Surat Terbuka Pedagang Pecel Lele

Selamat petang tuan dan nona. Begini, sebelumnya saya mohon izin menuliskan surat untuk tuan dan nona. Ini surat hanya buah pikir saya selama beberapa hari. Biasanya pikiran-pikiran ini muncul pas saya lagi siap-siap buka warung. Biasa tuan dan nona, pedagang pecel lele seperti saya sudah sibuk setelah ashar. Rasanya ada yang ngganjel aja tuan dan nona, tiap saya mau buka warung. Gimana ndak ngganjel, wong saya tiba-tiba dikasitau mau digusur, tuan dan nona. Medeni temen.

Beberapa waktu lalu, ada mas-mas pakai baju dinas datang ke Pasar Santa, bilang kalo tempat kami akan dijadikan lahan parkir, kalau kita menolak nanti digusur. Saya tanya untuk apa kita digusur? Masnya jawab buat jadi lahan parkir. Ladalah, begini amat ya, tuan dan nona, puluhan tahun saya di sini, ujug-ujug digusur untuk diganti lahan parkir. Saya ndak ngerti lagi, tuan dan nona.

Saya, Sarimah, pedagang pecel lele depan pasar ini. Dua puluh tahun saya jualan di sini, banyak banget ceritanya. Dari kondisi Pasar Santa, jelek, kotor, sampai bagus kayak sekarang saya alami bareng-bareng. Sampai ada Mas Parjo, penjual nasi goreng yang kini di samping saya jualannya. Saya senang banget liat Pasar Santa ini dibenerin jadi bagus lagi terus banyak muda-muda yang mau ke pasar. Saya ngerasa mimpi lho, tuan dan nona.

Sekitar tahun 95 saya di ajak ke sini sama bapak saya. katanya biar saya tahu kalau nyari duit itu susah. Lha gimana ya tuan dan nona, saya ini bandelnya ra jamak. Main, sekolah, sama ngabisin duit bapak. Ibu saya kesel banget, sebelum almarhum ibu saya berpesan “wong urip iku mung mampir ngombe, kamu bener-bener dalani uripmu”. Dari situ saya mulai mikir tuan dan nona kalau saya harus kerja keras, ndak ngabisin dhuwit bapake tok.

 Yah, begitulah tuan dan nona kenapa saya ke Jakarta. aku arep dadi orang.  Alhamdulillah dengan warung pecel lele ini saya bisa nguripke tiga anak saya. makanya saya betah dua puluh tahun berjualan pecel lele di sini, di tempat yang sama. ndilalah, tuan dan nona, kebahagiaan saya bertambah, pas tau Pasar Santa mau dibaguskan. Jangankan tuan dan nona, saya saja geli liatnya pasar ini begitu kotor, kumuh, dan becek. Kan kalau dirapikan seperti ini, enak diliatnya dan pembeli saya kan jadi bertambah.

Tuan dan nona yang berbahagia, saya dan Mas Parjo, bukan orang berpendidikan. Kalau kami digusur, kami ndak bisa nyari pekerjaan di perusahaan lain, apalagi jadi PNS. Paling-paling jadi buruh kasar, itu pun kalau kami mau dan siap dipandang sebelah mata sama orang lain. Lha gimana ndak coba mas, kami pedagang dan buruh sama-sama dianggap biang kemacetan lho, tuan dan nona.

Kalau digusur, kami mau di mana lagi tempatnya tuan dan nona? sekalinya ketauan sembarangan, bisa-bisa gerobak saya jadi kayu bakar besok pagi. Anak-anak mau saya kasih makan apa? Anak-anak saya juga ingin merasakan pizza, tuan dan nona.

Konon, alasan kami digusur adalah persoalan kemacetan. lha jelas saja, penjual dan pelanggan lantai atas semuanya bawa mobil, seorang satu, jalan kaki pun akan macet tuan dan nona. Wis itu, njjagonge suwe temen, lha kepriwe jan. nek koyo ngene. Mungkin tuan dan nona akan bilang, dulu disuruh pindah ke dalem gak mau. Sewanya mahal mas. pedagang pecel lele kayak saya jualan di dalem opo dadine, tuan dan nona. Oh ya, tuan dan nona, kalau alasannya bikin macet, kenapa cuma pasar ini saja yang pedagang lamanya digusur? Nek, saya mudik, saya selalu kena macet di daerah pasar. Pasar kebumen, pasar karang anyar, pasar beringharjo, tapi mereka ndak digusuri, tuan dan nona.

Tetangga saya, Mang Ade, mantan penjual alat tulis di stasiun depok, bilang sama saya “Mah, ini teh namanya kapitalisme, dengan bilang “memperbaiki” wajah pasar, sewa naik, ujug-ujug kita digusur”. Mbak Panikem juga bilang “katanya mau direlokasi, tapi gedung tempat kita mau jualan aja belum dibuat-buat”. Mbak Ikem mengumpat ke saya “maklum, Mah, namanya juga kelas menengah (nyuwun ngapuro) ngehek”. Saya ngguyu wae. Begitu ceritane temen saya di Depok, tuan dan nona. Saya ndak mau bernasib seperti mereka, sekarang bingung harus gimana. Malah kabarnya, hasil penggusuran lapak di sana mau dibangun Kaepci dan sebagainya. Bedane, di sana kaepci di sini akan jadi lahan parkir ya tuan dan nona?

medeni temen, arep nggoleke dhuwit malah digusur

Saya, Mas Parjo, dan pedagang-pedagang lainnya cuma ingin perjuangkan hak kami sebagai pedagang yang lama di sini. kan enak dilihat kalau keadaan seperti sebelumnya terjaga, kami juga mengerti pemuda pemudi seneng ke lantai atas karena makanane enak-enak. Tapi, bukan berarti kami harus digusur kan tuan dan nona? Kami juga punya pelanggan tetap tuan dan nona, Mas Nanang supir taxi, Mbak Dina pegawai bank, dan lain-lain. ya mbok dihargai tuan dan nona, saya, Mas Parjo dan pedagang lainnya kan juga manusia, tuan dan nona, sama-sama ingin hidup, kepingin makan enak, kepingin ngombe kopi ireng sing larang kuwi, juga kepingin nyobain kue cubit yang ijo itu lho tuan dan nona.

wis gitu wae, tuan dan nona. nyuwun ngapuro tuan dan nona saya sudah menghabiskan waktu buat tuan dan nona. Sukur-sukur suara saya didengar dan ditanggepi. Oya, sekali-kali mampir ke warung saya tuan dan nona, nanti saya buat lele dan kol goreng yang bikin tuan dan nona ke sini lagi. Matur suwun, tuan dan nona.

 Salam,

Sarimah

 

 

Advertisements

7 thoughts on “Surat Terbuka Pedagang Pecel Lele

  1. Wah, kol goreng! Saya tumben dengar ada kol goreng. Besok ke sana, ah… eh tapi sudah jadi tempat parkir ya, terus saya mau cari ke mana? 😦
    Lagi-lagi mesti ngalah sama mobil. Nasib…

  2. Saya denger kabar penggusuran ini di berita yang lalu lalang di twitter. Sedih ya, tapi semoga ada solusinya, seperti dibuatkannya lapak khusus untuk pedagang ‘yang katanya bikin macet’ itu.

  3. Turut bersimpati….
    Pedagang dan pemotor tampaknya hampir selalu mjd kambing hitam “biang kerok” kemacetan…
    Hmmmm……..

leave your thought

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s