajib memang, tapi saya memiliki teman, teman saya ada, saya ingin mereka dihargai dalam tiap keputusan yang saya ambil agar keputusan yang saya ambil tidak subjektif dan menguntungkan satu pihak. Terlebih lagi, Ketua Kelompok Pramuka nanti akan memimpin teman-teman saya juga. lantas, dengan bekal pendapat teman-teman dan penilaian sendiri, saya memilih calon nomor dua, Si Pendiam.

Dari keputusan itu, yang paling kaget adalah Pembina Pramuka. Ia mendatangi saya dan mengaku kecewa dengan keputusan saya. Tapi, saya ingat pesan ibu saya bahwa akan selalu ada tekanan ketika keputusan dibuat. Bagaimanapun juga, keputusan yang saya buat minimal sudah menimbang pendapat dari teman-teman saya.

Pak Presiden,

Saya mengerti, kondisi politik yang sedang berlangsung dan bencana banjir yang menimpa beberapa daerah cukup menyulitkan bapak. Ini tantangan untuk bapak membuktikan kepercayaan teman-teman yang telah mendukung bapak.

Terakhir, Pak, Jikalau bapak terlalu sibuk, saya menyarankan luangkan waktu bapak untuk menyepi, menyendiri, membawa pikiran bapak ke suasana yang teduh dan nyaman, mengevaluasi segala hal yang telah bapak lakukan, melihat memori akan janji-janji yang bapak beri, mengingat-ingat masyarakat yang selalu ada di balik punggung bapak.

5 thoughts on “Cerita Untuk Presiden

anotasi

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s