Sebuah Wejangan

Selamat malam, nak luthfi

Apa kabarnya? Tentu masih hafal dengan saya, dong? Orang yang mencari nak luthfi saat KKN dulu. Ah, kalau tidak ingat pun seiring dengan tulisan ini nak luthfi juga akan tau siapa saya. Begini nak luthfi, kerjaan saya setelah KKN kemarin selesai adalah memantau mahasiswa-mahasiswa KKN saat kembali ke kehidupan asalnya. Saya mengertilah kehidupan di KKN memaksa kita untuk tidak jadi diri kita sebenarnya, walaupun perlahan namun pasti kejaiman kita pudar jua.

Saya tertarik dengan kesibukan mahasiswa saya, ada yang kembali sibuk mengurusi skripsi, ada yang pergi ke filipina, ada yang lolos PKM, ada yang membentuk kerja sama dengan gubernur, hingga pengulas musik indie internasional. Tapi yang saya salut dengan Rivanlee, kamu kenal kan nak luthfi? Itu lho orang yang terus menulis walaupun tulisannya tidak enak dibaca dan minim pengunjung. Tapi tidak apa-apa, ia terus semangat dengan keadaan seperti itu.

Sudah sebulan lebih saya memantau nak luthfi. Saya bisa simpulkan nak luthfi adalah orang yang ulet dan cekatan. Ini terlihat semenjak KKN nak luthfi pergi ke jakarta untuk mewawancarai band yang gak bisa nyanyi itu kan? Ulasan-ulasan mengenai band luar nak luthfi membuat saya pindah haluan dari aliran sunda menjadi british. Biasanya saya dengar tiap pagi Mojang Priangan, kini yang saya setel semacam Passion Pit, CHVRCES, dan apatuh satu lagi yang namanya mirip tepung beras? Oh iya itu sigurros band.

Saya banyak belajar dari mahasiswa saya sendiri tentang kehidupan negeri ini, dari jurnalistik, politik, hingga ilmu mistik batu giok. Hal-hal seperti itu membuat diri saya sadar bahwa saya hanya butiran upil. Dari nak luthfi saya bisa tahu mengenai banyak hal, kartun-kartun jepang, musik asik, dan politik. Lalu, saya temukan tanggapan nak luthfi tentang pernyataan Uda Yusuf mengenai kritik pedas terhadap mahasiswa. Tentu nak luthfi tau Uda Yusuf, ex Presiden KM ITB dan ex Sekjen PPI Belanda yang saya rasa tanpa media sosial pun orang-orang mengenalnya.

Dalam notes-nya, Uda Yusuf mengkritik sikap diam mahasiswa terhadap kejadian politik di negeri ini, mempertanyakan mahasiswa saat suara-suara mahasiswa dibutuhkan, demo yang kian hilang, bahkan menulis kritik gak mau. Segala keluh kesah Uda Yusuf terhadap mahasiswa, lantas nak luthfi tanggapi saat menaiki damri, kurang lebih nak luthfi bilang negara kita bukan dipimpin oleh seorang militir atau totaliter, tuntutan tugas mahasiswa yang segudang, ketakutan akan tidak dengarnya demo. Ketakutan ini nak luthfi contohkan dengan kasus KPK vs Polri yang berujung “kemenangan” Polri setelah perdebatan yang luar biasa. Selanjutnya nak luthfi berkata ingin turun ke jalan kalau ada kepastian nak luthfi menjadi orang kaya dan tenang memberi makan anak istri. Dari sini saya mengenal nak luthfi sebagai seorang visioner planner. Itu sebutan dari saya saja, sih.

Begini nak luthfi, walau kerjaan saya begini-begini saja, tapi saya peduli dengan keadaan sekitar. Terutama mahasiswa, karena mahasiswa ini adalah calon-calon penerus, pemimpin, dan pemaju bangsa. Di sinilah, peran mahasiswa itu sangatlah penting. Peran seperti advokasi, berpendapat, mengeluarkan kritik dengan tujuan menolong mereka yang tertindas.

Secara tersirat, nak luthfi mungkin ingin mengatakan unjuk rasa sudah tidak relevan di zaman sekarang. Ya betul. Ini tidak relevan. Tapi, hanya untuk orang yang hidupnya bebas dari ancaman. Ancaman pekerjaannya akan hilang, ancaman rumahnya akan digusur, dan ancaman akan kebutuhan masa depannya terpenuhi. Sekiranya ada waktu, coba nak luthfi tengok ke luar bahwa demo yang dilakukan bukan hanya di Jakarta melainkan di belahan Jawa Tengah sana, di Rembang, Ibu-ibu petani di sana sedang berjuang menolak pabrik semen. Ibu-ibu tersebut melakukan aksi sampai detik nak luthfi menyiratkan demo tidak relevan lho. fungsi lahan sebagai daya dukung dan tampung lingkungan pertanian ingin direnggut oleh pendirian pabrik semen. Dampaknya, jangka pendek dan jangka panjang. Jangka pendek, perubahan hidup petani menjadi buruh industri akan terjadi. Jangka panjang, para petani kehilangan lahan subur dan sumber air yang berlimpah. Ibu-ibu di sana masih menuntut keadilan walau tangan polisi telah menyentuh pipi salah seorang ibu. Bayangkan, ibu-ibu lho nak luthfi. Bukan pemuda yang seharinya nongkrong di sevel mengeluhkan tugas sampai bedug maghrib.

Saya jadi teringat materi kuliah saya dulu bahwa ada tahapan sebelum aksi sosial. Kalau saya tidak salah ingat, ada locality development, social planning, baru social action. Sebagai mahasiswa, atau yang sering orang bilang agen perubahan, aksi sosial adalah jalan terakhir untuk mengubah mandat pada institusi yang bergerak pada bidang kebijakan. Tujuannya, untuk memberdayakan yang miskin-dalam tekanan, diskriminasi, atau ketidakadilan-agar tidak hak-haknya tidak dirampas. Sederhananya, bentuk perlawanan untuk mencapai keadilan sosial.

Coba nak luthfi bayangkan, ketika ibu-ibu di rembang sana berjuang sendirian tanpa suara mahasiswa. Mahasiswa dianggap sebagai agen yang mampu kritis dan implementasi yang nyata. Oh ya, suara mahasiswa tidak hanya dalam bentuk demo di jalan saja, menyampaikan kritik, membantu menyebarkan berita, dan menulis. Loh kok menulis? Tentu nak luthfi tau, membantu orang diawali sikap simpati. Menulis adalah bentuk simpati terhadap ketidakadilan. Kalau nak luthfi ingat, rivanlee pernah bilang kalau menulis adalah bentuk kepedulian. Iya. Pram juga bilang seperti itu, jikalau kita tidak bisa turun ke jalan, kita bisa gunakan tulisan sebagai bentuk perlawanan kita, bukan menggeneralisir bahwa unjuk rasa sebagai hal yang kuno. Coba nak luthfi renungkan apa jadinya kalau mahasiswa yang turun ke jalan timpang dengan mahasiswa yang kongkow di kafe untuk segelas kopi dan sinyal wifi?

Nak luthfi yang baik, saya mengerti demo terkadang membuang waktu, saya pernah merasakannya, suara-suara hanya sampai ke depan pagar pembuat kebijakan saja, seolah demo hanya menjadi aksi sementara yang ketika demo itu usai, maka beres perkara. Memang pedih rasanya seperti itu nak luthfi. Kita dianggap tidak mengerti kebijakan, pahlawan kesiangan, dan kontrapemerintahan. Kalau sudah seperti itu apa harus diam? Bagi saya tidak nak luthfi. Suara-suara kita terus berteriak ketika kita tuliskan. Biarkan kritik yang kita tuliskan mencari jalannya sendiri.

Ya, kira-kira inilah tanggapan dari orang di antah berantah yang dididik sebagai orang yang tertindas dan pencari keadilan sejak kecil.

Sekian

Pak Asep
LPPM
Tasikmalaya, 20 Maret 2015
ditulis di atas mobil bak terbuka

Advertisements

5 thoughts on “Sebuah Wejangan

  1. Setuju, menuliskannya dan membuat semua orang tahu juga bisa jadi jalan membuka mata petinggi-petinggi yang ada di tempat nyamannya di atas sana, Mas :)). Menulis, dan demonstrasi yang tidak anarkis, bisa jadi cara-cara terbaik untuk mengutarakan pendapat :hehe.

  2. Itu nulis Wejangan pas mobil lagi jalan? di rekam ajja padhal, masukin ke soundcloud. Hehe.

    Jdi inget dulu pernah ikutan demo di gedung sate pas jd mahasiswa, seruu euy…

  3. Ketika masih jadi mahasiswa, mungkin selalu bersikap kritis dan mencari keadilan. Namun setelah jadi orang tua, yang udah punya beberapa tabungan, sepertinya setumpuk uang jadi tujuan. 😦

leave your thought

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s