Unpad, antara Jatinangor dan Bandung

Mengakui bahwa Unpad Jatinangor adalah bagian dari Bandung sama saja seperti orang Depok yang ­ngaku-ngaku orang Jakarta.

Terpaut 30km dari Kota Bandung, Unpad Jatinangor bisa dibilang lebih aktif ketimbang yang di Bandung. Bagaimana tidak, seluruh fakultas sebagian besar ada di Jatinangor, sedangkan dua fakultas terpisah di Bandung. Namun, perbedaan yang cukup signifikan terlihat antara keduanya.

Jatinangor terletak di dekat perbatasan antara Sumedang dan Kabupaten Bandung. Maka tak heran, ketika mahasiswa Unpad Jatinangor dengan jumawa menyebut kuliah di Bandung ketimbang Sumedang. Dugaan saya, penyebutan Bandung ini lebih menarik daripada Sumedang karena Bandung terkenal dengan wanita yang geulis sedangkan Sumedang terkenal dengan tahunya keindahan gunungnya. Karena wilayahnya di antara Gunung Geulis dan Gunung Manglayang menyebabkan Unpad Jatinangor lebih sering dilewati truk gandeng daripada cewek geulis yang sering pake celana adiknya.

Dua tahun setengah, saya rasa cukup untuk mendeskripsikan Unpad serta mahasiswanya dengan segala keunikannya. Kalau orang bilang, Unpad adalah produsen wanita-wanita cantik. Ya, benar, Unpad Bandung. Lihat saja, Donna Agnesia, Meisya Siregar, serta Wiwid Gunawan. Unpad Jatinangor juga, kok. Jembatannya. Jembatan baru yang memperpendek dengan pintu gerbang utama lama hanya 50 meter ini digadang-gadang menjadi ikon bagi Unpad Jatinangor. Pasalnya, ketika melewati jembatan ini kita akan disambut gedung rektorat yang megah seperti Gelora Bung Karno. Rektorat inilah yang menyatukan mahasiswa Unpad Bandung dan Jatinangor karena pengurusan seluruh administrasi berada di sini.

Selain wanita, hal pembeda lain antara Unpad regional Bandung dan Jatinangor adalah aktivitas mahasiswanya. Saya bisa bilang, keaktifan mahasiswa kampus jatinangor nomor satu dibandung kampus Bandung. Kegiatan unjuk rasa dari BEM maupun organisasi di sekitar Unpad lebih sering disuarakan di sini, dengan lokasi pangkalan damri atau gerbang lama, mahasiswa berorasi menjadi oposisi. Berbeda dengan kampus Bandung, cenderung adem ayem, naluri untuk jajan lebih besar ketimbang berorasi.

Aktivitas unjuk rasa ini, masih bisa saya lihat sampai saya menulis ini. Di depan Taman Loji, sekelompok anggota HTI melakukan unjuk rasa walaupun hanya membentangkan spanduk dan mengibarkan bendera tanpa teriakan  mewarnai perjalanan kuliah saya setiap berangkat. Unjuk rasa ini kerap tidak diwaro orang-orang, sebab mahasiswa seperti saya yang berangkat lima menit sebelum jam kuliah selalu gas penuh motor saya dan menyiasati bagaimana sampai di kelas tepat waktu tanpa lihat kiri kanan.

Jatinangor adalah pemukiman padat penduduk pendatang. Penduduk pendatang yang mayoritas mahasiswa ini bisa menutupi jumlah penduduk pribumi sendiri. Jatinangor hampir mirip seperti Jakarta, banyaknya pendatang dari beda suku maupun budaya menyebabkan budaya asal hampir tergilas. Jatinangor sedang melangkah maju, lebih dari 2 apartment sudah resmi berdiri dan beberapa apartment sedang tahap pembangunan. Juga berbagai warung retail, franchise, atau restoran khas kota pun sudah mulai bermunculan. Jatinangor selayaknya anak desa yang kecemplung di mal.

Berbeda dengan Bandung, ia seperti anak remaja yang sudah boleh dilepas orang tuanya. Segala pilihan warung makan dari ukuran supir angkot hingga eksekutif muda tersebar di penjuru kota. Lokasi kampus yang di bagian pusat kota ini, jarang membuat mahasiswanya melihat keadaan sekitar. Sialnya, saya (mahasiswa nangor) lebih sering melihat keadaan sekitar (kampus) Bandung. Ini tidak adil.

Di dunia kuliner, Bandung maupun Jatinangor, banyak keajaiban. Jatinangor kaya akan warung makan yang abangnya mampu melek 24 jam tanpa tutup dan menyediakan layanan pesan antar. Bandung memang banyak pilihan makanan tapi tidak ada warung makan yang abangnya melek 24 jam tanpa tutup.

Terlepas dari perbandingan-perbandingan yang ada, bagi saya, Unpad Bandung dan Jatinangor adalah satu kesatuan walaupun disatukan oleh travel.. Unpad adalah tempat belajar. Belajar tentang kedewasaan menjadi mahasiswa perantauan, tentang dosen yang jarang masuk, tentang mata kuliah yang diulang, dan tentang mencintaimu dari jauh.

7 thoughts on “Unpad, antara Jatinangor dan Bandung

  1. Kamu selalu dapat kata-kata yang indah dan mengena untuk mendeskripsikan sesuatu, Bro. Antara baru tahu dan senyum-senyum saya ketika membaca tulisanmu ini. Bravo!
    Unpad Jatinangor… saya sudah pernah lewat. Memang daerah kampus ya, ada IPDN juga kan di sana. Sebagaimana daerah kampus… maka pemukiman dan kos-kosan pun berkembang. Semoga saja harganya tidak terlalu melangit sehingga masih bisa dijangkau :)).

  2. Bukan nya Jatinangor udah masuk Sumedang ya? hmmm
    Kata temen saya yang kuliah di Bandung, wanita yang geulis2nya juga Imporan dari Jakarta dan daerah lain nya juga toh, haha

    Yang terakhir kaya nya ngena banget dah, Mata Kuliah yang diulang, wkwkwk

  3. Makasih Van sudah diceritain soal Jatinangor dan Bandung ini. Hihihihi… Gw pikir teh sama smuanya. Sama-sama di Bandung karena di pikiran gw Jatinangor tuh ya paling cuma 15 menitan dariBandung. 😀

  4. Jatinangor di manaaaa aku pun tak tahu. Huahahah.. 😀

    Ngga ada foto-fotonya, Van? Aku jadi penasaran. Kalok gugling malah yang terekspos yang laen. :/

anotasi

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s