Hilang

Omong-omong, kau tau rasa penolakan? Ia berawal dari sesuatu yang kau dorong namun ia mendorongmu balik sampai kau jatuh tersungkur dan membuat keadaan berbalik. Kita memang sulit untuk kembali, pendirianku terlalu keras untuk menuruti tiap kemauanmu. Kerap kali kau meminta agar kita seperti selayaknya orang lain memadu kasih, di sisi lain aku menolak dengan dalih agar tidak terjebak pada satu tradisi.

Barangkali memang dari awal aku yang salah, mengikatmu pada satu ikatan khusus yang membuat kita lebih dekat. Kau dengan kerja keras dan segudang prestasi, aku dengan doa dan harapan yang belum juga tercapai. Lantas muncul garis tak nampak yang membatasi kita.

Bagimu tak ada kenikmatan dari senja. Kau melihatnya sebagai kejadian alam biasa yang bisa kau nikmati setiap hari. Bagimu tak ada keteduhan dari hujan. Kau menganggapnya sebagai hal yang telah mengganggu jadwal bepergian lantas memaksamu untuk di dalam rumah seharian. Bagimu tak ada keindahan dari pelangi. Kau hanya pandangi sebagai fenomena optik karena pembiasan matahari pada air hujan, selebihnya pelangi tidak betul-betul berperan mewarnai harimu. Tapi di sana kau lupa bahwa ada sejumput kebahagiaan yang seharusnya bisa kita dapat dari fenomena alam.

Lagi-lagi egois lebih dahulu sampai ke otakku, memaksamu pada hal-hal yang tak biasa, seperti menyaksikan senja bodoh keemasaan dinikmati, hujan kepalang deras yang harus kita pandangi lama-lama, dan lengkung pelangi dengan warna-warna tak jelas. Aku mengerti kau ingin lebih dari itu, seperti menonton film terkini atau makan malam bersama nyala lilin. Tapi, hati ini terlalu batu untuk menerima.

Barangkali, hatiku bengkak, merasa lebih benar atas segala sabda yang kulontarkan, memaksamu untuk jadi milikku seorang, mengharapkanmu untuk jadi seperti apa yang ada dalam otakku, melupakan hal penting bahwa kau memiliki hidup. Ada kealpaan padaku bahwa kita, manusia, memiliki kebebasan. Kau bebas memilih make up kesukaanmu, kau bebas memesan bakso berpiring-piring, kau bebas berkawan, lalu kau bebas meninggalkanku hingga aku mengerti arti dari kehilangan.

Apalah arti penyesalan. Ia hanya membuatku senang berandai-andai dan berkata apa yang menjadi seharusnya. Ia pelan-pelan menggiring ke tempat sunyi di ujung belokan, membuatku seperti gelandangan yang orang pikir bisa menghidupi kehidupannya sendiri. Sialnya, orang-orang lebih memperhatikannya ketimbang kita. Namun, akhirnya kita sama-sama mengerti bahwa hubungan bukan perihal komitmen, melainkan komunikasi dan pengertian.

Kehilangan menyabut seluruh isi ragaku, tapi hidup memaksa untuk terus berdiri walau dada ini dihujani ribuan duri. Kukira kau paham ini, seperti kau kehilangan sesuatu yang kau miliki lalu kau gelisah memukul-mukul pundakku dan mencoba meyakinkan bahwa kau terus menjaganya namun ia menghilang begitu saja.

Kepergianmu mengubahku untuk belajar menghargai dan mengerti bahwa kau terlalu berharga daripada apapun. barangkali aku terlalu banyak mencari cara untuk mencintaimu lebih, sampai aku lupa untuk mengatasi kehilangan yang kian pedih.

Advertisements

8 thoughts on “Hilang

  1. Wiiiih, keren keren….
    Oh ya, ada beberapa orang (termasuk gue) yg emang kurang suka sama langit senja, tapi sukak banget sama fajar.
    Eh jadi pengen bikin postingan beginian nih, hihi

  2. yang namanya pemaksaan emang nggak enak.
    dan yang namanya penyesalan datangnya di belakang…. kalau di depan, namanya pendaftaran 😀

    keren!

  3. sayang sekali. padahal perbedaan bisa menjadi pengikat terkuat. seperti arus listrik (-) dan (+). seperti siang dan malam. fajar dan senja.
    tak terpisahkan.

leave your thought

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s