Kealpaan dan Pertanyaan dibalik Perdebatan

Sejumlah peti mati beserta kain putih telah disiapkan di gudang gereja Kristen, Cilacap, Jawa Tengah. “dor” begitu suara ini terpelanting ke udara, Peti-peti itu akan “melangkah” ke arah para terpidana mati bali nine setelah berhadapan dengan regu tembak. Kini para terpidana mati sudah berada di lapas Nusa Kambangan, namun eksekusi mati yang belum ditentukan waktu pastinya ini terus mengundang perdebatan dari dalam maupun luar negeri.

Australia dan Amnesty Internasional terus melakukan berbagai cara untuk menghentikan langkah Indonesia melakukan hukuman mati. Amnesty Internasional mengatakan bahwa hukuman mati merupakan hukuman paling keji, tidak manusiawi, dan merendahkan martabat manusia. jika tetap dilakukan, Indonesia akan melanggar standar HAM Internasional. Begitupun dengan Australia, mereka mengecam menarik kerja sama bilateral jika Indonesia tetap melaksanakan hukuman mati terhadap warganya.

Pandangan lain juga hadir dari masa pro hukuman mati. Dengan dalih menyelamatkan masyarakat Indonesia dari jerat narkoba maka pengedar narkoba legal dihukum mati. Begitupun Presiden Joko Widodo, ia membawa isu nasionalisme dan publik mendukung keputusannya.

Di antara semua perdebatan yang berlangsung mengenai hukuman mati, ada beberapa hal yang harus diperhatikan dan dipertanyakan. Jika hukuman mati benar-benar membuat efek jera terhadap pengguna narkoba, semestinya kejahatan berupa narkoba sejatinya akan berkurang. Kemudian, jika hukuman mati diganti dengan hukuman seumur hidup, pastikan persebaran narkoba yang dilakukannya terhenti saat itu juga. Nyatanya, tidak ada data yang menunjukkan bahwa hukuman mati benar-benar memberikan efek jera. Menurut data dari United Nation, angka pembunuhan antara 1988 dan 2002 menemukan hukuman mati tidak mengurangi angka kejahatan sebaik hukuman seumur hidup.

Ada sekitar 200-an warga negara indonesia yang terancam hukuman mati di luar negeri. Jika Indonesia tetap melaksanakan hukuman mati bagi tersangka narkoba ini maka akan berdampak pada berkurangnya daya tawar saat berupaya menyelamatkan warga negara Indonesia yang menghadapi persoalan hukuman mati di negara lain. Mereka mungkin akan berpikir negara kita saja kekeuh melakukan hukuman mati, lantas jangan ganggu kita untuk menegakkan hukum juga.

Namun, di luar hingar bingar pro kontra dari hukuman mati itu sendiri. pertanyaan sudah seberapa serius institusi Indonesia menangani masalah narkoba menjadi hal penting. Kerap para gembong narkoba melakukan atau mengatur transaksi narkoba dari balik jeruji besi. Ini yang mesti diperhatikan lebih dalam ketimbang perdebatan panjang.

Data BNN yang menunjukkan pada 2012 ke 2013 terdapat peningkatan yang cukup signifikan. Di tahun 2012 terdapat 18.977 kasus. Sementara, pada 2013, angkanya meningkat menjadi 21.119 kasus. BNN (Badan Narkotika Nasional) menyebutkan bahwa 60 persen peredaran narkoba dikendalikan dari lembaga permasyarakatan.

Sistem multilevel digunakan para gembong narkoba untuk mengedarkan barang haram ini keluar penjara. Dengan cara memberikan tawaran gratis narkoba pada satu orang jika orang tersebut mampu menjualnya pada sepuluh orang lain. apakah cara seperti ini sudah mendapat penanganan yang lebih dari institusi negara? Juga bagaimana negara menjamin orang-orang yang pernah terlibat dalam narkoba tidak akan terjun kembali ke lubang yang sama. peningkatan pada sektor inilah yang penting

Adalah aneh jika lebih dari 50% peredaran narkoba diatur dari jeruji besi, sementara kita berupaya menguranginya dengan memperketat hukuman. Ini adalah kealpaan, kalau hukum masih dipermainkan, hukuman mati sekalipun tidak akan efektif mengurangi bahkan menghilangkan perederan narkoba di negeri ini.

9 thoughts on “Kealpaan dan Pertanyaan dibalik Perdebatan

  1. Wihi. Mendadak saya teringat dua premis ketika membaca ini. All of a sudden sih, tapi izinkan saya berbagi. Kedua premis itu adalah:
    1. Meletakkan kata “jangan” di depan sesuatu malah akan merangsang seseorang untuk melakukan sesuatu itu.
    2. An old saying, “Fear of the death is worse than the death itself.”
    Saya pikir negara mulai menilik ke premis kedua. Meskipun sampai sekarang sepertinya saya belum ada membaca adanya penelitian yang berkesimpulan bahwa ada korelasi kuat antara hukuman mati dengan penurunan peredaran narkoba.
    Saya rasa, melarang seseorang untuk menggunakan narkoba malah akan membuat orang makin penasaran mencoba. Apalagi kaum muda yang darahnya lagi panas-panasnya. Kecuali, mereka ditakut-takuti akan bahaya narkoba. Yang seram-seram, bila perlu. Sepengetahuan saya, semua orang yang mengaku waras tentunya masih takut mati :hehe. Tapi tentu saja saya masih mungkin salah.
    Nah, contoh menarik dari penggunaan dua premis ini saya pernah baca di sebuah pantai yang berombak deras. Alih-alih memasang spanduk dilarang berenang, petugas pantai di sana menggunakan dua premis itu secara kreatif, dalam spanduk besar yang bertuliskan:
    “Silakan berenang, kami siap mencari mayat Saudara sampai dapat.”

    Masih mau berenang di pantai itu? Saya sih akan berpikir seribu kali :hehe.

    1. jadi, seharusnya “silakan pake narkoba, kami siap menggotong mayat anda”

      para pecandu gak mudah manut dengan perintah kayak gitu. liat rokok, dari larangan verbal sampai visual masih aja ada yang merokok kan?

      1. Menurut saya itu tinggal masalah caranya saja sih, supaya bisa lebih membekas efektif di dalam benak si pecandu :hehe.

        1. kalau mau mengubah seseorang, lihat lingkungannya juga. pemasangan spanduk sebanyak apapun kl lingkungannya gak mendukung sih gak akan berubah. theoritically begitu

          1. Yep, setuju :)).
            Pemasangan spanduk bisa jadi salah satu cara untuk mengubah lingkungan juga kan. Paling tidak bisa mengubah beberapa orang dari yang agak apatis menjadi sedikit lebih peduli. Menurut saya sih demikian :hehe :peace.

anotasi

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s