Gumam

Indonesia gagal membumikan nilai-nilai Pancasila. Indonesia gagal menerapkan konsep saling menghargai, mengerti, memahami suatu perbedaan. Perbedaan bukan dianggap sebagai corak warna yang membuat sesuatu menjadi indah. Perbedaan seringkali dianggap sebagai sebuah ancaman.

Kemarin, suatu majelis secara terang-terangan membuat spanduk berisikan penolakan terhadap paham syiah. Yang nyatanya, itu dibuat oleh satu majelis besar dengan ustadz yang telah menempuh pendidikan islam puluhan tahun, formal maupun nonformal. Tapi ternyata seberapa lama kita mengais pendidikan tidak menentukan tingkat simpati dan empati terhadap orang lain. agaknya, lebih mudah menebarkan kebencian daripada memberikan pengertian. Bhinneka Tunggal Ika tidak lain hanyalah hiasan di bawah kaki burung garuda. Bak peribahasa “tidak akan ada asap kalau tidak ada api”, pemasangan spanduk itu berujung pada sebuah serangan

Tiba-tiba saya ingat mengenai cerita perebutan Cupu Manik, benda itu diperebutkan oleh kakak beradik.

Cupu manik yang diperebutkan oleh kakak beradik itu jatuh kedalam kolam. keduanya menyelam kedalam air, Sugriwa muncul,  Subali kaget melihat adiknya berupa kera,  dia menuduh adiknya menjadi kera, Sugriwapun kaget, melihat kakaknya berupa kera, dia menuduh kakaknya menjadi kera. Keduanya bercermin di air, keduanya sadar bahwa mereka berdua sama-sama seekor kera.

Demikianlah dalam alam kepercayaan, yang satu menuduh yang lain sesat, yang terdahulu dikatakan bodoh/sesat, yang sekarang benar. Kalau saja mereka mau melihat wajahnya  di air, mereka akan sadar bahwa merekapun  termasuk orang bodoh.

Indonesia saya rasa tidak pernah kehabisan akal untuk membuat sesuatu yang sederhana menjadi sangat rumit. Kerap kali hal-hal yang mudah dipikir dengan akal sehat diabaikan begitu saja. Indonesia seringkali lupa bahwa ada dialog untuk mendekatkan, ada kehati-hatian dalam tiap lisan.

Hari ini, di Sidoarjo, beberapa ormas islam menuntut pembongkaran Monumen Jayandaru karena dianggap berhala. Monumen Jayandaru terlihat seperti manusia sempurna yang diyakini menyaingi makhluk ciptaan Tuhan. Karena itu, mereka menuntut pembongkaran. Saya merasa akal sehat bagai cuti besar tanpa pesangon.

Pada pembebasan Mekah, Nabi Muhammad memasuki Ka’bah. Beliau melihat Ka’bah dilukis dengan gambar malaikat dan nabi. Kemudian, Beliau melihat gambar Nabi Ibrahim memegang azlam. Lantas, dihancurkanlah gambar dan patung yang ada di Ka’bah karena menjadi barang sembahan bagi kaum kafir quraisy.

Ketika sahabat-sahabat Nabi menduduki Mesir, mereka menemui patung-patung peninggalan firaun. Mereka tidak menghancurkannya karena tidak dipuja maupun dikultuskan. Sampai sekarang, patung-patung tersebut masih berdiri dan dipelihara untuk menjadi pejaran dan renungan.

Saya percaya, tiap keyakinan mengajak umatnya untuk mencintai sesama tanpa pandang bulu. Agaknya, ekslusivitas agama hanya menimbulkan egoisme semata. Membuat dirinya merasa benar sendiri dan dapat semena-mena terhadap yang lain.

Indonesia harus kembali menentukan identitasnya. Segera mewujudkan kembali Indonesia yang damai, ramah, santun, dan mampu menghargai sesama umat manusia. langkah-langkah kecil dapat kita lakukan, seperti menggunakan nalar dengan maksimal, sering melakukan interaksi dengan orang lain tanpa pretensi merasa benar sendiri.

Adakalanya, kita sebagai manusia, sejenak menyepi, meresapi tiap bait-bait sajak dan menerapkannya pada keseharian. Ada satu sajak Chairil Anwar yang saya rasa mewakili keadaan sekarang.

Di Masjid

Kuseru saja Dia
Sehingga datang juga

Kami pun bermuka-muka.


Seterusnya Ia Bernyala-nyala dalam dada.

Segala daya memadamkanya
 
Bersimpah peluh diri yang tak bisa diperkuda

Ini ruang

Gelanggang kami berperang.

Binasa-membinasa
Satu menista lain gila

Advertisements

9 thoughts on “Gumam

  1. Binasa-membinasa.
    Satu menista lain gila.

    Chairil Anwar memang maestro! Suka puisinya.
    Mungkin telaga tempat kita semestinya bercermin sedang keruh dan beriak, Bro, makanya kita jadi tidak jelas lihat tampilan muka ini. Mudah-mudahan pemimpin bangsa bisa tetap tenang dan teduh supaya telaga itu jernih dan tenang yang akibatnya bisa jelas menunjukkan siapa yang sedang bercermin ya Bro :hehe.

  2. mungkin bersangkutan dgn itu..
    dari peristiwa yg terjadi skrg, dgn berpikir pendek, gue menyimpulkan: yang beragama belum tentu beradab, yang beradab belum tentu beragama.

  3. yang paling terasa ya sila ke empat, tentang keadilan. yang mana tidak terwujudkan.
    contoh nyatanya, pulau kalimantan penghasil (bahkan lumbung) energi nasional, tapi di sana, listrik saja mati segan hidup pun tak mau. sedangkan batubaranya (yg digunakan pltu) kita semua tahu yang mana yang paling menikmati.

  4. Tapi ternyata seberapa lama kita mengais pendidikan tidak menentukan tingkat simpati dan empati terhadap orang lain. agaknya, lebih mudah menebarkan kebencian daripada memberikan pengertian.

    judment yang menyebarkan kebencain juga,
    seperti penganut paham prularis, yang sok toleran dengan dengan yang di luar dirinya dan membenci setengah mati dengan jiwa dan raganya sendiri, atau memang jangan-jangan hanya pinjem raga saja…. logika yang aneh…

    1. Terima kasih, mas, komentarnya. Saya bukan penganut paham pluralis dll. Blog ini berisikan buah pikir saya, tidak bermaksud menebar kebencian atau lainnya. Kl ada yg tidak berkenaan, tujuan dr blog ini jg saya sudah tuliskan. “Expressing life through the words” syukur2 bisa menambah kemampuan menulis saya.

leave your thought

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s