Memaknai Mahasiswa

2011, saya menganggapnya sebagai tahun pengasingan. Definisi pengasingan saya tentu tidak sepedih Pram yang dengan alasan tidak jelas di”buang” ke Buru oleh rezim kala itu. Saya menghabiskan setengah tahun 2011 di Unsoed, Purwokerto, tempat di mana saya mengerti bahwa tidak semua tempat di Jawa riuh dengan kehidupan. 2011 merupakan tahun di mana saya merasa kehidupan sangat monoton. Kuliah, pulang, makan, tidur di kosan. Padahal, kegiatan seperti itu dulu sangat saya inginkan, memang awalnya menyenangkan tapi lama kelamaan memuakkan. Tanpa sadar, saya merasa seperti narapidana yang menjelma jadi mahasiswa.

Di tengah jalan cerita dalam Jejak Langkah, Pram menuliskan “tak mungkin orang dapat mencintai negeri dan bangsanya, kalau orang tak mengenal kertas-kertas tentangnya. Kalau dia tak mengenal sejarahnya. Apalagi kalau tak pernah berbuat sesuatu kebajikan untuknya”. Pram ingin menyerukan pesan bahwa hal kecil yang bermanfaat bagi sekitar lebih baik dilakukan ketimbang mengurung diri di kamar.

Medio 2012, Poros Jakarta-Purwokerto-Jatinangor berhasil tak sengaja terbuat. Saya bergabung menjadi bagian dari mahasiswa Unpad. Tanah Sunda tempat saya harus beradaptasi lagi dengan budaya baru. Saya kerap mempertanyakan status saya sebagai mahasiswa. Apa yang akan saya lakukan untuk sekitar? Bagaimana saya melakukannya? Kapan? Belum mulai perkuliahan, hidup saya seolah ditagih debt collector.

Seorang teman pernah berujar, bergabunglah dengan organisasi kemahasiswaan lalu melakukan demo. Ia sendiri mengakui dirinya sebagai aktivis. Kadang-kadang, ia mempertanyakan kontribusi untuk negara kepada mahasiswa. Mungkin ia benar, kontribusi kita sebagai mahasiswa selalu dibutuhkan. Mungkin juga salah, bahwasanya bentuk kontribusi tidak melulu diterjemahkan dalam aksi unjuk rasa, melainkan banyak cara untuk memuliakan sekitar.

saya bukan seorang pemberani. Kepercayaan akan diri sendiri saja hampir punah. Tetapi saya selalu berpikir bagaimana membuat masa kuliah tidak berujung dengan ongkang-ongkang kaki di kosan, main handphone, dan menghabiskan uang orang tua.

Saya kira hidup bukanlah menjadi denial pada keadaan sekitar. Manusia mampu hidup lebih berarti daripada itu.

Jatinangor bagi saya bagai seorang anak yang dewasa sebelum waktunya. Ia terlalu dini ditempa pembangunan dan teknologi yang semakin terdepan. Singkat cerita, Jatinangor kini telah di pintu kemajuan. Namun, apalah arti pembangunan jika melupakan nilai-nilai kemanusiaan? Kerapkali, pembangunan yang ada hanya melenakan warganya. Naasnya, sebagian mahasiswa menjadi garda terdepan dalam impulsivitas. Sedangkan, pribuminya lebih dianggap sebagai budak bagi warga pendatang. Saya rasa, saya perlu menyiapkan malam untuk berkontemplasi. Lalu bertanya perihal kehidupan kita di kota seberang, apakah memberikan sesuatu yang berarti bagi sekitar?

Pelan-pelan, saya memikirkan apa yang mampu saya buat dengan segala kekurangan dan kelemahan. Sampai saya memutuskan untuk bergabung dengan Jatinangor Education Care, sebuah lembaga independen yang bergerak dan peduli di bidang pendidikan di Jatinangor. Awalnya saya berpikir bahwa tidak ada yang salah dari pendidikan di Jatinangor ketika daerah ini menyandang kawasan pendidikan.

Dugaan saya salah, Jatinangor krisis pendidikan berkualitas. Saya berkesempatan mengajar bahasa inggris untuk SD. selayaknya sekolah dasar, penuh tawa, canda, seolah saya diajak kembali ke masa di mana kegetiran itu tidak ada.  Sempat satu waktu saya bertanya kepada satu murid perihal cita-citanya, lantas ia menjawab “saya ingin jadi supir truk, kak”.

Apakah ada yang salah? Tidak. Saya khawatirkan mereka hanya mengenal harapan sampai situ saja, sedang saya, mahasiswa, ketika mendengarnya pun saya tidak sempat kepikiran hal tersebut menjadi cita-citanya.

ini ironi. kawasan pendidikan yang disandang oleh Jatinangor tidak sebanding dengan apa yang terjadi di dalamnya. lebih jauh, hal ini tidak akan diketahui banyak orang ketika kita tidak terjun ke dalam lingkungannya. kesadaran akan hal sekitar membuat saya sadar bahwa banyak orang di luar sana butuh pertolongan. membuat saya berpikir dua kali untuk mengeluh.

Jatinangor memang dipintu kemajuan dengan segala pembangunan yang kian padat, rupanya ada borok yang tidak terlihat.  dibalik megahnya apartment bertingkat, permintaan restoran cepat saji yang tinggi, serta mahasiswanya yang cerdas. Tapi, pernahkah kita berpikir tentang anak-anak putus sekolah atau anak-anak menghabiskan waktu bermainnya untuk berjualan?

terjun ke dalam komunitas adalah salah satu cara terbaik dalam memaknai mahasiswa. sebagai agen yang kerap ditanyai gerakan dan perubahannya. Mungkin, Jatinangor Education Care adalah satu dari sekian gerakan mahasiswa yang peduli tentang pendidikan atau komunitas yang peduli pada bidang lain. Lebih dari itu, bagi saya, bergabung dengan komunitas sosial adalah bentuk kepedulian. Bergabung dengan komunitas adalah momen berkaca diri, merenung, dan mungkin cara untuk membahagiakan orang banyak.

Advertisements

5 thoughts on “Memaknai Mahasiswa

  1. Semua yang terjadi pasti punya hikmah dan punya suatu maksud ya, Mas Rivan. Setuju banget, di Purwokerto kita belajar buat tenang… :hehe.
    Yah, ketimpangan itu jamak terjadi di negeri ini, tak hanya di daerah pendidikan, tapi juga di daerah wisata. Semoga semakin banyak anak muda yang seperti Mas yang mau bergerak untuk menyamakan ketimpangan itu :)).

  2. Status saya masih Kunang-kunang atau Kubu-Kubu, Kuliah Nangkring Kuliah Nangkring atau Kuliah Bultang Kuliah Bultang.. Awalnya sih ikut HMI tapi kelihatannya HMI tidak cocok dengan jiwa saya… ah, saya mulai malu dengan status Kemahasiswaan saya.

  3. Waktu masih kuliah aku ngga terlalu suka ikut organisasi.. Karena males aja. Hahah.. 😀 Mikirnya gimana bisa kuliah dengan baik.. Tipikal mahasiswa nerd.

  4. Jaman kuliah saya hobinya rapat. Jadi bisa disebut kura-kura (kuliah rapat kuliah rapat) tapi dari situ saya mengeluarkan kejenuhan kuliah, dari situ juga saya belajar berinteraksi dengan banyak orang dan kepala, sampe akhirnya saya mulai terbiasa untuk kerjasama sama orang. Alhamdulillah sih, ilmunya kepake 🙂

leave your thought

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s