Sekadar Harap

Hidup yang terlampau tengik ini mendesakmu untuk diam atau kadang pertahananmu runtuh, seketika tangis menjadi kekuatanmu untuk bangun dari kepura-puraan. “ia sudah menggubah tangisku dua kali hari ini” keluhmu. Nyatanya, Kenangan melahirkan keresahan, kerapuhan, dan peraasaan  sentimentil yang secara tak sadar meneteskan air matamu. Seolah, tidak ada hal lain selain tangis yang mampu membuatmu tegak.

Matamu mulai redup, lelah dengan harap yang kita sama-sama mafhum, beberapa detik saja kita ingin menjadi sosok paling egois, melupakan diri sendiri, mengabaikan orang lain, meninggalkan masa lalu. Tanpa asa, tanpa harapan. Harapan adalah pengalih perhatian. Kita dipaksa tetap berharap disaat kita terpuruk. Barangkali kau pernah merasakannya. aku pun begitu, menolak untuk diam ketika terpuruk lalu membuat harap-harap baru sebagai pengalih perhatian, seperti dirimu yang terus mencoba bertahan.

“aku ingin bertahan, tapi aku takut seperti hujan yang lama diinginkan namun yang ditunggu hanya senja yang indah”

Kau sudah terlalu sering mengobral hujan dan senja berbarengan. Dua hal yang semestinya indah, kini menjadi barang kodian yang biasa saja, seolah kau bisa mengubah keadaan dengan memperindah kalimat dengan hujan dan senja.

Kau seringkali berdebat mengenai hal-hal kecil, tentang lebih nikmat mana antara Pandai Besi dan Efek Rumah Kaca. Dengan lirik satiris untuk pemerintahan, kau bilang ERK lebih pas membawakannya, tegas, dan lugas. Sedangkan ia meyakini bahwa Pandai Besi ingin memberi bentuk lain agar tak bosan dengan nada yang mengalun karena ERK tak kunjung mengeluarkan album.

Aku diam menatap matanya yang lelah. Barangkali gundah membuatmu percaya bahwa getir lekat dengan kehidupan. Kau selalu gigih, berupaya untuk selalu kuat, namun bukan untuk dirimu, demi orang lain yang kau sangka mencintaimu. Mata yang bisa membelalak ketika ketidakadilan terjadi, tunduk seketika. seolah kau baru menyadari bahwa yang menggetarkan bukanlah kekalahan perang, melainkan menyerahkan kepercayaan kepada orang yang kau sayang. Ia bisa saja menjadi pelindung yang berdiri di garda depan atau menjadi parang yang menghunusmu penuh kebencian.

Perasaanku dipenuhi dengan keresahan, lelah dengan amarah, dan berjejal dengki. Aku mencintaimu dengan ketulusan, kau menginginkannya dengan penuh harapan. Bagai perigi kering di musim kemarau, aku terasing dalam keheningan. Kecemburuan yang seharusnya tidak ada. Hasrat durjana yang terlalu menggebu-gebu. Padahal berulang kali aku mengingatkan diriku bahwa tiap manusia memiliki kehendak, kebebasan membuat pilihan berdasarkan pilihannya sendiri. Aku mencoba membiarkan keadaan ini baik pikiran atau perasaan muncul ke permukaan. Tetap saja, dada ini sesak dengan kecemburuan.

Aku akan membuatmu percaya, membuatmu nyaman bercerita tentang kegelisahan, amarah, dan masa silam. Aku akan diam mendengar, lalu pada saat kau lelah, hal-hal tadi akan jadi lelucon sepanjang zaman yang akan membuatmu lupa lantas kita tertawakan. Dengan begitu, beban yang kau pikul akan sedikit lebih ringan

Aku menginginkanmu, saat ini, esok, dan seterusnya. Mengajakmu jalan-jalan sore sepanjang jalan Cikini, bergandengan tangan, mencicipi roti Tan Ek Tjoan, mencari buku tua di Taman Ismail Marzuki, atau aku akan mengajakmu vakansi ke Sabang, mendirikan tenda di tepi pantai, menikmati hamparan bintang dan indahnya rembulan lantas mengecup keningmu dan berkata “semua akan baik-baik saja”.

8 thoughts on “Sekadar Harap

anotasi

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s