Greentea adalah Koentji  

Kemarin-kemarin, Nutella telah berhasil mendobrak harga martabak naik berlipat-lipat melebihi harga sekilo cabe merah. Karena Nutella, di antara para pedagang martabak secara tidak langsung terbentuk pasar oligopoli. Alhasil, pasar martabak terjadi persaingan tidak sempurna. Hal ini yang membuat pedagang martabak khas depan Indomaret menurunkan plang bergambar tepung lantas menggantinya dengan gambar setoples coklat.

Tak ubahnya Nutella, Greentea pada makanan adalah koentji. Bayangkan saja, kenaikan makanan khas jajanan SD karena greentea lebih dari penguatan dolar terhadap rupiah. Rasa syukur sebesar-besarnya saya panjatkan masih merasakan seloyang kue cubit dengan harga dua ribu rupiah, dilalah seloyang kue cubit sekarang bisa menembus 35ribu rupiah. Kalau sudah gini, apalah arti swasembada beras?

Swasembada beras 2015 menjadi target Mas Joko disaat negeri ini masih mengimpor beras. Ini sama saja kayak suka sama cewe tapi cewenya suka sama yang lain. Ironi memang. Harapan-harapan swasembada lain juga muncul pada target Mas Joko seperti Swasembada Jagung 2016 dan swasembada kedelai 2017.

Padahal, tidak semua warga menjadikan nasi sebagai makanan pokoknya. Papua dengan sagunya, Nusa Tenggara dengan ubi jalarnya, dan Jakarta dengan greentea-nya. Mas Joko tidak melihat fenomena kekinian ini sebagai siasat lain mengakali swasembada beras yang dinilai akan berakhir retorika. Dengan ikut meningkatkan kualitas pangan lokal, tentu kita tidak perlu memaksakan diri dengan swasembada beras 2015.

Mas Joko ini perlu disadari dengan makanan-makanan kekinian supaya negeri ini memiliki banyak opsi untuk swasembada. Seperti es serut yang bisa dibentuk muka anjing, indomie kuah susu, dan kue cubit greentea. Oya, Mas, Fenomena greentea ini perlu dikabarkan juga ke menteri keuangan. Bagaimana tidak, seloyang kue cubit harganya sama dengan nasi padang dengan ayam, telur balado, serta es the manis, kalau beruntung sama senyuman mbaknya. Fenomena ini harus lebih disorot dibandingkan fenomena tahunan melemahnya rupiah terhadap dolar.

Tak bisa dipungkiri, kemunculan greentea ini menjadi pasar potensial bagi para pedagang. Para pedagang kue cubit keliling mulai mengusung kata ‘greentea’ di kaca gerobaknya di samping stiker rokok. Tapi, banyak pedagang yang menjual nama greentea namun meraciknya dengan daun pandan. Ini kampret binti kurang ngajar namanya.

Berita kenaikan permintaan terhadap greentea ini memang tidak sebesar kenaikan video goyang dribble duo serigala. Tapi coba bayangkan, jika duo serigala greentea goyang dribble? Bukan cuma jumlah view saja yang naik, melainkan hal kecil lain juga ikut naik. Trafik misalnya.

Kembali seperti Nutella, ramainya greentea akan membentuk pasar oligopoli. Dalam pasar Oligopoli, setiap warung makan yang ada di dalamnya akan bersaing. Persaingan harga maupun produk akan terjadi. Untuk persaingan harga, biasanya mereka akan menawarkan harga serendah mungkin atau bahkan memberikan potongan haga maupun hadiah supaya para konsumen tertarik untuk membeli produk yang kita tawarkan. Ah, maaf, ini saya kebanyakan makan nasi jadi sok serius gini.

Munculnya greentea di berbagai jenis makanan saya takutkan menjadi teror berkelanjutan. Dari cemilan modern seperti kitkat sampai cemilan tradisional kue cubit sudah digerayangi warna hijau. Saya tak bisa bayangkan, jika sambel kacang pada ketoprak diganti greentea. Ini namanya mendustakan nikmat Tuhan.

12 thoughts on “Greentea adalah Koentji  

  1. Hahahaha, green tea rasa pandan. Tergantung pembeli lah ya sekarang. Selama gak terjebak dengan pesona kekinian sih gw yakin masih selamat lah itu dompet.. Wkwkwkwwk.

  2. Greentea pandannya bikin ngakak Bro :haha. Jackpot banget kalau sampai dapat kue cubit greentea yang akhirnya rasa pandan :haha.
    Tapi saya bangga, sampai sekarang belum pernah makan kue cubit greentea, jadi saya antimainstream.
    atauharganyaterlalumahaldansayatidakbisabelihiks

  3. Asli ih dimana-mana greentea, dan saya gak suka. Tapi orang2 entah kenapa tiba2 mendadak jadi green tea lovers.
    Di Bandung, yang beginian mah kadang suka selewat, yang paling enak dan bisa bertahan aja yang akan lama jualan, sisanya ya gudbay aja gak bisa bersaing. Hmmm sama kaya waktu ngetrend keripik pedes gitu, heee.

anotasi

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s