Surat Untuk Ibu-Ibu Petani di Rembang

“Perjuanganku lebih mudah karena mengusir penjajah, tapi perjuanganmu akan lebih sulit karena melawan bangsamu sendiri.” – Bung Karno

Saya tidak pernah berpikir jauh dalam mengartikan kutipan Bung Karno tersebut. Saya pikir melawan bangsa sendiri yang dimaksud hanyalah melawan korupsi, melawan kejahatan, atau segala hal tentang kontrapemerintahan. ternyata ada kealpaan dalam diri saya, melawan ketidakadilan dan penindasan juga termasuk yang harus dilawan. Ketidakadilan dan penindasan ialah hal terpedih yang diterima oleh manusia. Ia pelan-pelan menggerogoti harkat serta martabat sebagai manusia, lalu perlahan, wuzz, penindasan dan ketidakadila membuat kita tidak dianggap lagi kita sebagai manusia.

 Untuk Ibu-Ibu Rembang Tersayang,

Sugeng ndalu, bu
Pripun kabare? Moga apik-apik wae

Hari ini, saya merasakan getaran hati yang teramat sangat mengetahui ibu-ibu berkebaya dan berkonde berdiri panas-panasan di depan istana hanya untuk bersuara dengan asa yang ibu bawa lebih banyak dari bekal makan dalam rantang, dengan semangat membela tanah air sendiri yang lebih tinggi dibanding bendera yang berkibar di atas tiang istana.

9 ibu-ibu dalam aksi kamisan foto didapat dari @waraaninditari
ibu-ibu perwakilan petani Rembang dalam aksi kamisan
foto didapat dari @waraaninditari
ibu-ibu melakukan tabuh lesung di Aksi Kamisan foto didapat dari @waraaninditari
ibu-ibu melakukan tabuh lesung di Aksi Kamisan
foto didapat dari @waraaninditari

Ibu Sukinah, Ibu Murwati, Ibu Rusmi, Ibu Surani, Ibu Gunarti, Ibu Ngatemi, Ibu Giyem, Ibu Suyati, dan Ibu-ibu petani di Rembang, mohon maaf, sebelumnya saya belum kenal dan hanya tahu nama ibu dari media. Tapi, saya yakin ketidakkenalan kita satu sama lain akan disatukan oleh rasa kemanusiaan.

Entah kenapa ketika mendengar berita tentang penindasan seorang ibu, hati saya langsung terketuk, kalau orang sekarang bilang, baper, Bu, bawa perasaan. Tidak lain karena saya selalu membayangkan bagaimana jika penindasan tersebut terjadi pada ibu saya. Lantas saya berpikir seribu kali bagaimana membuat ibu saya aman, tenang, dan tidak mendapat masalah, selebihnya saya berdoa untuk kesehatan dan keselamatan beliau.

Kekaguman saya akan ibu sudah di puncak tertinggi kekaguman saya pada sebuah perjuangan. Bagi saya, ibu bukan hanya melawan tirani korporasi melainkan juga sekaligus menyadarkan mereka yang tidak mengerti, mereka yang tidak peduli, mereka yang hanya memikirkan bagaimana nasi tiba ke perut sendiri.

Ibu-ibu yang tabah, mereka, bu, orang-orang yang kepalang biadab yang lebih memilih tambang ketimbang lumbung padi, tidak sadar bahwa manusia hidup berdampingan dengan alam. Mereka tidak berpikir tentang kegelisahan perut bumi yang selalu dikoyak, tentang masyarakat di sekitar yang bergantung kehidupannya pada tanah dan air.

Ibu, jujur, saya tidak mampu setegar ibu, hidup di tenda, melantunkan doa-doa sepanjang malam, dan terus memperjuangkan hak-hak selama lebih dari 300 hari apalagi setelah mendapat pukulan dari polisi. Aduh, bu, saya membayangkannya saja ngilu. Semoga ibu diberi kekuatan, semoga polisi segera tersadarkan.

Perjuangan ibu-ibu ke ibukota untuk bersuara adalah perjuangan yang lebih besar daripada partai yang memperjuangkan calon presiden. Mereka tak merasakan tanahnya tiba-tiba dicuri, mereka tidak merasakan sumber kehidupannya direnggut paksa

Ibu, saya doakan sebuah kemenangan manis pada sidang nanti. Karena saya yakin manusia dengan beragam rupa memiliki perhatian besar atas ketidakadilan dan tidak akan diam saja ketika penindasan dilakukan. Orang macam apa yang tega mengabaikan perjuangan ibu-ibu yang berjuang untuk mempertahankan tanah airnya sendiri?

Demikianlah surat yang berisi kekaguman, dorongan semangat, dan sebuah surat yang menandakan bahwa ibu tidak berjuang sendiri. Semoga ibu selalu dikuatkan, semoga ibu selalu diberi ketabahan.

selamat berjuang ibu,
ibu bersama kami,
anak satu bangsamu.

Salam sayang,

Rivanlee

dibacakan oleh perwakilan dari KontraS di depan sembilan ibu dari petani rembang dan khalayak ramai dalam acara Seni Untuk Kendeng yang diadakan tanggal 10 April 2015 di KontraS, Menteng, Jakarta Pusat.

4 thoughts on “Surat Untuk Ibu-Ibu Petani di Rembang

  1. Terharu :’)). Semoga perjuangan Kamisan mereka mendapat hadiah yang sepadan. Semoga semua eksploitasi mengatasnamakan komersialitas ini berakhir. Biarkan mereka hidup dengan tenang, karena mereka tidak pernah mengganggu, jadi jangan ganggu mereka :huhu.

anotasi

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s