Surat Untuk Tuhan

Belakangan, aku sering membuatkan surat untuk orang-orang, untuk Ibu, Ayah, Pak Jokowi, sampai kekasih. Aku, ibu, dan ayahku seringkali bertemu tapi bukan tidak mungkin jika kutulis surat untuk mereka. Bagi saya, surat adalah bentuk cinta kasih dan kepedulian. Tak banyak orang menulis surat, surat hanya diperuntukkan untuk orang-orang tertentu saja. Perihal dibaca atau tidak, soal nanti, namun ketika surat telah tertulis harganya tak ternilai ketimbang menulis di whatsapp, line, ataupun snapchat.

Jadi, Kau paham maksudku kan, Tuhan?

Bagaimana kabar-Mu, Tuhan? Sehatkah? Semoga selalu begitu dengan mata yang awas dan tak pernah lelap kuharap Kau menjaga kesehatan-Mu sebaik-baiknya. Jangan sepertiku, memaksakan menikmati malam-Mu alih-alih untuk sejumput kedamaian padahal susah tidur atau mengerjakan tugas. Kukira kita tahu, untuk mendapatkan sesuatu kita harus rela kehilangan sesuatu pula. Pagi-Mu kutanggalkan, kubuka hari dengan matahari yang kian sombong memancarkan sinarnya. dan bahwa diri ini tidaklah lain dari kalelawar yang sedang menjelma menjadi manusia.

Sebelumnya maaf, Tuhan. Untuk ke isi surat ke depan, kata-Mu akan kuubah menjadi katamu. Takut ke depan saya luput untuk menekan capslock atau shift jadi lebih baik jika aku izin padamu. Lebih dari itu, Kurasa banyak hal yang bisa kutunjukkan untuk memuja, menghormati, dan mengagungkan kebesaranmu bukan hanya dengan mengubah mu menjadi Mu. Kukira kau mengerti ini, Tuhan.

Tuhan yang maha adil,

Pernah kau merasakan perihnya sebuah kegagalan? Ia rasanya seperti luka yang dicipratkan Arak Cina. Pedih. Tapi kita tahu, kata orang dulu, luka yang diobati dengan Arak Cina akan cepat sembuh walau kadang sakitnya melebihi luka yang kita dapat. Tapi, Tuhan, berikutnya orang itu akan berpikir dua kali untuk menggunakan Arak Cina.

Seringkali muncul dalam pikiranku, mengapa sebuah kegagalan diciptakan. Beberapa orang yang kutanyai tentang kegagalan, beberapa menjawab sebagai langkah untuk mempersiapkan kesuksesan. Beberapa diam, meratapi kegagalan, dan menyalahkanmu. Sayang sekali, tidak semua orang mengerti maksudmu Tuhan. Termasuk aku, menjadi manusia paling alpa setelah diterpa kegagalan. Bagaimana tidak, Tuhan, usaha kukeraskan, doa selalu kupanjatkan, lalu dijawab dengan ketidakberhasilan. Barangkali aku terlihat seperti manusia perhitungan, kalau kau mau bilang seperti itu boleh, Tuhan. Tidaklah mungkin bagi saya menulis surat jika getirnya kegagalan baru kurasakan sekali.

Kau tidak perlu khawatir Tuhan, kerabatku dengan segala tingkahnya mengingatkan untuk terus berada di jalurmu. Begitupun keluargaku, mereka menuntunku kembali seperti bayi yang belajar jalan.

Tuhan yang maha megah,

Pernah kau merasa bimbang? Apakah kau bimbang memutuskan seseorang yang agamanya baik namun tidak dalam kehidupan bermasyarakatnya? Apakah kau tahu Stephen Hawking? Seorang ilmuwan terkemuka di dunia yang teorinya mengenai lubang hitam, gravitasi kuantum, dan pernyataannya mengenai kau bukan pencipta alam semesta. Apakah kau mengenal ISIS? Orang-orang ahli ibadah yang melakukan gerakan radikal atas nama islam dengan dalil untuk menjalankan syariatnya. Apakah kau bimbang memutuskan mana yang lebih baik?

Tuhan, apakah kau di sana ketika Syiah didiskriminasi? Ketika teman-temanku di Bogor yang ingin beribadah namun dilarang warga? Atau apakah kau melihatnya dari singgasana Arsy-mu? Apakah keyakinan satu golongan yang menganggap paling benar bisa leluasa menindas golongan lain lantas namamu dicatut dalam tiap tindak tanduknya?

Tuhan, banyak orang yang ingin mengenalmu. Bagaimana kau menghidupi hari-harimu, Bagaimana kau menikmati sore, bagaimana kau berkelakar. Apakah salah kami ingin mengenalimu? Supaya kami lebih dekat lagi, lebih dari nadi lebih dari kematian. Kenapa banyak juga manusia yang heran pada kami, mempertanyakan hal seperti ini, lantas sekonyong-konyong meneriaki kami sebagai kafir, sirik, atau agnostik?

Barangkali, dengan menanyakan hal-hal remeh temen dalam surat ini akan mengundang tanya dan heran makhlukmu yang lain lantas berstigma bahwa aku adalah anak yang pembangkang yang tidak tahu apa-apa tentangmu. Tidak apa, Tuhan. Kutahu makhlukmu, manusia, tumbuhan, hewan dan lainnya. Adalah wajar jika ada manusia yang sifatnya seperti tumbuhan, ada pula manusia yang sifatnya seperti….. ah sudahlah. Kau pasti tahu itu, Tuhan. Ini kewajibanku manusia dituntut untuk mengerti tiap perangai manusia lainnya.

Sedang apakah kau Tuhan?

Mengganggukah surat ini? Kuharap tidak. kutulis sebagai manusia yang selalu ingin tahu dengan kealpaan maksimal dan sedang merangkak kembali menuju jalanmu. Segala keburukan lisan dan perangai adalah kelemahanku. Segala kelemahan dan kesalahan padaku adalah bentuk sujudku padamu. Kuharap kau pahami isi surat ini Tuhan. Surat spesial untuk Dzat yang paling spesial di jagat raya.

Sebagai penutup, Tuhan,

Mau kau kapan-kapan ngopi bersamaku, bukan denganku saja, keluarga, kerabat, sahabat, teman, dan seluruh orang-orang yang baik denganku. Bagaimana Tuhan? Kalau kau belum bisa menjawab, kau bisa balas dengan cinta kasihmu pada aku dan mereka yang ada didekatku. Berikan padanya kasih sayangmu yang paling tulus, berikan perlindungan kepada mereka yang senantiasa menyebut namamu, berikan keselamatan kepada mereka yang tak luput bersujud padamu, berikan kedamaian pada semua makhluk ciptaanmu. Agar suatu saat agenda ngopi kita terlaksana.

p.s. akan kubuatkan kopi ternikmat kalau kau menjaga mereka, orang-orang tersayang.

 

Advertisements

3 thoughts on “Surat Untuk Tuhan

  1. Surat yang jujur dan indah. Amin. Semoga semua pengharapanmu terkabul. Tuhan maha melihat, dia pasti sudah membaca surat ini 🙂

  2. surat yang aneh,
    manusia memang diciptakan sok keminter..
    sehingga argumennya hanya mengandalkan akal yang ndak seberapa…
    ndak apa-apa, toh Tuhan ndak butuh manusia
    manusia yang butuh Allah..
    ketika tuntunannya disalahmengerti jangan salahkan Tuhan, salah dirimu sendiri…

    karena toh potensi telah sama-sama diberikan : Akal, nafsu, raga dan kemudian wahyu petunjuk…
    tinggal bagaimana kamu mengoptimalkan akal tapi juga membaca wahyu…

    ndak usah seolah-olah pedui dengan lingkungan sekitar
    ketika diri sendiri masih kebingungan..
    cari dulu peganganmu
    mudah-mudahan kamu mendapat petunjuk

leave your thought

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s