Percakapan Singkat

Pagi-pagi, Usman kaget. Ia merasakan tubuhnya kosong. Kehampaan membangunkannya dari tidur lelap setelah sepanjang siang menangis. Sinar matahari mengintip dari bilik rumahnya, terdengar sisa-sisa tetesan hujan dari pohon bekas hujan semalam mengetuk-ngetuk atapnya. Sedangkan, bapaknya sudah mulai bekerja seperti sedia kala, pergi ke hutan untuk mengambil beberapa bilah kayu, setengahnya dijual sisanya dibawa pulang ke rumah untuk keperluan memasak.

Bangun pagi tanpa bapak sudah biasa dihadapi Usman. Tapi, bangun dari tidur tanpa ibu membuat isi rumah menjadi hampa. Tv seperti tidak mengeluarkan suara, burung-burung lewat tanpa permisi dengan cicitannya, hingga katak sawah diam merasakan duka. Hampir seminggu setelah kepergian ibunya, Usman lebih sering diam. Ia masih tak menyangka ibunya pergi secepat itu.

Beberapa jam lagi seharusnya Usman berangkat sekolah, namun ia masih menyisakan waktu izinnya satu hari.  Ia teringat pesan bapak sebelum tidur semalam, Sebelum tidur semalam, Usman sempat bertanya pada bapak. “setelah ini, ibu pergi ke mana, pak?” tanyanya polos. Senyum bapak menyambut pertanyaan Usman. Sambil menyiapkan peralatan ke hutannya esok pagi, ia pelan-pelan menjawab “ke langgar lah. Ia akan menjawab”. Usman diam, ia merasa tak puas dengan jawaban bapak. Ia yang dimaksud bapak tidak tertangkap oleh Usman.

Karena jawaban bapaknya, Ia putuskan menghabiskan satu hari sisanya di langgar. Langgar sederhana dengan atap dari kayu yang sudah sebagian lapuk. Kubahnya belum sempat diganti baru, bintang yang seharusnya menempel dengan bulan malah menggelayut ke bawah. Bau tak sedap juga muncul dari toilet. Rumput-rumput liar menjadi pagar alami langgar ini. Seolah langgar ini hanya dipakai saja tanpa perawatan.

Di dalamnya, tembok bercat setengah putih setengah hijau. Dengan cat yang sudah mengelupas, corak kaligrafi menghiasi sepanjang dinding, rembesan air hujan terlihat membekas di sudut ruangan. Sarung-sarung bergeletakan, baunya menyeruak ke seluruh ruangan. Usman masuk keheranan.

Ia duduk, terdiam, dan bingung. Selama kurang lebih tiga jam ia habiskan memandang kaligrafi yang belum bisa ia baca. Dalam hatinya, ia pertanyakan kembali jawaban ayahnya semalam. Jawaban dari pertanyaannya tak kunjung ia dapatkan. Kemudian, azan berkumandang, orang-orang berdatangan segera melakukan sembahyang. Usman tetap diam di tempatnya dan memandang heran orang-orang disekelilingnya.

Ia terus memandangi orang yang selesai sembahyang, mulutnya komat-kamit dan tangannya terangkat. Orang itu berulang kali menyebut Tuhan. Usman coba mengikuti diam-diam, lalu mulai menanyakan pertanyaan-pertanyaannya.

“Tuhan, apakah kau yang ambil ibuku?”

“iya..” jawab-Nya

Usman kaget, hampir ia berteriak. Suara yang entah muncul dari mana menjawab pertanyaannya.

“mengapa kau ambil ibuku?”

“setiap manusia di bumi adalah titipan, setelah itu akan kembali kepada-Ku”

“kalau semuanya titipan, bolehkah aku pinjam?”

“titipan adalah pinjaman, sekarang waktunya ia kembali kepada-Ku”

“apakah aku boleh pinjam lebih lama, Tuhan? kenapa Kau titipkan padaku sebentar? Kau tak percaya padaku aku bisa menjaga ibu?” air matanya mulai menetes.

Suara-suara yang menjawab pertanyaannya hilang seketika. Ia pulang ke rumah dengan tertunduk seperti serdadu kalah perang. Sampai di rumah, ia ceritakan pengalamannya ke bapak. Bapak tersenyum dan mengelus rambut Usman. Namun, Usman selalu merasa tak cukup dengan respon bapaknya.

Esok pagi, Usman mulai sekolah. Di hari pertamanya sekolah setelah izinnya, ia lebih banyak di langgar ketimbang di kelas. Hari itu, ia gamang dan dipenuhi pertanyaan yang menggumpal dalam kepala. Ia terus mencari-cari suara yang menjawab pertanyaannya. Suara-suara yang kemarin menjawab kebingungannya tak kunjung muncul.

Pulang sekolah, ia temui bapaknya di hutan dan bertanya “pak, bagaimana agar aku bisa bertemu Tuhan? Ada beberapa hal yang aku ingin tanyakan” gergaji mesin mengalahkan suara Usman. Pertanyaanya tidak terdengar. Usman merasa kecewa karena beberapa hari tidak merasa puas oleh tanggapan bapak.

Ia menepi di batang pohon samping pohon yang ditebang bapaknya. Sambil mengingat gerak orang berdoa di langgar, ia mengangkat tangan dan mengkomat-kamitkan mulutnya. Pertanyaan yang sama ia lontarkan, jawaban tak kunjung muncul. Pertanyaan kedua dan ketiga ia bunyikan, suara yang diharapkan tak kunjung muncul. Ia lantas berteriak, “TEMUI AKU DENGANMU, TUHAN”. sebatang pohon yang ditebang bapaknya mengarah ke arahnya, menyentuh tepat di ubun-ubun kepalanya. Darah mulai mengalir dari kepala dan hidungnya, bapaknya panik. Segera bapaknya menggendong anaknya berlari menuju Puskesmas.

Dalam perjalanannya, anaknya bertanya. “mau dibawa ke mana aku, pak?”  tak sempat bapaknya menjawab pertanyaannya, ia balik bertanya “nak, nak, kau sadar nak?” Usman tersenyum. “kau sedang kularikan ke Puskesmas, nak”. Sampai di pintu puskesmas, anaknya menjawab “tidak usah, pak. Tuhan yang aku cari, sudah kutemui”

Advertisements

7 thoughts on “Percakapan Singkat

  1. Wih, deskripsinya mantap. Setiap kata seolah punya nyawa. Apalagi penggambaran adegan yang intens.
    Kehilangan memang bisa membuat pertanyaan jadi terlalu penuh di kepala ya, Bro.

leave your thought

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s